Konten dari Pengguna

Gangguan Kesehatan Mental Akibat Perceraian

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari adindahamda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambar. Foto: Adinda Ahadia Hamda
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar. Foto: Adinda Ahadia Hamda

Pernikahan adalah suatu perjanjian antara laki-laki dan perempuan. Dalam Islam Pernikahan merupakan suatu ibadah yang diridhoi oleh Allah untuk meyempurnakan agama. Dalam pernikahan tidak ada satupun yang ingin mengalami perceraian, perceraian bukan merupakan tujuan dalam pernikahan. Namun apabila suatu masalah telah muncul dalam rumah tangga dan hanya perceraianlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah tersebut, mau tidak mau itu semua harus dihadapi. Seperti yang sudah termaktub dalam Undang-Undang perkawinan pasal 39 ayat (2) “untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri”.

Kita semua pasti mengetahui dampak apa yang akan terdampak akibat perceraian, terlebih gangguan kesehatan mental bagi kedua belah pihak, tidak hanya bagi istri, suami, akan tetapi pengaruh perceraian ini akan berdampak pada anak-anak mereka.

Lalu, dampak seperti apa yang di alami oleh korban perceraian ?

Mari simak pembahasan di bawah ini!

Perceraian akan menimbulkan banyak pengaruh negatif, seperti trauma, rasa cemas dan takut yang berlebih, stres yang berkepanjangan, depresi, dan juga akan berpengaruh kepada sistem kekebalan tubuh. Perceraian sering kali menyebabkan seseorang merasa gagal dalam membina rumah tangganya, ia akan merasa tidak tenang terhadap apa yang ia jalani, hal demikian yang akan membuat kesehatan mental seseorang terganggu. Ia akan lebih sering mengurung diri, diam, cemas, dan nafsu makan menurun. Kondisi demikian pula yang bisa memicu stres yang berkepanjangan.

Umumnya perceraian ini akan lebih banyak berdampak kepada sang anak, seorang anak yang orang tuanya bercerai akan mengalami kesedihan, kekecewaan, lebih menutup dirinya untuk terbuka kepada orang lain bahkan orang tuanya sendiri, (trust issue) kepada keluarga, dan merasa dirinya kurang akan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal tersebut juga bisa memengaruhi kepada pergaulan sang anak, terlebih jika seorang anak tersebut mengalami depresi, ia akan melakukan hal-hal semaunya, ia akan melakukan apapun yang seharusnya tidak ia lakukan, karena pengontrolan dari kedua orang tuanya tidak terkontrol dengan maksimal. Namun siapa sangka tidak sedikit akibat dari perceraian ini berdampak positif terhadap kehidupan sang anak, banyak diantara mereka yang menjadikan perceraian kedua orang tuanya sebagai pemicu untuk lebih tangguh lagi dalam menghadapi kehidupan, menjadikannya sebagai bahan untuk belajar mandiri tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya, menjadikannya bahan untuk belajar lebih giat lagi agar bisa membuktikan kepada orang tuanya bahwa mereka bisa.

NZ, adalah satu dari sekian banyaknya korban anak (broken home) yang berasal dari Depok mengatakan, “Saya adalah korban (broken home) pada usia saya beranjak 11 tahun, saat itu saya belum mengerti apa itu perceraian, namun perlahan saya paham, pengaruh perceraian sangat berdampak ke kehidupan saya, saya merasa orang tua saya sibuk dengan urusannya masing-masing, lalu saya melampiaskan nya dengan cara melakukan hal-hal baru yang seharusnya tidak saya lakukan, semua itu semata-mata karena saya merasa kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua saya. Namun saya pun banyak mengambil pelajaran terkait perceraian dari kedua orang tua saya, bahwa menikah itu bukan hanya di lihat dari segi finansial saja yang cukup, akan tetapi mental pun harus cukup”

Sedikit mengulas tentang (broken home), ternyata (broken home) bukanlah hanya berupa perceraian. (Broken home) juga termasuk ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga. Yakni berupa pertengkaran terus-menerus, tidak adanya kasih sayang antar individu yang berpasangan, anak-anak merasa kekurangan kasih sayang, dsb. Meski begitu kebanyakan pemahaman di masyarakat sekitar (broken home) adalah perceraian. Ya, bisa dibilang penyebab terjadinya perceraian yang berujung pada penyebab terganggunya kesehatan mental baik istri maupun anak.

Dalam menghadapi kesehatan mental terhadap anak orang tua harus lebih hati-hati, karena apabila di biarkan akan berakibat fatal. Berikut beberapa cara untuk mengurangi dampak psikologis pada anak akibat perceraian:

  1. Hindari pertengkaran di hadapan anak. Ini dapat menimbulkan banyak akibat. Terutama rasa trauma atau bahkan menjadi contoh untuk masa depannya.

  2. Tempatkan anak di tempat terbuka. Seperti luar ruangan. Agar anak-anak merasa lebih nyaman bersosialisasi tanpa ada rasa takut dan ragu.

  3. Ajarkan anak untuk menerima sebuah keadaan. Dimulai dari cara menghadapi masalah dengan teman, berinteraksi dengan banyak orang, bereksplorasi dengan lingkungan.

  4. Menjaga kestabilan pola makan, waktu istirahat, imun tubuh dan fokusnya tentang dunia anak-anak

Perceraian memang bisa digunakan untuk sebuah solusi bagi rumah tangga yang sudah tidak bisa di perbaiki lagi, akan tetapi dari perceraian juga yang akan memberikan banyak pengaruh negatif bagi korban perceraian. Maka dari itu, persiapkan mental yang cukup sebelum menikah, persiapkan se matang mungkin agar bisa dan kuat menghadapi badai badai dalam hubungan rumah tangga.