Rasa Cemburu: Bentuk Kewajaran dan Cara Mengelola nya di Kehidupan Sehari-hari

Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adrian Putra Hermansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, media sosial dan pemberitaan dipenuhi kisah-kisah tragis yang bikin geleng-geleng kepala. Mulai dari seorang suami yang dihajar keluarganya sendiri karena membunuh istrinya—seperti yang dilaporkan TvOneNews dalam kanal youtube nya pada 4 Juni 2025—hingga kasus serupa yang diliput KOMPASTV seminggu kemudian. Mirisnya, semua itu berawal dari satu hal yang sebenarnya sangat manusiawi: CEMBURU.
Perasaan ini umumnya merupakan hal yang manusiawi bagi seorang pasangan didalam kehidupan rumah tangga, yang tentunya dalam hubungan tersebut melibatkan emosi dan rasa memiliki. Bahkan dalam agama islam sendiri, perasaan cemburu (ghirah) dianggap sesuatu yang alami pada setiap manusia—selama masih dalam batas wajar.
Tapi masalahnya, banyak sekali dari kita yang tidak tahu bagaimana cara mengelola rasa cemburu tersebut, sehingga tanpa disadari yag niat awalnya untuk menjaga berakhir kepada perbuatan menyakiti.
Lantas bagaimana cara yang efektif bagi kita agar bijak didalam mengelola rasa cemberu terhadap pasangan?, berikut penjelasannya...
1. Mencari Akar Permasalahannya
Cemburu itu bukan dosa, tapi bisa jadi berbahaya kalau kita asal menuduh. Karena Rasulullah Saw telah bersabda didalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban, bahwa “Salah satu cemburu yang dibenci Allah, yaitu cemburunya suami terhadap istrinya pada sesuatu yang tidak ada keraguan (sesuatu yang sudah jelas), karena cemburu di sini merupakan buruk sangka yang dilarang. Sementara sebagian sangka adalah dosa.”
Hadis tersebut mengingatkan kita untuk tidak buru-buru bereaksi negatif saat cemburu muncul. Sebelum menuduh atau marah, ada baiknya kita cari tahu dulu akar masalahnya. Apakah benar pasangan menunjukkan sikap yang mencurigakan, atau justru hanya asumsi dan pikiran negatif yang kita pelihara sendiri?, supaya tidak terjadinya miskomunikasi.
2. Mengelola Emosi dengan Baik
Banyak orang yang langsung terbakar emosi saat menghadapi sesuatu yang nggak sesuai harapan. Tanpa pikir panjang, keputusan pun diambil dalam keadaan marah. Inilah salah satu pemicu utama konflik dan perceraian dalam rumah tangga. Emosi yang tidak dikelola dengan baik bisa membuat masalah kecil jadi besar. Padahal, seringkali yang dibutuhkan hanyalah jeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum bicara atau bertindak.
Ada satu nasihat bijak dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang relevan banget buat kita renungkan. Beliau megatakan bahwa "Jangan berjanji saat bahagia, jangan membalas saat marah, dan jangan mengambil keputusan saat sedih." Pesannya jelas—jangan buru-buru mengambil keputusan ketika emosi belum stabil. Karena saat emosi sedang tinggi, yang sering bicara itu bukan akal sehat, tapi ego. Kalau kita asal bertindak tanpa mikir panjang atau diskusi dulu, besar kemungkinan keputusan itu justru bikin semuanya tambah runyam.
3. Komunikasi yang Hangat
Setelah emosi lebih terkendali dan akar masalah mulai terlihat, langkah selanjutnya adalah membangun komunikasi yang hangat—bukan melalui debat panas. Sering kali masalah dalam hubungan justru makin rumit karena dua pihak saling menghakimi, bukan saling memahami. Padahal, Rasulullah Saw Bersabda didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang mengatakan bahwa “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau lebih baik diam.”
Hadis ini memberitahukan kepada kita bahwa daripada langsung menuduh saat pasangan pulang larut malam, kenapa tidak mulai dengan menyambutnya dengan tenang, ajak ngobrol santai, lalu sampaikan kekhawatiranmu secara baik-baik?, komunikasi yang sehat bukan hanya soal menyampaikan isi hati, tapi juga soal memilih waktu, nada, dan cara berbicara kepada pasangan sendiri.
Dengan demikian, pengelolaan rasa cemburu kepada pasangan sangat penting untuk kita pelajari dan kita terapkan demi mewujudkan hubungan yang sehat, harmoni, dan berkah sampai akhir hayat nanti.
