Konten dari Pengguna

'Pagebluk' Corona dan Modal Sosial Orang Indonesia

Ahmad Juwari

Ahmad Juwari

Mantan wartawan & ASN di Badan Kepegawaian Negara

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Juwari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: kumparan.com

Beberapa hari terakhir saya berkesempatan mengunjungi kampung halaman di Bantul, Yogyakarta. Karena orang tua sedang sakit, bergegas saya dari Jakarta mengurus tes bebas Covid-19 dan melakukan perjalanan untuk mendampingi orang tua saya di RS.

Hampir lima bulan sebenarnya 'pageblug' Corona memisahkan saya dan orang tua dan itu juga sampai saat ini masih terjadi. Tidak hanya saya, bahkan Anda yang saat ini membaca juga mengalami hal yang sama. Terpisah dengan keluarga.

Terlepas dari itu semua, setiba di Yogyakarta yang notabene juga terimbas Corona, melihat bagaimana perspektif masyarakat terutama di desa merupakan hal yang menarik dibandingkan dengan apa yang terjadi di ibukota Jakarta. Perbandingan bisa disebut juga antara masyarakat yang individualistik layaknya karakter orang kota seperti halnya Jakarta dan masyarakat yang guyub yang ada di pedesaan di Bantul, Yogyakarta.

Dari sisi angka-angka kasus Corona di dua daerah tersebut barangkali tidak sebanding. Apalagi kepadatan penduduknya.

Namun, satu hal yang mencolok dan menjadi pesan penting bagi penanganan Covid-19 adalah modal sosial. Di daerah pedesaan modal sosial seperti halnya gotong royong, kerja bakti, rasa percaya (trust) masih kental.

Masyarakat pedesaan memantau orang-orang yang keluar masuk desanya. Jejaring komunikasi yang bersifat informal mampu melacak siapa-siapa yang dicurigai berpotensi membawa virus. Ada positif dan negatifnya, di satu sisi efektif melakukan tracing, namun jika berlebihan sikap ini justru berpotensi konflik jika tidak dikomunikasikan dengan benar.

Di lingkungan pedesaan, nilai-nilai kepedulian dan kegotongroyongan juga masih tinggi. Tidak hanya ketika Corona mewabah, setiap kali ada bencana alam otomatis masyarakat akan bahu membahu tanpa menunggu pemerintah mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Ketika gempa bumi 2006 di Bantul misalnya, nilai gotong royong masyakarat membuat rehabilitasi bisa dilakukan dengan cepat.

Indikasi karakteristik masyarakat pedesaan yang komunal dan kaya akan modal sosial terlihat saat awal-awal wabah Corona terjadi. Di berbagai desa, upaya menutup desa/lockdown lokal dilakukan dengan cara mereka sendiri-sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah.

Apakah di kota tidak ada modal sosial seperti di desa? Jawabannya pasti ada. Namun barangkali tidak lebih tinggi dari apa yang dimiliki masyarakat pedesaan..

Jika kita melepas status desa dan kota, pemerintah perlu melihat modal sosial masyakat. Di daerah kota pun sepertihalnya Jakarta, modal sosial bisa dibangun, diberdayakan dan dikembangkan untuk menangani Corona.

Efektivitas Kebijakan

Kebijakan lebih efektif ketika adanya partisipasi yang tinggi, dalam hal ini keterlibatan masyarakat. Belajar dari apa yang terjadi di lingkungan pedesaan, baik pemerintah dan masyarakat bersama-sama aktif dalam penanganan Corona. Kewajiban menggunakan masker misalnya, tidak hanya satu arah dari pemerintah ke masyarakat namun pemerintah bisa mengaktifkan komunitas, organisasi masyarakat maupun kelompok sosial lainnya untuk aktif berdisiplin menggunakan masker. Sanksinya tidak hanya dari pemerintah namun juga mampu memunculkan sanksi sosial bagi para pelanggar.

Dengan kondisi extraordinary saat ini, peran pemerintah tidak akan cukup. Masyarakat sendiri memiliki peran vital dengan menggunakan potensi modal sosial yang sudah ada selama ini.

Karakter masyarakat Indonesia sendiri sudah dikenal sebagai masyarakat yang memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Baik di desa maupun di kota memiliki kewajiban yang sama untuk melestarikan modal sosial dalam rangka penanganan Corona.

Jika masyarakat dan komunitas di dalamnya sadar pentingnya keterikatan dan modal sosial tersebut, tentunya akan memudahkan pemerintah bersama-sama melawan Corona.

Sudah banyak pelajaran yang bisa diambil dari pemerintah negara lain baik terburuk maupun terbaiknya. Namun yang patut digarisbawahi selain dari pemerintah sendiri yang berusaha keras mengatasi wabah, ada masyarakat yang disiplin, peduli, gotong royong yang kuat yang mampu menyeimbangkan usaha pemerintah terbebas dari Corona.

Ahmad Juwari, ASN warga Bantul