ChatGPT, Teman Baru Mahasiswa dalam Mengerjakan Tugas

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adit Imam Al-farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi mahasiswa, tugas kuliah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan perkuliahan. Mulai dari membuat makalah, mencari ide tulisan, memahami materi, hingga menyelesaikan tugas yang terkadang cukup rumit. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi salah satu alat yang digunakan mahasiswa, salah satunya ChatGPT.
ChatGPT dapat digunakan untuk berdiskusi, mencari ide, memahami suatu konsep, hingga membantu menyusun tulisan. Kehadirannya memberikan cara baru bagi mahasiswa ketika menghadapi kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Ketika Tugas Mulai Menumpuk
Ada kalanya mahasiswa sudah berada di depan laptop, tetapi masih bingung harus memulai tugas dari mana. Mencari informasi di internet juga terkadang membuat bingung karena banyaknya sumber yang tersedia. Dalam kondisi seperti itu, ChatGPT dapat digunakan sebagai teman berdiskusi. Mahasiswa dapat meminta penjelasan mengenai suatu materi, mencari beberapa ide untuk tugas, atau meminta bantuan membuat kerangka tulisan.
Namun, penggunaan ChatGPT tidak harus selalu berarti meminta jawaban akhir. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk memahami materi terlebih dahulu sebelum mengerjakan tugas secara mandiri.
Bukan Sekadar Mencari Jawaban
Penggunaan ChatGPT dalam kegiatan belajar juga dapat dilakukan dengan cara yang lebih interaktif. OpenAI menjelaskan bahwa Mode Belajar di ChatGPT dirancang untuk membantu pengguna memahami suatu topik secara lebih mendalam melalui pertanyaan, penjelasan bertahap, dan pemeriksaan pemahaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mencari jawaban. Mahasiswa juga dapat menggunakannya untuk memahami alasan di balik sebuah jawaban, memecah materi yang sulit menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, dan berdiskusi mengenai topik yang sedang dipelajari.
Misalnya, ketika mendapatkan materi kuliah yang sulit dipahami, mahasiswa dapat meminta ChatGPT menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Setelah memahami penjelasan tersebut, mahasiswa tetap dapat membaca materi dari dosen atau sumber akademik untuk memastikan pemahamannya.
Tetap Perlu Digunakan dengan Bijak
Meskipun memberikan banyak kemudahan, penggunaan AI dalam pendidikan tetap membutuhkan sikap kritis. UNESCO menekankan pentingnya penggunaan AI generatif dalam pendidikan yang aman, etis, bermakna, dan tetap berpusat pada manusia. Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak langsung menerima semua informasi yang diberikan AI. Informasi penting perlu diperiksa kembali menggunakan sumber yang dapat dipercaya.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memahami isi tugas yang dibuat. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat proses belajar justru berkurang karena mahasiswa hanya menyalin jawaban tanpa memahami materi.
Teman Baru, Bukan Pengganti Mahasiswa
Kehadiran ChatGPT telah memberikan alternatif baru bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai tugas kuliah. Teknologi ini dapat membantu mencari ide, menjelaskan materi, memberikan masukan terhadap tulisan, dan menjadi teman berdiskusi ketika mahasiswa mengalami kesulitan. Namun, ChatGPT sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa. Kemampuan untuk membaca, memahami, menganalisis, dan memeriksa kembali informasi tetap menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Pada akhirnya, ChatGPT memang bisa menjadi “teman baru” mahasiswa dalam mengerjakan tugas. Tetapi hasil belajar yang sebenarnya tetap berasal dari bagaimana mahasiswa menggunakan teknologi tersebut untuk belajar dan memahami, bukan sekadar mendapatkan jawaban.
Sumber:
OpenAI, Menggunakan Mode Belajar di ChatGPT.
UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research.
