Awas Malware Baru yang Bisa Curi PIN sampai Intip Chat WA, Incar Pengguna RI

Tim riset keamanan siber zLabs dari Zimperium mengungkap temuan malware Android baru yang menyasar khusus pengguna di Indonesia yang memiliki kemampuan "hack" yang canggih mulai dari mencuri PIN, memantau layar, hingga melihat percakapan di WhatsApp (WA).
Malware ini bernama Mantax Otax, dan tergolong berbahaya karena menggabungkan dua jenis ancaman sekaligus dalam satu aplikasi: spyware (mata-mata) dan ransomware (penyanderaan data).
Menurut laporan Zimperium pada 9 September 2026, kombinasi ini jarang ditemukan pada malware HP pada umumnya. Biasanya sebuah malware hanya fokus mencuri data atau hanya mengenkripsi file untuk meminta tebusan, bukan keduanya sekaligus.
Mantax Otax tidak disebarkan lewat Google Play Store, melainkan dalam bentuk file APK yang diunggah ke layanan berbagi file pihak ketiga. Korban biasanya dibujuk untuk mengunduh dan memasang aplikasi tersebut secara manual melalui tautan yang dibagikan di aplikasi pesan, media sosial, atau pesan phishing.
Begitu terpasang, aplikasi langsung meminta akses sebagai administrator perangkat, lalu meminta izin luas seperti akses SMS, kontak, mikrofon, dan galeri foto. Tahap terakhir dan paling berbahaya adalah permintaan izin aksesibilitas (accessibility), yang jika disetujui pengguna, praktis memberi pelaku kendali penuh atas ponsel korban.
Bahaya Setelah Malware Terinstall
Ketika pengguna mulai menginstall malware ini dan memberikan semua izin, Mantax Otax otomatis memiliki kemampuan untuk:
Merekam layar secara real-time dan menyiarkannya langsung ke penyerang.
Mencuri PIN kunci layar dengan menyamar sebagai proses penguncian sistem.
Mengambil riwayat browser, kontak, log panggilan, dan SMS — termasuk kode OTP (kode verifikasi dua langkah).
Diam-diam memotret memakai kamera depan maupun belakang tanpa sepengetahuan korban.
Menyadap WhatsApp dan Telegram: Mengambil profil akun, membaca isi chat, dan mengumpulkan nama kontak lewat layanan aksesibilitas.
Melacak lokasi, riwayat aplikasi yang terpasang, hingga akun Google yang terhubung di perangkat.
Semua hasil curian ini, termasuk rekaman layar dan foto diam-diam, dikirim ke server penyerang melalui layanan hosting file pihak ketiga bernama Catbox.
Selain mengintai, Mantax Otax juga bisa mengunci file korban. Pada ponsel dengan Android versi lama (Android 9 ke bawah), malware ini bisa menjelajahi penyimpanan eksternal dan mengenkripsi berbagai jenis file—mulai dari foto, video, dokumen, hingga arsip—menggunakan algoritma AES. File asli lalu dihapus dan diganti dengan versi terenkripsi.
Sebagai "gertakan" tambahan, malware ini bahkan mengubah foto-foto di galeri korban menjadi gambar bertuliskan pesan tebusan: "Your files have been encrypted. Pay to decrypt." Setelah itu, muncul jendela obrolan interaktif di layar yang digunakan pelaku untuk bernegosiasi tebusan langsung dengan korban.
Kabar baiknya, pada ponsel dengan Android 10 ke atas, fitur pengamanan bawaan sistem (Scoped Storage) membuat jangkauan enkripsi malware ini jauh lebih terbatas.
Fokus ke Korban di Indonesia
Zimperium menyebut indikasi bahasa dan berkas yang ditemukan menunjukkan pelaku memang menyasar korban di Indonesia secara spesifik.
Ada dua varian malware ini. Versi terbarunya bahkan dilengkapi fitur-fitur untuk meneror korban secara psikologis, seperti:
Mengunci layar penuh dan memblokir akses ke aplikasi lain
Memunculkan pop-up peringatan secara terus-menerus tanpa henti
Menampilkan overlay video atau gambar "jumpscare" berulang setiap beberapa ratus milidetik untuk membuat korban panik sekaligus menyamarkan aktivitas pencurian data yang berjalan di latar belakang
Memutar suara ancaman secara otomatis lewat fitur text-to-speech di perangkat korban
Karena penyebaran malware ini terjadi secara manual, HP-mu tak akan kena kalau kamu tidak menginstall-nya sendiri. Jadi jangan coba-coba unduh dan pasang aplikasi dari situs sembarangan atau dari tautan random yang dikirim via chat atau media sosial, ya!
