Konten dari Pengguna

Stres yang Tak Pernah Selesai dan Risiko Gangguan Autoimun

Aenuni Fatihah

Aenuni Fatihah

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat. Ada luka yang disimpan rapat-rapat karena takut dianggap berlebihan, takut mengecewakan orang lain, atau sekadar ingin menjaga hubungan tetap baik.

Akhirnya, banyak orang memilih diam, mengalah, dan memendam perasaan sendiri. Dari luar mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam, tubuh dan pikiran bekerja lebih keras dari yang disadari.

Memendam emosi sesekali memang bukan sesuatu yang berbahaya. Namun, ketika hal itu menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun, dampaknya tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik.

Stres yang tidak pernah benar-benar diselesaikan membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga, seolah-olah sedang menghadapi ancaman yang tidak kunjung berakhir.

Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, otak akan terus mengaktifkan respons "fight or flight" dengan melepaskan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Respons ini sebenarnya bermanfaat ketika menghadapi bahaya dalam waktu singkat.

Akan tetapi, jika tubuh terus-menerus berada dalam kondisi tersebut, keseimbangan berbagai sistem di dalam tubuh mulai terganggu, termasuk sistem kekebalan.

Dalam kondisi normal, sistem imun bekerja mengenali dan melawan virus, bakteri, maupun zat asing yang membahayakan tubuh. Namun, stres kronis dapat mengganggu regulasi sistem imun sehingga respons peradangannya meningkat dan mekanisme pertahanannya menjadi tidak seimbang.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gangguan regulasi ini dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit, termasuk penyakit autoimun pada individu yang memang memiliki kerentanan genetik dan faktor risiko lainnya.

Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel-sel sehat sebagai ancaman. Akibatnya, tubuh justru menyerang dirinya sendiri. Kondisi ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, multiple sclerosis, maupun penyakit Hashimoto.

Penyebab autoimun sendiri bersifat kompleks. Selain faktor genetik, infeksi, hormon, dan lingkungan, stres berkepanjangan juga dinilai dapat menjadi salah satu pemicu yang memperburuk kondisi tersebut.

Hal yang sering luput disadari adalah bahwa stres tidak selalu berasal dari pekerjaan atau tekanan ekonomi. Beban emosional yang dipendam selama bertahun-tahun, kebiasaan terus mengalah demi menyenangkan orang lain, pengalaman traumatis yang tidak pernah diproses, hingga perasaan marah atau sedih yang selalu ditekan juga dapat menjadi sumber stres kronis.

Tubuh mungkin mampu menyembunyikan semuanya untuk sementara waktu, tetapi bukan berarti tubuh tidak merasakannya.

Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya soal pola makan, olahraga, atau tidur yang cukup. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mengakui emosi, mengelola stres dengan cara yang sehat, membangun hubungan sosial yang suportif, hingga mencari bantuan profesional ketika diperlukan juga merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Tubuh memiliki cara sendiri untuk memberi sinyal ketika beban yang dipikul sudah terlalu berat. Mendengarkan sinyal tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Sebab, kesehatan mental dan kesehatan fisik bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi dalam menjaga kualitas hidup.