Bukan Sekadar Memasak, Mengapa MasterChef Menegangkan?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Affifah Fauzia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
MasterChef Indonesia dikenal sebagai program kompetisi memasak yang mempertemukan para peserta untuk menunjukkan kemampuan mereka di dapur. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, yang disaksikan penonton bukan hanya proses mengolah makanan. Ada tekanan waktu, persaingan, kritik juri, kesalahan peserta, hingga momen-momen tegang yang membuat suasana kompetisi terasa semakin hidup.
Salah satu contohnya terlihat dalam MasterChef Indonesia Season 12 ketika peserta bernama Yosa mendapat teguran dari Chef Juna setelah menggunakan kulit tart instan karena gagal membuat kulit tart sendiri. Saat ditanya mengenai alasannya, Yosa mengatakan bahwa dirinya sempat “nge-blank”. Pernyataan tersebut kemudian membuat suasana penjurian menjadi semakin tegang. Peristiwa tersebut juga menjadi salah satu momen yang diberitakan media hiburan.

Momen seperti itu menunjukkan bahwa daya tarik sebuah program kompetisi tidak hanya berasal dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses yang terjadi selama kompetisi berlangsung.
Ketegangan yang Membuat Kompetisi Lebih Menarik
Dalam sebuah program televisi, penonton membutuhkan alasan untuk terus mengikuti cerita dari satu bagian ke bagian berikutnya. Karena itu, program tidak hanya menyajikan kegiatan utama, tetapi juga membangun dinamika agar tayangan terasa menarik.
Pada MasterChef Indonesia, dinamika tersebut muncul secara alami dari format kompetisinya. Peserta harus menyelesaikan tantangan dalam waktu tertentu, berhadapan dengan peserta lain, kemudian menerima penilaian dari juri. Kesalahan kecil dapat memengaruhi hasil akhir, sedangkan komentar juri dapat membuat suasana menjadi lebih tegang.
Di sinilah konflik menjadi salah satu bagian yang dapat memperkuat daya tarik program. Konflik tidak selalu berarti pertengkaran. Perbedaan penilaian, tekanan waktu, kegagalan memasak, persaingan antarpeserta, hingga kritik dari juri juga dapat menciptakan konflik dalam sebuah tayangan.
Dengan kata lain, ketegangan dalam MasterChef Indonesia sebenarnya sudah menjadi bagian dari format kompetisinya.
Ketika Piring di Atas Meja Penjurian Dilempar
Momen lain yang menunjukkan kuatnya unsur ketegangan terjadi pada MasterChef Indonesia Season 12. Pada salah satu sesi penjurian yang tayang 16 Maret 2025, Chef Juna tiba-tiba melempar sebuah piring hingga pecah ketika hidangan Jane dan Vini sedang dinilai. Keduanya saat itu sedang berkompetisi dalam tantangan memasak berbahan utama ikan.
Tindakan tersebut tentu menjadi momen yang mengejutkan. Perhatian penonton tidak lagi hanya tertuju pada makanan yang sedang dinilai, tetapi juga pada reaksi peserta dan suasana di dalam galeri.
Jika dilihat dari sisi programming televisi, momen seperti ini memiliki unsur ketidakpastian dan konflik. Penonton tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi dalam proses penjurian. Ketika muncul tindakan yang tidak terduga, perhatian penonton dapat semakin tertuju pada tayangan.
Namun, di sisi lain, terdapat hal yang perlu diperhatikan. Ketegangan seharusnya tetap memiliki hubungan dengan kompetisi memasak. Kritik yang diberikan juri, misalnya, akan lebih bermakna apabila penonton juga memahami apa yang menjadi kesalahan peserta, baik dari segi teknik, rasa, maupun penyajian.
Dengan begitu, konflik tidak hanya menjadi tontonan emosional, tetapi juga menjadi bagian dari cerita kompetisi.
Antara Hiburan dan Identitas Program
MasterChef Indonesia pada dasarnya merupakan program kompetisi kuliner. Artinya, kemampuan peserta dalam mengolah makanan tetap menjadi bagian utama dari acara.
Karena itu, unsur hiburan dan konflik perlu berjalan berdampingan dengan proses memasak. Ketika peserta melakukan kesalahan, misalnya, penonton tidak hanya melihat peserta mendapat teguran, tetapi juga dapat mengetahui mengapa kesalahan tersebut terjadi dan bagaimana seharusnya sebuah hidangan dibuat.
Hal tersebut membuat kritik dari juri memiliki fungsi yang lebih luas. Kritik bukan hanya menciptakan ketegangan, tetapi juga memberikan informasi kepada penonton mengenai standar yang digunakan dalam sebuah kompetisi memasak.
Begitu pula dengan persaingan antarpeserta. Persaingan dapat membuat penonton penasaran dengan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang harus pulang. Dari sini, program memiliki alur yang membuat penonton ingin mengetahui kelanjutan kompetisi pada episode berikutnya.
Konflik Boleh Menarik Perhatian, tetapi Jangan Mengalahkan Kompetisi
Konflik memang dapat menjadi salah satu unsur yang membuat MasterChef Indonesia terasa lebih dinamis. Teguran juri, kesalahan peserta, persaingan, maupun kejadian yang tidak terduga dapat memberikan warna tersendiri dalam sebuah episode.
Namun, daya tarik tersebut tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Jika penonton justru lebih mengingat pertengkaran atau reaksi emosional dibandingkan proses memasak dan kemampuan peserta, fokus utama program dapat menjadi kurang terlihat.
Karena itu, konflik sebaiknya digunakan sebagai bagian dari cerita, bukan sebagai satu-satunya alasan sebuah program menarik untuk ditonton. Ketika ketegangan tetap berkaitan dengan tantangan, makanan, dan kemampuan peserta, unsur hiburan justru dapat memperkuat identitas MasterChef Indonesia sebagai program kompetisi memasak.
Pada akhirnya, menariknya sebuah program televisi tidak hanya ditentukan oleh apa yang ditampilkan, tetapi juga bagaimana berbagai unsur di dalamnya dikemas. MasterChef Indonesia memperlihatkan bahwa proses memasak, persaingan, penilaian, dan konflik dapat saling melengkapi untuk membangun sebuah tayangan yang membuat penonton ingin terus mengikuti kompetisi.
