Ibu, Ibu, Ibu…

Pemerhati Sosial Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Agus Jatmika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita menyebut kata ibu hampir setiap hari. Namun, seberapa sering kita benar-benar berhenti untuk memikirkannya? Di Hari Ibu ini, kata itu kembali diulang , hangat, akrab, tetapi sering kali selesai di bibir.
Ibu, ibu, ibu…
Pengulangan yang terdengar sederhana, namun menyimpan relasi paling awal yang membentuk cara kita hidup. Dalam keseharian, ibu jarang tampil sebagai pusat cerita. Ia hadir sebagai latar yang membuat hidup tetap berjalan , pagi yang dimulai lebih awal, siang yang diisi kesibukan, malam yang ditutup dengan lelah. Semua berlangsung nyaris tanpa catatan, karena kita terbiasa menganggapnya wajar.
Padahal, di balik kewajaran itu, ada kerja panjang yang jarang dibicarakan.
Budaya kita membentuk ibu sebagai sosok yang kuat, terlalu kuat, bahkan. Ia diharapkan mampu mengurus, memahami, dan mengalah, sering kali tanpa ruang untuk berhenti. Ketika ibu lelah, ia diminta bersabar. Ketika ibu diam, ia dianggap mengerti. Seolah-olah kelelahan ibu adalah bagian dari tugas, bukan pengalaman manusiawi. Di titik inilah ibu menjadi figur yang akrab dengan pengorbanan, tetapi jauh dari pengakuan.
Hari ini, banyak ibu hidup dalam peran yang berlapis. Mereka bekerja di ruang publik, namun tetap memikul tanggung jawab utama di ruang domestik. Tuntutan bertambah, tetapi pembagian peran tidak selalu berubah. Ketika ibu mampu menjalani semuanya, ia dipuji luar biasa. Ketika tidak, ia dinilai kurang berusaha. Standar itu terdengar halus, tetapi dampaknya terasa berat.
Hari Ibu sering dirayakan dengan kehangatan, tetapi jarang dengan pertanyaan yang jujur.
Padahal, ibu bukan satu cerita yang seragam. Ada ibu yang hadir penuh setiap hari. Ada yang hanya bisa hadir lewat suara dan doa. Ada pula ibu yang relasinya dengan anak tidak selalu hangat—dan itu pun bagian dari kenyataan. Mengidealkan ibu secara berlebihan justru menjauhkan kita dari pemahaman bahwa ia juga manusia, dengan batas dan luka.
Memahami ibu bukan soal memujanya, melainkan tentang memanusiakannya.
Hari Ibu seharusnya memberi kita jeda. Jeda untuk menengok kembali bagaimana peran ibu dibentuk dan dibebankan. Jeda untuk menyadari bahwa merawat bukan hanya soal cinta, tetapi juga soal keadilan dan tanggung jawab bersama. Sebab menghormati ibu tidak cukup dengan satu hari perayaan.
Ia hidup dalam hal-hal kecil seperti dalam kesediaan mendengar tanpa menyela, dalam pembagian peran yang lebih setara, dalam empati yang tidak menunggu ibu benar-benar lelah.
Ibu, ibu, ibu…
Kata yang terus kita ucapkan, semoga tidak berhenti sebagai kebiasaan, tetapi berubah menjadi kesadaran.
Selamat Hari Ibu.
Untuk ibu yang masih kita temui setiap hari, yang kita simpan dalam ingatan, dan yang berjuang dalam diam. Semoga hari ini membuat kita bukan hanya mengingat ibu, tetapi juga belajar lebih adil kepadanya, hari ini, dan seterusnya.
