Takut Ketinggalan Cuan: Ketika FOMO Mengambil Alih Keputusan Investasi

Saya merupakan Mahasiswa Manajemen dari Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Adinda Choirunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah melihat teman memposting keuntungan dari saham atau investasi di media sosial, lalu tiba-tiba muncul keinginan untuk ikut berinvestasi? Awalnya mungkin hanya melihat-lihat. Namun, setelah melihat orang lain mendapatkan keuntungan, mulai muncul pikiran, “Kenapa aku belum ikut?” atau “Kalau ikut sekarang, mungkin masih bisa dapat cuan.”

Situasi seperti ini semakin mudah terjadi ketika informasi investasi memenuhi media sosial. Satu unggahan keuntungan dapat memicu rasa penasaran, lalu berkembang menjadi keinginan untuk ikut. Menurut saya, di sinilah FOMO atau Fear of Missing Out perlu diperhatikan. Keinginan mendapatkan keuntungan memang wajar, tetapi jangan sampai rasa takut tertinggal membuat seseorang mengambil keputusan tanpa memahami apa yang sedang dibeli.
Ketika Cuan Orang Lain Terlihat Lebih Menarik
Media sosial semakin memudahkan kita mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Dalam hal investasi, kita bisa melihat seseorang membagikan keuntungan yang diperolehnya, membahas saham yang sedang naik, atau menceritakan pengalaman mendapatkan cuan dari suatu investasi.
Masalahnya, yang sering kita lihat hanya hasil akhirnya. Kita melihat keuntungannya, tetapi belum tentu mengetahui berapa modal yang dikeluarkan, berapa lama prosesnya, atau apakah orang tersebut sebelumnya pernah mengalami kerugian.
Hal ini bisa membuat investasi terlihat lebih mudah daripada kenyataannya. Akhirnya, seseorang merasa harus ikut sebelum kesempatan tersebut hilang. Padahal, kondisi keuangan dan kemampuan setiap orang berbeda.
Penelitian Armeyanti, Umyana, dan Karpriana pada 2025 menunjukkan bahwa FOMO dan social media influencer berpengaruh positif terhadap keputusan investasi. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya literasi keuangan agar generasi muda tidak sekadar mengikuti tren ketika mengambil keputusan investasi.
Menurut saya, di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Saya ingin berinvestasi karena memang sudah memahami investasinya atau hanya karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan?”
Bukan Karena Paham, tetapi Karena Takut Ketinggalan
Dalam perilaku keuangan, keputusan seseorang tidak selalu hanya dipengaruhi oleh perhitungan yang rasional. Ada faktor psikologis dan emosi yang ikut berperan. FOMO menjadi salah satu contoh ketika perasaan dapat memengaruhi keputusan keuangan.
Misalnya, ketika suatu saham sedang ramai dibicarakan dan banyak orang mengatakan bahwa harganya akan naik, seseorang bisa merasa harus segera membeli. Bukan karena sudah melakukan analisis, tetapi karena takut harga semakin tinggi dan dirinya kehilangan kesempatan.
Padahal, investasi tidak harus dilakukan hanya karena sedang ramai. Ketika seseorang membeli sesuatu yang belum dipahami, risiko yang dihadapi juga menjadi lebih besar.
Hal tersebut terlihat dalam penelitian Rachman dan Purwaningrum pada 2025 mengenai keputusan investasi saham IPO. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa FOMO yang dipicu oleh tekanan sosial dan penyebaran informasi melalui media sosial dapat mendorong investor mengambil keputusan secara impulsif.
Menurut saya, mendapatkan informasi dari teman, komunitas, atau media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Justru informasi tersebut dapat membantu kita mengenal dunia investasi. Namun, informasi seharusnya menjadi bahan pertimbangan, bukan alasan untuk langsung mengikuti keputusan orang lain.
Ketika Semua Orang Ikut, Apakah Berarti Benar?
Ada kondisi ketika seseorang mengambil keputusan karena melihat banyak orang melakukan hal yang sama. Kalau teman-teman membeli saham, kita ikut membelinya. Kalau banyak orang membicarakan investasi tertentu, kita merasa investasi itu pasti bagus.
Perilaku seperti ini dapat dikaitkan dengan herding, yaitu kecenderungan mengikuti tindakan orang lain dalam mengambil keputusan. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat semakin kuat ketika pasar sedang ramai dan dipenuhi rasa optimis atau euforia.
Penelitian Budiman, Ong, dan Yuwono pada 2025 menemukan bahwa herding menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keputusan investasi investor di Indonesia. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya peran FOMO dalam hubungan antara bias psikologis dan keputusan investasi.
Artinya, banyaknya orang yang melakukan sesuatu belum tentu membuat keputusan tersebut benar untuk kita. Setiap orang memiliki tujuan investasi, kondisi keuangan, dan kemampuan menghadapi risiko yang berbeda.
Karena itu, kalimat “semua orang juga investasi di sana” bukan alasan yang cukup untuk mengambil keputusan. Dalam berinvestasi, kita tetap harus memiliki alasan sendiri.
Jangan Sampai Mengejar Cuan, tetapi Kehilangan Pertimbangan
FOMO tidak hanya bisa terjadi ketika harga sedang naik. Ketika harga tiba-tiba turun, seseorang yang sebelumnya membeli karena ikut-ikutan bisa merasa panik. Rasa takut mengalami kerugian akhirnya membuat keputusan kembali diambil berdasarkan emosi.
Di sinilah pentingnya memiliki rencana sebelum berinvestasi. Kita perlu mengetahui tujuan investasi, memahami instrumen yang dipilih, dan mengetahui risiko yang mungkin terjadi. Dengan begitu, ketika kondisi pasar berubah, kita tidak mudah terbawa suasana.
Menurut saya, menjadi investor bukan berarti harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai. Tidak masalah jika tidak membeli sesuatu yang sedang banyak dibicarakan. Tidak semua kesempatan harus kita ambil, apalagi jika kita belum memahami risikonya.
Investasi Bukan Perlombaan
Pada akhirnya, investasi bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mendapatkan cuan. Kita tidak perlu merasa gagal hanya karena orang lain sudah mendapatkan keuntungan lebih dulu.
Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita. Teman mungkin memiliki kondisi keuangan, tujuan, dan kemampuan menghadapi risiko yang berbeda. Karena itu, membandingkan hasil investasi diri sendiri dengan orang lain justru dapat membuat kita mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan kondisi sendiri.
Media sosial boleh menjadi tempat untuk mencari informasi dan belajar tentang investasi. Namun, keputusan akhirnya tetap harus dipikirkan dengan baik. Sebelum ikut membeli, kita perlu bertanya: apa yang dibeli, mengapa membelinya, dan apakah siap dengan risikonya?
Menurut saya, FOMO memang sulit untuk sepenuhnya dihindari. Rasa ingin ikut ketika melihat orang lain mendapatkan keuntungan adalah hal yang wajar. Yang penting adalah bagaimana kita mengendalikan rasa tersebut agar tidak mengambil alih keputusan.
Karena pada akhirnya, investasi bukan hanya tentang seberapa besar cuan yang bisa kita dapat, tetapi juga tentang seberapa matang kita memahami keputusan yang kita ambil. Jangan sampai takut ketinggalan cuan justru membuat kita kehilangan pertimbangan.
