Empat Hari Berharga: Kisah Kesahajaan dan Kebersamaan

Taslim Reftiardana - Guru SDIT Alam Cahaya Toboali.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Taslim Reftiardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di hari Senin menyambut dengan udara dingin yang masih membawa sisa embun. Sekelompok siswa, termasuk seorang pemuda yang biasanya dipanggil Jabir, berangkat menuju destinasi yang akan menjadi rumah mereka selama empat hari: sebuah desa pesisir yang namanya belum pernah mereka dengar sebelumnya. Perasaan di dada Jabir bergolak, kombinasi antara euforia karena petualangan baru dan rasa gugup yang tak terhindarkan. Ini adalah kali pertama ia akan hidup menyatu dengan ritme desa, jauh dari kenyamanan rutinitas kota. Perjalanan yang memakan waktu cukup panjang akhirnya berujung pada pemandangan tak terduga. Bukan kemewahan, melainkan kesahajaan yang damai. Rumah-rumah kayu yang menghadap laut, dihiasi jaring-jaring ikan yang dijemur, dan aroma asin air laut yang begitu pekat. Setibanya di sana, mereka disambut dengan kehangatan yang meluruhkan segala ketegangan. Penduduk desa, dengan senyum yang tulus dan ramah, seolah telah menanti kedatangan mereka sebagai keluarga lama. Santapan siang yang disajikan pun amat sederhana, namun rasa syukur dan kebersamaan di meja makan menjadikannya hidangan paling lezat yang pernah Jabir cicipi. Antara Pasir dan Aroma Rebon

Aktivitas pertama segera dimulai setelah matahari bergerak meninggi. Mereka diajak langsung ke bibir pantai untuk belajar nyungkur, sebuah kegiatan lokal untuk mencari kerang atau hewan kecil yang tersembunyi di balik pasir. Pemandangan pantai yang luas terhampar di depan mata, namun tantangan pertamanya bukan ombak, melainkan pasir basah. Awalnya, Jabir dan beberapa temannya merasa kesulitan. Kaki mereka sering terperosok dalam lapisan pasir yang labil, gerakan mereka canggung dan hasil yang didapat nihil. Tawa pecah dari penduduk desa yang melihat kegigihan mereka yang konyol. Namun, setelah mendapat instruksi dan mulai menyesuaikan irama tubuh dengan tekstur pasir, ritme itu perlahan ditemukan. Dengan gerakan kaki yang lebih pasti dan menyapu, tangan mereka mulai berhasil menarik keluar tangkapan kecil. Sukacita sederhana menyebar di antara mereka; keberhasilan kecil ini terasa lebih berharga dibanding kemenangan besar di permainan daring. Sore harinya, pelajaran beralih ke dapur komunal. Mereka diajari proses otentik pembuatan terasi, bumbu khas yang terkenal dengan aromanya yang kuat. Udang rebon segar ditebar, digiling, dan dicampur dengan bahan-bahan lain. Aroma terasi yang menyengat memang tak terhindarkan, membuat beberapa siswa menutup hidung sambil tertawa, namun prosesnya sendiri begitu mengasyikkan. Di tengah asap dan bau yang menusuk, mereka bekerja bersama, mengaduk dan mengolah, menciptakan ikatan kerja sama yang manis dan penuh canda. Jabir menyadari, di balik aroma kuat itu, tersimpan kerja keras dan tradisi yang diturunkan turun-temurun.
