Malam Penuh Berkah: Tradisi Walimatul Khitan wa Khotmil Qur’an di Desa Rejodadi

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ainun Nur Fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah perkembangan zaman yang serba modern seperti sekarang, masyarakat di desa Rejodadi masih mempertahankan tradisi-tradisi lama yang penuh makna. Salah satu tradisi yang masih dijaga dengan baik adalah acara “Walimatul Khitan wa Khotmil Qur’an”. Acara ini merupakan bentuk syukuran atas dua hal penting sekaligus. Pertama, sebagai perayaan untuk anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an, yaitu berhasil membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Kedua, sebagai bentuk syukur atas khitanan (sunat) anak laki-laki, yang dalam Islam dianggap sebagai salah satu tanda kedewasaan dan kebersihan diri.
Acara ini digelar secara meriah dengan melibatkan keluarga, saudara dan warga sekitar. Tidak hanya sekadar acara mengaji, tetapi juga diramaikan dengan arak-arakan, naik kuda hias, iringan drumband, hingga hiburan malam seperti musik organ tunggal. Masyarakat ikut bergotong royong menyiapkan segalanya mulai dari konsumsi, tempat acara, hingga membantu jalannya kegiatan. Tradisi ini bukan hanya sekadar hajatan keluarga, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebersamaan warga desa.
Khitan, Khataman, Arak-arakan diiringi Pawai Obor dan Hiburan Rakyat
Acara Walimatul Khitan wa Khotmil Qur’an ini dimulai pada malam hari, setelah isya. Malam hari dipilih karena suasananya terasa lebih khidmat dan tenang, cocok untuk kegiatan yang bersifat religius sekaligus meriah.
Rangkaian acara dibuka dengan khotmil Qur’an, yaitu pembacaan ayat-ayat terakhir oleh anak-anak yang telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dari awal sampai akhir. Mereka membacanya satu per satu secara bergantian di hadapan orang tua, keluarga, dan warga desa. Suasananya haru dan syukur, banyak orang tua yang terlihat bangga dan haru, karena ini adalah pencapaian penting dalam kehidupan anak mereka.
Setelah pembacaan doa dan mungkin sambutan singkat dari tokoh agama atau tuan rumah, acara dilanjutkan dengan pawai obor keliling desa. Anak-anak membawa obor yang menyala sambil berjalan beriringan bersama teman-teman mereka. Obor-obor ini menciptakan cahaya yang indah di sepanjang jalan desa yang gelap, membuat suasana terlihat hangat dan sakral.
Pawai obor ini tidak berjalan sendiri, karena biasanya juga disertai dengan drumband yang membunyikan musik dengan semangat. Di saat yang sama, ada juga anak-anak yang naik kuda hias, yaitu kuda yang sudah diberi hiasan warna-warni dan dikawal oleh orang dewasa. Anak-anak yang naik kuda ini adalah mereka yang baru saja khitan atau khatam Qur’an. Mereka biasanya memakai busana muslim, dan terlihat senang serta bangga saat disaksikan banyak orang.
Suasana malam itu benar-benar ramai dan penuh semangat. Jalan-jalan desa dihiasi dengan lampu hias, suara musik dari drumband, dan semangat dari warga yang berjejer di pinggir jalan sambil menyapa peserta pawai. Anak-anak yang tidak ikut pawai pun ikut senang, karena suasana desa terasa seperti sedang ada pesta besar.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan modern, tradisi seperti Walimatul Khitan wa Khotmil Qur’an tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial, tapi memiliki makna yang dalam, baik dari sisi agama maupun sosial. Di dalamnya ada ajaran tentang syukur kepada Allah, pentingnya ilmu agama, serta kebersamaan antarwarga.
Acara ini menunjukkan bahwa masyarakat di desa Rejodadi masih menjaga dan menghormati nilai-nilai yang diwariskan sejak dulu. Meski zaman terus berubah, mereka tidak melupakan akar budaya dan ajaran agama yang telah membentuk kehidupan mereka. Bahkan, melalui acara seperti ini, hubungan antara satu warga dengan warga lainnya justru semakin erat, karena semuanya ikut terlibat mulai dari menyiapkan acara, membantu konsumsi, hingga bergotong royong mengatur jalannya kegiatan.
Tradisi Walimatul Khitan wa Khotmil Qur’an adalah salah satu contoh nyata bahwa agama dan budaya bisa berjalan berdampingan dengan indah. Selain sebagai bentuk rasa syukur, acara ini juga menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai baik kepada anak-anak sejak dini, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Karena itulah, acara seperti ini sangat layak untuk terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi selanjutnya. Bukan hanya sebagai hiburan atau tontonan, tapi sebagai bagian dari identitas lokal yang hangat, bermakna, dan membanggakan.
