Kumparan Logo

Anak Mengalami Ruam setelah Minum Vitamin? Kenali Bedanya Alergi dan Keracunan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Alergi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Alergi Foto: Shutterstock

Ketika anak mengalami ruam, muntah, atau diare setelah mengonsumsi vitamin, orang tua mungkin langsung khawatir si kecil mengalami alergi atau keracunan.

Kekhawatiran tersebut bisa semakin besar jika vitamin yang dikonsumsi ternyata dicurigai palsu. Namun, alergi dan keracunan merupakan dua kondisi yang berbeda, meskipun beberapa gejalanya bisa serupa.

Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan bahwa alergi merupakan reaksi sistem imun terhadap bahan tertentu, sedangkan keracunan berkaitan dengan paparan zat berbahaya atau dosis berlebihan.

Apa Perbedaan Gejala Alergi dan Keracunan?

Ilustrasi anak sakit. Foto: Yaoinlove/Shutterstock

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap bahan tertentu. Gejalanya dapat berupa gatal, biduran, ruam, pembengkakan pada bibir atau wajah, hingga sesak napas.

Sementara itu, keracunan dapat menimbulkan gejala berupa mual, muntah, sakit perut, diare, lemas, hingga gangguan kesadaran.

dr. Aisya menjelaskan bahwa kedua kondisi tersebut bisa memiliki gejala yang mirip sehingga tidak bisa dipastikan hanya dari tanda-tanda yang terlihat.

“Alergi adalah reaksi sistem imun terhadap bahan tertentu. Gejalanya khas berupa gatal, biduran, ruam, bengkak pada bibir atau wajah, hingga sesak napas,” jelas dr. Aisya saat dihubungi kumparanMOM, Minggu (11/10).

Pada vitamin palsu, kandungan yang tidak diketahui secara pasti membuat risiko kesehatannya sulit diprediksi. Karena itu, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami alergi atau keracunan hanya berdasarkan gejala yang muncul.

Selain itu menurut dr. Aisya, vitamin palsu tidak otomatis menyebabkan alergi.

“Vitamin palsu tidak otomatis menyebabkan alergi, ya. Alergi merupakan reaksi imun terhadap bahan tertentu, ditandai gatal, biduran, bengkak, hingga sesak napas,” ungkapnya.

Karena kandungan vitamin palsu belum tentu sesuai dengan informasi pada kemasan, keamanan produk tersebut tidak bisa dipastikan. Gejala yang muncul pun perlu dinilai lebih lanjut oleh tenaga medis.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Ilustrasi dokter anak. Foto: Dragon Images/Shutterstock

Jika vitamin yang dikonsumsi anak dicurigai palsu, segera hentikan penggunaannya, meskipun anak belum menunjukkan gejala.

Perhatikan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan dokter jika anak sudah telanjur mengonsumsi produk tersebut, terutama jika konsumsinya berlangsung berulang kali.

Apabila anak mengalami sesak napas, kejang, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan medis.

Orang tua juga sebaiknya menyimpan kemasan dan sisa produk untuk membantu dokter melakukan penilaian lebih lanjut.

Untuk mencegah risiko serupa, pastikan vitamin anak dibeli dari sumber resmi dan memiliki izin edar BPOM. Pemberian vitamin pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan anjuran tenaga kesehatan.