Menantang Ombak dan Rasa Kemenangan Keesokan harinya, tantangan yang lebih mendebarkan menanti: menjaring ikan langsung di laut. Sebelum fajar menyingsing, para siswa sudah berkumpul di bibir pantai. Suara riuh angin dan lambaian niur memecah keheningan pagi. Begitu mencapai titik penangkapan, adrenalin Jabir meningkat. Ia dan teman-temannya harus ikut berpartisipasi menarik jaring yang telah dilemparkan. Tubuh mereka sesekali diempas oleh ombak kecil yang tak terduga, air laut membasahi pakaian, dan rasa gugup bercampur dengan keberanian. Tenaga mereka yang masih muda diuji untuk melawan bobot jaring yang berat dan arus air yang kuat. Setelah berjuang beberapa saat, tanda-tanda keberhasilan mulai terlihat. Jaring diangkat perlahan, dan seketika pandangan mereka disuguhi kilatan perak dari ikan-ikan segar yang terperangkap. Jeritan kegirangan serentak terdengar, memecah kesunyian laut. Mereka berhasil. Perasaan lelah dan dingin seketika terlupakan, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa. Setelah kembali ke daratan, ikan hasil tangkapan itu diolah bersama-sama. Dengan bimbingan guru pembimbing, mereka membersihkan, membumbui, dan menggoreng ikan di tepi pantai. Makan siang hari itu, meskipun hanya dengan lauk ikan goreng sederhana, terasa jauh lebih nikmat dan berharga. Itu bukan sekadar makanan, melainkan perayaan atas kerja keras, kerja sama, dan tantangan yang berhasil mereka taklukkan.
Tawa di Lapangan dan Hening di Surau Waktu terus berjalan cepat, dan hari-hari berikutnya dipenuhi kegiatan yang memperkaya jiwa dan raga. Mereka terlibat dalam kegiatan prakarya, memanfaatkan bahan-bahan alam seperti cangkang kerang, kayu apung, dan serat kelapa untuk menghasilkan karya seni sederhana. Di sini, kesabaran dan kreativitas mereka diuji. Sore hari diisi dengan kegiatan tradisional yang hampir punah dari ingatan anak kota. Permainan gobak sodor dan engklek menyuguhkan suasana yang berbeda total dari permainan digital di gawai. Ada interaksi fisik, tawa keras, strategi yang dibisikkan, dan teriakan kekalahan yang disambut ejekan ramah. Jabir menyadari bahwa kegembiraan sejati sering kali ditemukan dalam interaksi tatap muka yang sederhana dan tanpa perantara layar. Puncak dari setiap hari adalah kegiatan malam. Mereka berkumpul di surau desa untuk kegiatan keagamaan dan refleksi. Suasana di dalam surau begitu hening dan damai, diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk dari celah jendela. Di momen tenang ini, Jabir merasakan kedekatan batin yang mendalam dengan teman-temannya. Jauh dari hiruk-pikuk dan godaan dunia luar, mereka diajak merenung tentang makna hidup, tentang rasa syukur atas segala hal sederhana, dan tentang pentingnya harmoni dengan sesama dan alam. Refleksi dan Kenangan yang Kekal Empat hari berlalu secepat kedipan mata. Pada hari terakhir, ketika tiba saatnya berpamitan, ada rasa berat yang menyelimuti hati Jabir dan teman-temannya. Senyum tulus dari penduduk desa, yang kini terasa seperti kerabat sendiri, meninggalkan kesan mendalam.
Dari pengalaman live-in singkat ini, mereka membawa pulang pelajaran yang tak ternilai harganya. Mereka belajar tentang kehidupan yang sederhana—bahwa kebahagiaan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari rasa cukup dan kebersamaan. Mereka menyaksikan dan merasakan sendiri pentingnya kerja sama tim dalam menghadapi tantangan, baik itu menarik jaring yang berat atau sekadar membuat adonan terasi. Dan yang tak kalah penting, mereka belajar tentang menjaga alam, melihat bagaimana penduduk desa hidup berdampingan secara harmonis dengan lautan yang memberi mereka kehidupan. Yang paling berkesan bagi Jabir adalah atmosfer yang selalu diliputi canda tawa dan pengalaman baru. Setiap kegiatan, dari yang paling melelahkan hingga yang paling reflektif, diwarnai oleh semangat kekeluargaan. Kenangan tentang kaki yang terperosok di pasir, aroma kuat terasi, teriakan girang saat jaring terangkat, dan malam syahdu di surau—semua itu terangkai menjadi untaian pengalaman berharga. Jabir tahu, perjalanan pulang mungkin akan mengembalikan mereka ke rutinitas lama, namun pelajaran dan ikatan yang terjalin di desa pesisir itu akan menjadi bekal yang kekal dalam memandang hidup. Mereka tidak hanya menyelesaikan program live-in; mereka telah menemukan sepotong kebijaksanaan sederhana dari tepi lautan.
