Konten dari Pengguna

Saat Smart Farming Menjanjikan, Mengapa Anak Muda Masih Malu Jadi Petani?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditya firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi petani muda bukan lagi soal gengsi, melainkan aksi nyata. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Menjadi petani muda bukan lagi soal gengsi, melainkan aksi nyata. Foto: Dok. Pribadi

Beberapa tahun terakhir, lini masa kita sering dihiasi oleh kerennya teknologi pertanian modern. Mulai dari penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT), pemantauan lahan menggunakan drone, hingga sistem hidroponik pintar yang bisa dikendalikan lewat smartphone sambil rebahan. Istilahnya keren: Smart Farming.

Secara teori dan visual, tren ini terlihat sangat seksi bagi Gen Z dan Milenial yang gandrung akan teknologi. Pemerintah dan berbagai komunitas pun gencar mengampanyekan profesi "Petani Milenial" sebagai profesi masa depan yang menjanjikan cuan melimpah.

Namun, mari kita tengok realita di lapangan. Mengapa di tengah gegap gempita teknologi yang menjanjikan ini, mayoritas anak muda masih merasa "malu" atau enggan melirik sektor pertanian sebagai pilihan karier utama? Di mana letak sumbatannya?

Stigma "Tiga K": Kucel, Kumuh, dan Kere

Kita tidak bisa menutup mata bahwa resistensi terbesar anak muda terhadap dunia pertanian berakar dari stigma masa lalu yang belum sepenuhnya terkikis. Sejak kecil, doktrin yang tertanam di kepala kita adalah: belajar yang rajin agar bisa kerja di gedung kantoran ber-AC, pakai kemeja rapi, dan mendapat gaji bulanan tetap.

Sebaliknya, profesi petani telanjur identik dengan citra "Tiga K": kucel, kumuh, dan kere. Petani sering digambarkan sebagai sosok orang tua bermodal cangkul yang hidupnya pas-pasan dan selalu kalah oleh tengkulak. Ketika anak muda memutuskan pulang ke kampung untuk bertani, respons tetangga atau bahkan orang tua sendiri sering kali bernada miring: "Jauh-jauh kuliah ke kota, kok ujung-ujungnya cuma ke sawah?"

Gengsi sosial inilah yang membuat smart farming baru sebatas tontonan menarik di media sosial, belum menjadi pilihan hidup. Anak muda terjebak dalam dilema antara validasi sosial (kerja kantoran) dan potensi nyata (sektor pangan).

Akses Lahan dan Modal: Smart Farming Itu Mahal!

Alasan kedua mengapa anak muda masih ragu bukan sekadar masalah gengsi, melainkan masalah isi dompet. Membicarakan smart farming berarti membicarakan investasi teknologi. Dan teknologi itu tidak murah.

Untuk membangun ekosistem pertanian berbasis digital, seorang pemuda membutuhkan modal awal yang cukup besar guna membeli sensor, perangkat otomatisasi, hingga bibit unggul. Masalahnya, dari mana anak muda yang baru lulus kuliah mendapatkan modal tersebut?

Belum lagi masalah kepemilikan lahan. Mayoritas anak muda di Indonesia tidak memiliki lahan pribadi. Konsep smart farming di lahan sewaan sering kali berisiko tinggi jika kontraknya tidak diperpanjang. Regulasi perbankan yang rumit untuk memberikan kredit usaha rakyat (KUR) di sektor pertanian bagi anak muda tanpa jaminan juga memperpanjang rantai masalah ini.

Menghapus Malu dengan Mengubah Sudut Pandang

Jika kita ingin smart farming benar-benar menjadi penyelamat krisis regenerasi petani di Indonesia, maka cara kita memandang sektor ini harus dirombak total.

Dari Petani Menjadi Agropreneur: Anak muda harus melihat bahwa bertani di era sekarang bukan lagi sekadar aktivitas fisik mencangkul tanah, melainkan sebuah bisnis manajemen (wirausaha). Petani modern adalah seorang manajer teknologi, analis data cuaca, dan ahli strategi pemasaran digital.

Dukungan Nyata, Bukan Cuma Gimmick: Pemerintah dan sektor swasta perlu memberikan karpet merah yang lebih nyata bagi pemula. Bukan sekadar pelatihan seremonial, melainkan kemudahan akses pasar langsung (direct-to-consumer) untuk memotong jalur tengkulak yang selama ini merugikan.

Penutup: Masa Depan Ada di Piring Kita

Malu menjadi petani di negara agraris adalah sebuah ironi. Kita mungkin bisa bertahan hidup sebulan tanpa gawai baru atau pakaian bermerek, tetapi kita tidak bisa bertahan hidup tiga hari tanpa pangan.

Smart farming telah membuka pintu lebar-lebar untuk modernisasi pertanian. Sekarang, tinggal bagaimana kita—anak muda—berani mendobrak pintu gengsi tersebut. Menjadi petani muda di era digital bukan lagi tentang berselimut lumpur, melainkan tentang bagaimana menguasai masa depan dari atas tanah kita sendiri.

Jadi, saat teknologi sudah siap mempermudah segalanya, masihkah kita memilih untuk malu?