Konten dari Pengguna

Situationship Generasi Z: Ketika Sapaan "Aku-Kamu" Menjadi Tanda Kepemilikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi (diolah penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi (diolah penulis)

Pernakah kamu tiba-tiba merasa canggung ketika seseorang yang dekat denganmu mengganti sapaannya menjadi lebih personal seperti "Aku-Kamu"? Kalau pernah, kamu tidak sendirian. Fenomena situationship di kalangan Generasi Z ini ternyata lebih kompleks dari yang terlihat.

Di kalangan Generasi Z, urusan sapaan ternyata bukanlah hal yang biasa. Bagi mereka, dua kata sederhana seperti "Aku-Kamu" mempunyai makna yang lebih dari sekedar pilihan kata. Ia bisa menjadi kode, sinyal, bahkan pengakuan secara diam-diam yang tidak pernah diucapkan secara terang-terangan.

Di era digital yang serba cepat, hubungan sering kali tumbuh dari hal-hal yang tampak sepele. Berawal dari membalas story, mengirim meme, atau obrolan tengah malam yang awalnya tidak disengaja. Tidak ada momen dramatis, tidak ada pernyataan resmi, semua berjalan pelan dan terasa wajar.

Namun ketika hubungan mulai memasuki fase yang lebih serius, saat harapan mulai tumbuh melebihi batas pertemanan biasa, perubahan paling kecil justru bukan dari gestur besar atau ucapan romantis, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih halus, yaitu pilihan kata sapaan.

Fenomena ini pernah ramai diperbincangkan di media sosial. Sebuah unggahan humor yang menuliskan cerita sang pengunggah yang meminta temannya untuk mengganti sapaan kepadanya. Respon yang ia dapat justru berupa tatapan heran dan bingung, seolah-olah ia meminta sesuatu yang berlebihan dan serius "Kayak minta dinikahi".

Candaan tersebut tanpa disadari menyentuh fakta yang banyak dirasakan oleh anak muda sekarang. Sapaan "Aku-Kamu" telah menjadi penanda bahwa sebuah hubungan tengah bergerak menuju ranah yang lebih pribadi. Sebuah kode tak tertulis yang seolah menyiratkan, "Kita ini lebih dari sekedar teman".

Lalu mengapa simbol sekecil itu bisa terasa begitu penting?

Jawabannya bermuara pada satu kata, yaitu situationship. Merupakan zona abu-abu yang paling dibenci sekaligus dinikmati oleh Generasi Z. Hubungannya lebih dari teman, tetapi belum menyentuh tahap pacaran. Tidak ada kejelasan, tidak ada label, tidak ada janji, dan tidak ada kepastian.

Kondisi ini dikenal sebagai hubungan tanpa status. Sebuah ikatan yang tidak memiliki definisi maupun ekspektasi yang jelas. Di tengah ketidakpastian itulah tumbuh pertanyaan yang terus berputar dalam kepala: "Aku sebenarnya ada di posisi mana?"

Di sinilah sapaan "Aku-Kamu" berperan. Ia menjadi satu-satunya hal yang terasa bisa dipegang di tengah hubungan yang serba kabur dan penuh tanda tanya.

Penulis sempat berbincang dengan C (20 tahun), yang tengah berada dalam fase pendekatan tanpa status. Ia bercerita:

"Awalnya saya kaget ketika dia tiba-tiba mengganti panggilan menjadi "Aku-Kamu". Menurut saya, sapaan itu biasanya digunakan oleh dua orang yang memang sudah punya hubungan personal, sedangkan kami belum memiliki ikatan apa pun. Jadi perasaan saya campur aduk, antara senang dan bingung"

Kisah C sangat relatable, bukan? Ada rasa tegang, kaget, bahagia, sekaligus bingung yang menjadi satu. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa sapaan personal berfungsi sebagai garis tak kasat mata yang disepakati secara diam-diam, sekaligus menjadi tanda adanya keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Penulis juga melakukan survei kepada sekelompok remaja berusia 18-20 tahun. Hasilnya cukup menarik.

Mayoritas responden sepakat bahwa sapaan "Aku-Kamu' membuat suatu hubungan terasa lebih intim dan eksklusif. Namun, sebagian kecil menganggapnya sebagai sapaan biasa yang tidak perlu diberi makna khusus. Yang paling mengejutkan, hampir seluruh responden setuju bahwa ketika seseorang mengganti sapaanya dari "Gue-Lo" menjadi "Aku-Kamu", ada rasa suka atau ketertarikan yang sedang disembunyikan, baik disadari maupun tidak oleh orang yang bersangkutan.

Generasi sebelumnya mungkin akan menganggap ini aneh, "Mengapa hal sekecil itu dipermasalahkan?" Namun bagi Generasi Z, ini bukan sekedar kaidah bahasa. Ini soal cara mereka memaknai hubungan di tengah budaya situationship yang semakin lumrah.

Bagi mereka, sapaan adalah bahasa perasaan. "Aku-Kamu" hadir sebagai cara yang paling sederhana untuk menyimpan rasa yang sulit diungkapkan secara langsung. Di tengah hubungan yang tidak memiliki nama, Generasi Z memilih merawat rasa kepemilikan hanya dengan dua kata: Aku dan Kamu.