Hari Pendidikan Nasional: Saatnya Berhenti Seremonial, Mulai Serius Membenahi

Saya Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Boyolali yang aktif belajar dan berkontribusi dalam pengembangan diri. Tulisan saya hadir sebagai wadah untuk memperjuangkan, menuntut perubahan, dan membangkitkan kesadaran masyarakat.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Agastya Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan cuma pengingat bahwa kita pernah punya tokoh hebat seperti Ki Hadjar Dewantara. Lebih dari itu, ini adalah alarm yang membunyikan panggilan untuk refleksi: sudah sejauh mana kita menempatkan pendidikan sebagai pondasi bangsa?

Faktanya, jutaan anak di pelosok negeri masih berjuang sekadar untuk bisa sekolah. Guru honorer masih banyak yang digaji tak sepadan dengan pengabdian. Di kota, anak-anak dicekoki dengan kurikulum padat, tapi minim makna. Pendidikan jadi perlombaan nilai, bukan proses pembentukan karakter.
Kita hidup di zaman yang serba cepat—AI berkembang, dunia kerja berubah drastis, dan kreativitas jadi mata uang baru. Namun sistem pendidikan kita masih terjebak pada pola lama: satu arah, kaku, dan sering kali tak relevan. Padahal, tantangan zaman tak akan menunggu kita siap.
Hari Pendidikan Nasional adalah momen untuk jujur—mengakui bahwa banyak hal belum beres. Tapi ini juga momen harapan. Jika kita mau serius, perubahan itu mungkin. Dimulai dari mendengarkan suara guru dan murid, dari menyederhanakan sistem yang ruwet, hingga menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama, bukan beban birokrasi.
Mari berhenti menjadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai seremoni tahunan. Jadikan ia sebagai titik tolak untuk membangun masa depan yang lebih terang lewat pendidikan yang membebaskan, memanusiakan, dan memampukan.
