Konten dari Pengguna

Menjadi Mahasiswa: Mengejar Angka atau Menciptakan Perubahan?

Ahmad Ripai

Ahmad Ripai

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Ripai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar hasil AI

Menjadi mahasiswa sering kali identik dengan mengejar nilai. Hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu berusaha mendapatkan IPK setinggi mungkin. Tidak ada yang salah dengan itu. IPK tetap penting sebagai salah satu bentuk pencapaian akademik dan dalam beberapa kesempatan memang dapat menjadi pertimbangan untuk beasiswa, pekerjaan, maupun melanjutkan pendidikan. Namun, apakah menjadi mahasiswa hanya tentang seberapa tinggi angka yang tercantum di transkrip nilai?

Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan nilai, tetapi juga ruang untuk belajar memahami persoalan dan mencari cara untuk menyelesaikannya. Ilmu yang dipelajari di kelas pada akhirnya memiliki hubungan dengan kehidupan di luar kampus. Seorang mahasiswa teknik tidak hanya belajar menghitung atau merancang, tetapi juga dapat menggunakan ilmunya untuk membuat teknologi yang lebih bermanfaat. Mahasiswa pendidikan dapat belajar bagaimana menciptakan proses belajar yang lebih baik. Begitu pula mahasiswa dari bidang lain yang memiliki pengetahuan dan keahliannya masing-masing.

Namun dalam kenyataannya, tekanan akademik terkadang membuat mahasiswa terlalu fokus pada angka. Ada yang rela mengejar nilai tinggi sampai menghabiskan seluruh waktunya untuk tugas dan ujian, tetapi hampir tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti organisasi, kegiatan sosial, penelitian, proyek, atau kegiatan lain yang dapat mempertemukan ilmu dengan persoalan nyata.

Di sisi lain, terlalu sering mengatakan bahwa “IPK tidak penting” juga bukan solusi. Mahasiswa tetap perlu memiliki dasar akademik yang baik. Bagaimana seseorang bisa memberikan dampak melalui ilmunya jika ia sendiri tidak berusaha memahami apa yang dipelajarinya? Masalahnya bukan pada mengejar IPK, tetapi ketika IPK menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Menjadi mahasiswa juga berarti memiliki kesempatan untuk mencoba. Mengikuti organisasi, menjadi relawan, melakukan penelitian, membangun proyek, mengajar, membuat usaha, atau sekadar membantu menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari proses belajar. Dari sana mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghadapi kegagalan, dan memahami bahwa persoalan di dunia nyata tidak selalu memiliki jawaban seperti soal ujian.

Bayangkan jika seorang mahasiswa memiliki IPK tinggi, tetapi ketika diminta bekerja dalam tim ia kesulitan berkomunikasi. Atau memiliki pengetahuan yang sangat baik, tetapi tidak pernah mencoba menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan di sekitarnya. Tentu saja IPK tersebut tetap merupakan sebuah pencapaian. Namun, pendidikan yang diperoleh selama bertahun-tahun seharusnya dapat menghasilkan lebih dari sekadar angka.

Begitu pula sebaliknya, mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan tidak seharusnya menjadikan aktivitas tersebut sebagai alasan untuk mengabaikan akademik. Dampak tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Membantu teman memahami materi, membuat kegiatan edukasi, melakukan penelitian sederhana, menciptakan sebuah alat, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat juga merupakan bentuk kontribusi.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “IPK atau dampak bagi masyarakat?” Keduanya tidak harus dipertentangkan. IPK menunjukkan bagaimana kita menjalani proses akademik, sedangkan dampak menunjukkan bagaimana kita menggunakan apa yang telah kita pelajari.

Pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk lulus. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk hidup di tengah masyarakat. Dan ketika masa kuliah berakhir, yang tersisa seharusnya bukan hanya angka di transkrip, tetapi juga pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan sesuatu yang pernah kita lakukan untuk orang lain.

Sebab mungkin pertanyaan yang lebih penting setelah kita lulus bukan hanya, “Berapa IPK saya?”, tetapi juga, “Apa yang pernah saya lakukan dengan ilmu yang saya punya?”