Kumparan Logo

Dokter: Paparan Asap Karhutla Bisa Turunkan Fungsi Paru Anak, Ini Penjelasannya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma membuat udara berkabut atau berbau. Paparannya juga dapat berdampak pada kesehatan dan fungsi paru, termasuk pada anak.

Dokter Spesialis Anak, sekaligus expert kumparanMOM, dr. Aisya Fikritama, Sp.A menjelaskan, salah satu yang perlu diperhatikan adalah partikulat halus atau PM2.5 yang terdapat dalam asap karhutla. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu peradangan serta stres oksidatif pada paru.

Pada anak, dampak ini perlu lebih diperhatikan karena paru-parunya masih dalam tahap perkembangan. Terlebih, anak juga bernapas lebih banyak dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badannya, sehingga paparan polutan yang masuk ke tubuh secara relatif dapat lebih besar.

Fungsi Paru Anak Bisa Mengalami Penurunan

Ilustrasi dokter memeriksa gambar rontgen thorax paru-paru pasien. Foto: Shutterstock

Menurut dr. Aisya, saat anak terpapar polusi partikulat dalam kadar tinggi secara berulang dan berlangsung lama, fungsi parunya juga dapat mengalami penurunan sementara selama periode paparan.

Artinya, kualitas udara yang buruk akibat asap karhutla dapat memengaruhi fungsi paru anak bahkan selama periode ketika paparan sedang berlangsung.

"Dalam jangka pendek, anak dapat mengalami iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, pilek, produksi lendir/dahak meningkat, sesak atau napas berbunyi (mengi)," jelas dr. Aisya saat dihubungi kumparan beberapa waktu lalu.

Ilustrasi anak terkena asma. Foto: Shutter Stock

Meski begitu, bukan berarti setiap anak yang terpapar asap karhutla pasti mengalami kerusakan paru permanen. Risiko dapat dipengaruhi oleh kadar polutan, lama dan frekuensi paparan, serta kondisi kesehatan anak sebelumnya, seperti asma atau penyakit paru lainnya.

“Paparan asap yang berlangsung lama atau berulang berpotensi menyebabkan penurunan fungsi paru dan meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas pada anak (sensitif terhadap berbagai pemicu)," tutup dr. Aisya.

Bukti mengenai dampak jangka sangat panjang paparan asap karhutla secara khusus pada anak juga masih terus berkembang. Karena itu, ketika kualitas udara sedang buruk, penting untuk sebisa mungkin mengurangi paparan anak terhadap asap dan polusi udara dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan air purifier, hingga HEPA filter ya, Moms.