KKN-BBK 7 UNAIR Perkuat Partisipasi Melalui Posyandu di Lamongan

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Idris Al-Hammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Balai Posyandu RW 2 Desa Kedungpring, Kecamatan Kedungpring, Lamongan, menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa dan warga pada Rabu pagi, 7 Januari 2026. Sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, kegiatan Posyandu berlangsung dengan suasana hangat, melibatkan partisipasi BBK-7 UNAIR bersama Kader Posyandu Desa Kedungpring dan masyarakat setempat guna perkuat kesadaran akan kesehatan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Belajar Bersama Komunitas Universitas Airlangga (BBK-7 UNAIR), sebuah bentuk pengabdian mahasiswa yang menempatkan warga sebagai subjek utama. Dalam semangat tersebut, mahasiswa tidak hadir sebagai pelaksana tunggal, melainkan sebagai mitra belajar yang terlibat secara langsung dalam aktivitas kesehatan masyarakat desa, khususnya melalui kegiatan rutin Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh dan menyasar antarlintas kelompok usia. Sasaran kegiatan meliputi: balita, remaja, ibu produktif, hingga lansia. Jenis layanan yang diberikan mencakup pengukuran Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB), Lingkar Perut (LP), Lingkar Lengan Atas (LILA), Lingkar Kepala (LIKA), serta pemeriksaan Gula Darah Acak (GDA) bagi peserta lansia sebagai langkah deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM).
Sebanyak 18 balita dan ibu usia produktif, 30 remaja, serta 2 lansia mengikuti kegiatan ini. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh perwakilan Kader Posyandu Desa Kedungpring yang menekankan pentingnya Posyandu sebagai layanan kesehatan dasar sekaligus ruang edukasi masyarakat. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan secara bergiliran dengan pendampingan kader dan mahasiswa dari BBK-7 UNAIR.
Melalui kegiatan ini, isu kesehatan diposisikan sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) desa. Pemeriksaan rutin, pemantauan tumbuh kembang balita, serta pengecekan kesehatan remaja dan lansia menjadi praktik nyata dari Sustainable Development Goals, khususnya relevansinya pada poin ke-3, yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”. Upaya promotif dan preventif ini diharapkan mampu meminimalkan risiko stunting, masalah gizi, serta penyakit degeneratif sejak dini.
Di sisi lain, keterlibatan aktif mahasiswa, kader Posyandu, dan antusias dari warga setempat juga turut mencerminkan implementasi SDGs poin ke-17 (Partnerships for the Goals) tentang kemitraan. Kolaborasi lintas peran ini menunjukkan, bahwa pencapaian tujuan kesehatan tidak dapat berjalan secara top–down, melainkan membutuhkan partisipasi dan kepemilikan bersama dari komunitas lokal.
Bagi mahasiswa BBK-7 Universitas Airlangga, Posyandu menjadi ruang belajar kontekstual untuk memahami realitas kesehatan masyarakat desa, khususnya di Desa Kedungpring Kabupaten Lamongan. Interaksi langsung dengan warga membuka pemahaman bahwa kesehatan tidak hanya soal pemeriksaan medis, tetapi juga berkaitan dengan pola dan gaya hidup, kesadaran, serta keberlanjutan peran komunitas.
Kegiatan ini ditutup dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada para peserta Posyandu. Lebih dari sekadar pelengkap, PMT menjadi simbol perhatian terhadap pemenuhan gizi sekaligus pengingat bahwa upaya membangun kesehatan desa dimulai dari langkah sederhana dan partisipatif. Dari Desa Kedungpring Kabupaten Lamongan, praktik kecil ini memperlihatkan bagaimana nilai SDGs dapat dihidupkan melalui kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat.
(Berita ini mendukung SDGs poin ke-3 dan 17)
