Konten dari Pengguna

Tuntutan Melek Digital

Ahmad Febriyanto

Ahmad Febriyanto

Forum Studi Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Febriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

com-ilustrasi digitalisasi: Shutterstok
zoom-in-whitePerbesar
com-ilustrasi digitalisasi: Shutterstok

Disrupsi digital pada era modern tampaknya semakin menunjukkan keniscayaan. Keniscayaan akan digitalisasi tidak hanya mengacu pada adopsi digital, melainkan hingga ketergantungan manusia atas penggunaan digital dalam kehidupan.

Kondisi tersebut didukung dengan kondisi pandemi Covid-19 yang memaksa setiap individu untuk lebih akrab dengan digital. Bagaimana tidak? Kondisi pandemi selama hampir dua tahun menuntut terbatasnya kontak fisik dan membuka batasan-batasan global dalam ruang digital.

Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa digital telah berhasil menjalankan tugasnya. Tugas dan fungsi utama daripada digital pada awalnya dimaksudkan untuk membantu kehidupan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan praktis.

Tujuannya adalah efektivitas dan efisiensi kinerja. Tidak dapat dimungkiri, kebermanfaatan tersebut pada saat ini memang benar telah dirasakan oleh masyarakat luas. Hal tersebut yang pada akhirnya, secara langsung dan tidak langsung mengubah perilaku manusia dalam menjalani kehidupan.

Hal sederhana yang tidak pernah terbayangkan adalah layanan yang dapat diperoleh dengan menggunakan telepon genggam. Perlu diingat bersama bahwa pada era 1970 hingga 1980-an telepon hanya dapat diakses menggunakan telepon umum.

Namun hanya dalam kurun waktu dua dekade, kenyataan tersebut dapat berubah. Telepon genggam tidak hanya menghadirkan layanan menerima telepon dan pesan saja, melainkan juga memainkan peran penting dalam kehidupan manusia era ini. Artinya perkembangan teknologi dan digital menjadi sangat cepat dan masif.

Masifnya perkembangan tersebut juga memberi ciri bahwa perkembangan digitalisasi akan terus terjadi dan selaras dengan perkembangan kehidupan manusia. Sederhananya eksplorasi atas teknologi dan digital akan terus berlanjut, dengan tujuan utama sederhana yaitu memudahkan pekerjaan manusia.

Perkembangan tersebut memberi dua makna yang akan nampak kontradiksi. Digitalisasi dapat dimaknai sebagai kebermanfaatan bagi mereka yang dapat mengadopsi digital dan mengoperasikan digital (high technology). Sisi lain, menjadi tantangan bagi mereka yang berada dalam situasi ketidakmampuan dalam mengadopsi digital (high touch).

Sudut Pandang

Dua kelompok individu era digital tersebut dipaparkan jelas oleh Saputro dkk (2022) dalam buku Digitalisasi Perbankan, bahwa kelompok high technology akan mengacu pada kelompok individu yang terbiasa dan bisa menggunakan digital dalam kehidupan (seperti generasi Z dan masyarakat perkotaan).

Sedangkan kelompok high touch akan mengacu pada kelompok individu yang masih mengharapkan pelayanan langsung atau offline (seperti generasi tua dan masyarakat daerah terpencil).

Artinya memaknai digital, tidak hanya berada pada fase kebermanfaatan yang lebih cenderung dipandang dari sudut kelompok high tech. Melainkan, perlu untuk memaknai digital dari sudut pandang kelompok high touch yang masih memiliki kecenderungan pada layanan langsung.

Meskipun banyak faktor yang kemudian menjadikan mereka memilih layanan langsung, termasuk kemudahan jaringan, pertimbangan risiko, dan keterbatasan pengetahuan tentang digital.

Beberapa faktor tersebut mensyaratkan peralihan digital kelompok high touch akan melibatkan peran multisektoral. Tidak hanya pemerintah, melainkan pihak penyedia layanan internet, dan komunitas akan sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Kenapa demikian? Sebab beralih untuk menggunakan teknologi atau digital pada era ini memang menjadi tuntutan. Sehingga pilihan untuk mengikuti perkembangan zaman atau tergilas dengan perkembangan zaman tampaknya menjadi pilihan yang tepat.

Adanya kelompok masyarakat tipe high touch tersebut juga menjadi suatu fakta, bahwa digitalisasi tidak dapat jika dimaknai dengan memberi kemudahan, sebab faktor keamanan dan risiko juga menjadi sangat penting.

Digitalisasi yang membuka batasan ruang dan waktu tersebut seolah memberi indikasi bahwa ruang sosial sudah berada di depan mata. Artinya kemandirian atas data dan privasi individu merupakan tanggung jawab pribadi dalam berdigital.

Bijak Berdigital

Mengubah kelompok high touch menuju high tech tidak hanya pada perilaku praktis seperti penggunaan layanan perbankan digital, mengunggah postingan instagram, atau belanja online. Tuntutan bijak berdigital juga menjadi sangat penting untuk diterapkan.

Bijak berdigital akan mengacu pada perhatian individu atas privasi dana dan data yang dimiliki dalam penggunaan digital. Pesatnya penggunaan teknologi tidak dapat menjadi cerminan masyarakat telah bijak dalam menggunakan digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkap bahwa proporsi responden yang dapat melakukan langkah pengamanan digital masih berada di bawah 50 persen. Selain itu pada tingkat kemampuan keamanan digital dalam membedakan e-mail berisi virus atau malware secara mandiri hanya berkisar 24,1 persen responden.

Artinya tingkat kesadaran akan keamanan para pengguna digital masih perlu ditingkatkan. Pentingnya meningkatkan kesadaran juga dapat berkaca pada sejumlah kasus yang terjadi, seperti undangan pernikahan melalui Whatsapp dan modus menggunakan link untuk mencuri data atau dana seseorang.

Keahlian untuk mengamankan dana dan data pribadi tersebut akan berkaitan erat dengan kesadaran para pelaku digital. Kesadaran setiap individu pengguna digital menjadi sangat penting untuk menghadapi era disrupsi digital.

Digital tidak hanya mengandung kemudahan, melainkan juga hadir bersamaan dengan setiap risiko yang ada. Sehingga, langkah preventif pengamanan data pribadi juga perlu dikuasai baik kelompok high tech ataupun kelompok high touch yang didorong menuju high tech.

Perubahan menuju melek digital juga akan dibersamai dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan digital dalam kehidupan sehari-hari dan mampu mengantisipasi setiap risiko yang hadir. Akhirnya, digitalisasi dapat dimaknai memberi kemudahan dan keamanan yang juga didukung dengan kesadaran dan kemauan pribadi untuk mewujudkan hal tersebut.