Konten dari Pengguna

Koleksi Mainan: Sekedar Nostalgia atau Pencarian Identitas?

Adyatma Dimitri Widyadhana

Adyatma Dimitri Widyadhana

Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adyatma Dimitri Widyadhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mainan. Foto: magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mainan. Foto: magnific.com

“Aduh besok aja ya nak, sekarang beli es krim saja”, ucap seorang ibu kepada anak laki-lakinya seraya mengalihkan perhatiannya dari mainan. Anak tersebut hanya mengangguk, dan buru-buru menyambar es krim coklat yang disodorkan oleh orang tuanya. Sang ibu pun terlihat lega. Alasannya mudah dipahami, harga mainan tersebut setara dengan empat atau lima es krim.

Bagi sebagian anak kecil mengoleksi barang yang tergolong sebagai “mainan” adalah sebuah keharusan. Maka tidak heran mereka melakukan berbagai banyak hal, mulai dari menabung uang THR yang diberikan saudaranya, hingga merengek dan mengamuk. Sebagian besar anak-anak pasti melewati fase ingin mengoleksi mainan, tetapi seiring berjalannya waktu, masa-masa tersebut seharusnya memudar. Setidaknya itulah yang banyak orang bayangkan.

Kenyataannya, hal tersebut tidak terjadi. Belakangan ini kerap kali ditemui orang-orang dewasa yang membeli ataupun mengoleksi barang-barang yang “dianggap” untuk anak kecil, mulai mobil-mobilan, action figure, hingga kartu-kartu koleksi. Mereka bahkan rela merogoh kocek yang besar demi memiliki mainan tersebut. Lebih-lebih mereka juga meluangkan waktu untuk bertemu dalam komunitas dengan hobi yang serupa.

Tentu, menjadi sebuah pertanyaan mengapa orang dewasa rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk membeli benda-benda yang dianggap sekedar mainan? Mengapa pula mereka juga bersedia mengalokasikan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang yang memiliki hobi serupa?

Ketika Mainan Jadi Mesin Waktu

Salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah nostalgia. Bagi sebagian orang, action figure, mobil-mobilan, hingga kartu koleksi menjadi alat kembali ke masa lalu atau ke masa anak-anak, masa di saat semuanya lebih bahagia dan lebih mudah untuk dipahami.

Di masa itu kebahagiaan dapat dicapai dengan bermain mobil-mobilan bersama teman hingga sore hari atau menonton kartun favorit. Seiring dengan bertambahnya usia dan tanggung jawab, momen-momen tersebut mulai terganti. Oleh karena itu, mobil-mobilan menjadi pengingat akan masa ketika seseorang belum memikirkan pekerjaan dan urusan-urusan “dewasa” lainnya.

Di sisi lain, barang-barang koleksi tersebut merepresentasikan hal-hal yang dahulu tidak bisa mereka miliki. Entah karena terlalu mahal atau bahkan karena tidak diizinkan oleh orang tuanya. Sehingga, di saat sudah hidup mandiri dan memiliki pendapatan, seseorang akhirnya memiliki kesempatan untuk memenuhi cita-cita yang bertahun-tahun tertunda.

Namun, nostalgia tidak cukup menjadi alasan untuk menjawab fenomena tersebut. Jika tujuan akhir adalah memiliki benda yang dahulu diinginkan, maka aktivitas tersebut seharusnya hanya sebatas membeli barang dan mengoleksinya. Akan tetapi, banyak kolektor justru menghadiri pameran, bergabung dengan komunitas yang memiliki minat serupa, dan hal-hal yang mengorbankan waktu. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mencari kepuasan dari memiliki satu barang, melainkan juga memiliki hal yang lebih besar daripada itu, yaitu komunitas.

Koleksi sebagai Bahasa

Subkultur dapat digambarkan sebagai sekelompok individu yang memiliki nilai, kebiasaan, dan norma yang khas. Hal-hal tersebut membedakan mereka dengan budaya masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, anggota subkultur tidak hanya memiliki minat yang sama, tetapi juga memiliki identitas kolektif, “metode” berinteraksi, hingga simbol yang kemudian menjadi pembeda dengan kelompok lain.

Identitas, metode, hingga simbol terbentuk atas interaksi-interaksi yang muncul. Interaksi yang muncul dari menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk membahas mengenai sejarah sebuah produk, cara merawat, hingga cara mendapat koleksi tertentu, dan bahkan menilai keaslian produk adalah proses yang membentuk “bahasa” tersendiri di dalam subkulturnya.

Dengan demikian, terjadi pergeseran pada peran benda-benda koleksi, miniatur mobil-mobilan tidak lagi sebatas menjadi mainan atau benda koleksi saja. Mereka bertransformasi menjadi sebuah medium yang menghubungkan seseorang dengan komunitasnya. Tentu saja, benda-benda koleksi juga menegaskan identitas pemiliknya sebagai anggota dari kelompok tertentu.

Komunitas di Tengah Kehidupan Orang Dewasa

Kebutuhan akan komunitas bukanlah sesuatu yang hanya ditemukan dalam diri para kolektor saja. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sebagai akibat dari hal itu Ia selalu berusaha menemukan tempat yang sesuai dengan dirinya. Namun, kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi seiring dengan bertambahnya usia. Kesibukan akibat kerja, pendidikan, hingga urusan rumah tangga membuat kesempatan untuk menemukan tempat yang sesuai menjadi terbatas.

Dalam kondisi tersebut, hobi menjadi titik ekuilibrium yang mempertemukan pihak-pihak dengan minat yang serupa. Seorang kolektor tidak perlu repot-repot mencari topik untuk masuk ke dalam komunitas dan mengenal kolektor-kolektor lainnya. Mereka cukup berbicara atas minat terhadap produk, karakter tertentu, dan topik-topik yang erat kaitannya dengan itu. Topik-topik tersebut mudah untuk dibahas dan memang sesuai dengan minat mereka. Hal tersebut memunculkan rasa nyaman secara alami dan inilah yang mendorong hubungan sosial antar anggota komunitas yang erat.

Fenomena orang dewasa mengoleksi benda-benda yang dianggap sebagai mainan anak kecil, tidak dapat disederhanakan atau disimplifikasi sebagai pemenuhan atas cita-cita masa kecil maupun alat nostalgia semata. Dalam miniatur mobil, kartu, action figure tersimpan kebutuhan yang mendasar bagi setiap manusia, kebutuhan akan identitas dan kelompok.