Konten dari Pengguna

Budaya Haragei: Berkomunikasi Secara Non-Verbal Masyarakat Jepang

Aditya Gilang

Aditya Gilang

Mahasiswa Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aditya Gilang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://cdn.pixabay.com/photo/2013/11/25/09/59/jepang-217883_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
https://cdn.pixabay.com/photo/2013/11/25/09/59/jepang-217883_1280.jpg

Komunikasi adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia untuk mencapai tujuan, membangun hubungan yang kuat, dan memahami apa yang ada di sekitar kita. Komunikasi itu sendiri adalah cara kita saling bertukar informasi, ide, gagasan, dan perasaan antara individu atau kelompok. Komunikasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, dapat secara verbal, non-verbal (bahasa tubuh dan ekspresi), tulisan, dan visual. Setiap negara memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda tergantung dengan budaya yang memengaruhinya.

Jepang telah dikenal sebagai salah satu negara yang sangat kaya akan budaya dengan tradisi, norma, dan etikanya. Di Jepang terdapat budaya komunikasi secara non-verbal yang disebut dengan “haragei”. Haragei adalah istilah dalam budaya Jepang yang merujuk pada seni komunikasi secara non-verbal yang penting dalam interaksi sosial. Secara harfiah haragei diterjemahkan sebagai ”seni perut”. Meskipun disebut sebagai seni perut konsep ini tidak hanya terfokus pada perut, tetapi mencakup banyak aspek komunikasi secara non-verbal yang lebih luas.

Melalui artikel ini, kita akan mempelajari makna dan peran haragei yang ada dalam budaya Jepang. Juga menjelajahi tentang bagaimana konsep haragei memengaruhi cara berkomunikasi, berinteraksi, dan memahami diri sendiri dalam konteks sosial dan spiritual. Dalam budaya Jepang, perut dianggap sebagai pusat emosi, intuisi, dan spiritualitas seseorang. Haragei adalah seni tentang bagaimana memahami dan menginterpretasikan komunikasi non-verbal yang mencakup ekspresi wajah, gestur, dan tindakan seseorang. Dengan kata lain, haragei adalah cara bertukar perasaan dan pikiran secara implisit di kalangan masyarakat Jepang.

Haragei adalah budaya dengan konteks tinggi, maksudnya orang-orang Jepang cenderung tidak banyak bertanya dan menghargai keheningan. Jika dibandingkan dengan budaya berkonteks rendah seperti orang-orang Barat, mereka memiliki kecenderungan untuk bertanya dengan tujuan memperjelas suatu informasi karena mereka intoleran terhadap situasi yang membuat mereka bingung. Karena adanya perbedaan ini, haragei menjadi cara berkomunikasi yang sulit dipahami dan dimengerti bagi orang non Jepang. Aspek yang dapat diperhatikan dalam haragei adalah sebagai berikut.

  1. Ekspresi Wajah: Dengan memahami ekspresi wajah seseorang, kita dapat mengetahui apakah dia sedang merasa senang, sedih, marah, atau kecewa. Kemudian kita dapat menentukan sikap yang tepat terhadap orang tersebut.

  2. Gestur Tubuh: Gestur tubuh dapat menjadi petunjuk apakah seseorang merasa nyaman atau tidak.

  3. Tatapan Mata: Tatapan mata seseorang dapat menentukan bagaimana seseorang melihat kita. Dari mata seseorang, kita dapat mengetahui apakah mereka merasa tertarik, curiga, atau marah kepada kita.

  4. Intuisi: Kemampuan membaca setiap kata dalam percakapan memerlukan tingkat kemampuan intuisi yang tinggi dengan tujuan membaca perasaan dan niat seseorang.

Haragei menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam budaya Jepang karena mayoritas orang Jepang lebih menekan cara komunikasi tidak langsung. Haragei sangat membantu orang Jepang untuk memahami perasaan atau niat seseorang meski tanpa bertanya secara langsung. Budaya ini sangat membantu dalam menjaga hubungan sosial dan bisnis yang harmonis. Misalnya, ketika berada dalam situasi yang memerlukan tindakan sopan, haragei dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tanda non-verbal seseorang yang menunjukkan perasaan tidak nyaman atau tidak suka. Ini memungkinkan orang Jepang untuk menyesuaikan perilaku dan menghormati orang lain.

https://cdn.pixabay.com/photo/2015/12/04/19/20/girl-1076998_640.jpg

Haragei digunakan dalam beberapa cara, yaitu:

1. Masa Keheningan

Ketika sedang melakukan pertemuan bisnis atau negosiasi, keheningan dapat membuat suasana yang kurang mengenakkan bagi orang non Jepang. Sebagai salah satu bentuk haragei dapat mengisyaratkan respon yang positif, seperti “Ya, saya menyukai gagasan Anda, berikan waktu saya untuk memikirkannya”. Atau juga dapat berarti negatif, tetapi dengan melakukan haragei bertujuan untuk menghindari konflik.

2. Mengeluarkan Desisan

Suara mendesis yang terdengar dengan menarik udara melalui gigi dan bibir merupakan teknik yang digunakan orang Jepang untuk menunjukkan rasa tidak senang, tidak puas, atau tidak setuju dengan mengungkapkannya tanpa secara eksplisit.

3. Pertanyaan Tidak Jelas/Ambigu

Haragei yang biasa dilakukan orang Jepang mengharuskan seseorang untuk dapat memahami makna tersirat, sehingga tidak mengajukan banyak pertanyaan yang mungkin kurang pantas.

4. Menyatakan “Tidak”

Orang Jepang merasa kurang enak jika harus mengatakan “tidak” secara langsung. Berbagai cara mereka lakukan dengan melalui keheningan, suara mendesis, bahkan memberikan pernyataan seperti “itu akan sedikit sulit”.

5. Memberikan Hadiah yang Sederhana

Ketika orang Jepang memberikan hadiah, biasanya mereka mengatakan “Ini bukanlah sesuatu yang berharga”. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan kesopanan.

Dapat disimpulkan bahwa haragei adalah sebuah seni komunikasi non-verbal yang biasa digunakan dalam budaya Jepang. Budaya ini melibatkan pemahaman mengenai ekspresi, gestur, tatapan mata, dan intuisi yang kuat. Dalam hubungan sosial, kemampuan memahami haragei yang tepat dapat sangat membantu dalam aspek kehidupan demi meningkatkan komunikasi, keseimbangan emosi, dan pemahaman diri. Haragei adalah konsep yang unik mengenai komunikasi secara non-verbal, spiritualitas, dan pemahaman sosial dapat menjadi salah satu pondasi kuat dalam membangun sebuah hubungan di Jepang.