Green Hotel: Solusi untuk Industri Perhotelan yang Lebih Berkelanjutan

Mahasiswa program studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aditya Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri perhotelan merupakan salah satu pilar utama dalam sektor pariwisata. Dengan semakin tingginya jumlah wisatawan setiap tahunnya, pertumbuhan hotel juga meningkat secara drastis. Namun, hal ini menimbulkan berbagai tekanan pada lingkungan, seperti peningkatan polusi, penggunaan air yang berlebihan, dan produksi sampah yang meningkat. Tidak jarang hotel juga dianggap sebagai bentuk imperialisme, entitas yang lebih mementingkan keuntungan dan eksploitasi sumber daya lokal tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan. Dalam konteks inilah, konsep “Green Hotel” menjadi sangat relevan sebagai solusi untuk menyeimbangkan keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Industri perhotelan merupakan salah satu pilar utama dalam sektor pariwisata global, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian banyak negara. Seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan setiap tahunnya, pertumbuhan jumlah hotel pun meningkat secara drastis untuk memenuhi permintaan akomodasi yang terus meningkat. Meskipun hal ini membawa dampak positif bagi ekonomi lokal, seperti peningkatan lapangan kerja dan pendapatan, namun juga menimbulkan berbagai tekanan signifikan terhadap lingkungan.
Salah satu tekanan utama yang dihasilkan dari pertumbuhan industri perhotelan adalah peningkatan polusi. Banyak hotel yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar untuk operasi sehari-hari seperti penerangan, pendinginan, pemanasan, dan lainnya. Selain itu, penggunaan air yang berlebihan, terutama di daerah yang sudah menghadapi kelangkaan air, menjadi masalah lingkungan yang serius. Produksi sampah yang meningkat, baik dari limbah makanan, kemasan sekali pakai, maupun limbah lainnya, juga menjadi tantangan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Tidak jarang, hotel-hotel dianggap sebagai bentuk imperialisme modern yang lebih mementingkan keuntungan daripada keberlanjutan. Mereka sering kali mengeksploitasi sumber daya lokal tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan. Praktek-praktek seperti ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesejahteraan komunitas lokal yang bergantung pada sumber daya alam mereka.
Dalam menghadapi tantangan ini, konsep “Green Hotel” muncul sebagai solusi yang relevan dan penting. Green Hotel adalah konsep perhotelan yang mengedepankan praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam operasional sehari-hari. Dengan mengadopsi standar dan kriteria yang ketat, konsep Green Hotel berusaha untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mendukung tanggung jawab sosial yang lebih besar.
Apa Itu Green Hotel?
Menurut Sekretariat ASEAN (2016), Green Hotel adalah hotel yang ramah lingkungan dan menerapkan langkah-langkah nyata untuk pelestarian energi. ASEAN Green Hotel Standard menetapkan 11 kriteria dan persyaratan utama untuk sebuah hotel ramah lingkungan, antara lain kebijakan lingkungan, penggunaan produk ramah lingkungan, kolaborasi dengan komunitas lokal, manajemen limbah, efisiensi energi dan air, serta pengendalian polusi.
Greenwashing: Tantangan Serius bagi Green Hotel
Namun, implementasi konsep Green Hotel sering kali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen hotel-hotel terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan. Greenwashing, yakni praktik pemasaran yang menyesatkan untuk memberikan kesan bahwa produk, layanan, atau operasional mereka ramah lingkungan padahal sebenarnya tidak, semakin marak terjadi di industri perhotelan. Beberapa tindakan greenwashing yang sering ditemukan di industri perhotelan antara lain:
Penggunaan botol kecil yang tidak ramah lingkungan.
Program penggunaan kembali handuk dan linen yang tidak sesuai kenyataan.
Pengadaan sumber makanan dari lokasi yang jauh atau tidak menggunakan produk lokal.
Menampilkan sertifikasi hijau yang tidak sesuai kenyataan.
Penggunaan energi secara berlebihan.
Menggunakan label hijau tanpa audit yang valid.
Kurangnya transparansi dalam informasi tentang praktik hijau.
Langkah Menuju Green Hotel yang Sesungguhnya
Untuk mencapai status sebagai Green Hotel yang sebenarnya, hotel-hotel perlu mengadopsi langkah-langkah konkret dan transparan dalam operasional mereka serta berkomitmen pada perbaikan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil:
Kebijakan Lingkungan yang Jelas: Menyusun dan menerapkan kebijakan lingkungan yang komprehensif.
Penggunaan Produk Ramah Lingkungan: Menggunakan produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam operasional sehari-hari.
Kolaborasi dengan Komunitas Lokal: Bekerjasama dengan komunitas lokal untuk mendukung perekonomian dan budaya setempat.
Manajemen Limbah yang Efektif: Menerapkan sistem manajemen limbah yang efisien dan ramah lingkungan.
Efisiensi Energi dan Air: Mengoptimalkan penggunaan energi dan air untuk mengurangi jejak ekologis.
Pengendalian Polusi: Mengadopsi langkah-langkah untuk mengendalikan dan mengurangi polusi
Peran Tamu dalam Mendukung Keberlanjutan
Tamu juga memiliki peran penting dalam mendukung praktik perhotelan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Untuk menghindari terjebak dalam greenwashing, tamu perlu lebih cerdas dan kritis dalam mengevaluasi klaim ramah lingkungan dari hotel-hotel. Beberapa langkah yang dapat diambil tamu antara lain:
Membaca ulasan tamu lainnya mengenai praktik ramah lingkungan yang diterapkan oleh hotel.
Melakukan riset terlebih dahulu sebelum memesan hotel.
Memilih hotel yang transparan mengenai praktik lingkungan mereka dan memiliki sertifikasi yang valid.
Dengan demikian, tamu dapat berkontribusi dalam mendukung praktik perhotelan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap lingkungan dan memastikan bahwa klaim ramah lingkungan bukan sekadar lip service. Sebagai hasilnya, industri perhotelan dapat menjadi sektor yang lebih berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
