'Combo' Penyebab Banjir Bandang Nepal dan Alarm Perubahan Iklim Global

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Banjir bandang yang menerjang Nepal datang tak terduga. Penyebabnya, runtuhnya gletser dan jebolnya bendungan es bak 'combo', terjadi bersamaan dalam waktu singkat.

Peristiwa ini jadi pengingat: perubahan iklim global makin menampakkan dampak nyata.

"Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard) dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dalam rentang waktu yang sangat singkat," ujar Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, dalam keterangannya, Jumat (28/8).

instagram embed

Daryono, menjelaskan rangkaian bencana itu bermula dari dinamika kriosfer di wilayah pegunungan dengan elevasi tinggi. Menurutnya, peningkatan suhu atmosfer mempercepat proses pencairan es dan memengaruhi kestabilan gletser.

"Rangkaian bencana ini bermula di wilayah elevasi tinggi Pegunungan Himalaya, di mana akumulasi pemanasan suhu atmosfer mempercepat proses dinamika kriosfer secara ekstrem," kata Daryono.

Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Daryono menjelaskan, air hasil pencairan es dapat masuk melalui celah-celah gletser dan terakumulasi di antara lapisan es dengan batuan penopangnya. Kondisi tersebut kemudian mengurangi daya gesek pada dasar gletser sehingga memperlemah kestabilan massa es di lereng terjal.

Ketidakstabilan itu kemudian dapat mencapai titik kritis hingga menyebabkan massa es dan batuan dalam volume besar runtuh secara tiba-tiba atau glacier collapse.

Peta bencana banjir bandang di Nepal yang berbatasan dengan Tibet (wilayah otonom China), Agustus 2026. Foto: Google Maps

Menurut Daryono, material yang runtuh dari ketinggian lebih dari satu kilometer kemudian menghantam dasar lembah dengan energi kinetik sangat besar. Benturan tersebut menghasilkan getaran yang dapat menyerupai guncangan gempa bumi.

"Energi kinetik yang sangat besar, sebanding dengan guncangan tektonik skala sedang (Mag. 5,0 - 5,2) yang seketika menghancurkan material es menjadi pecahan mikroskopis, lumpur, dan lelehan air akibat konversi suhu dari gesekan mendadak," kata mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini.

Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Runtuhan es dan batuan selanjutnya menyumbat aliran sungai di lembah bagian bawah. Material tersebut membentuk bendungan alami berupa campuran longsoran dan es atau landslide and ice dam.

Penyumbatan membuat aliran sungai tertahan dan air lelehan dari wilayah hulu terus terakumulasi. Dalam waktu singkat, terbentuk danau sementara di balik material longsoran tersebut.

Tekanan air yang terus meningkat kemudian dapat membuat bendungan alami kehilangan kestabilannya hingga akhirnya jebol atau breach.

"​Ketika struktur penahan yang tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika (breach)," jelas Daryono.

Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Jebolnya bendungan alami itu memicu outburst flood atau banjir akibat jebolnya bendungan. Air dalam volume besar meluncur ke wilayah hilir dengan membawa lumpur, batuan, dan material debris.

"​Daya hancur material aliran debris (debris flow) yang memiliki massa jenis jauh lebih berat daripada air biasa tersebut dengan mudah merobohkan benteng bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bersih infrastruktur pemukiman warga di tepi aliran," kata dia.

Kondisi semakin berbahaya karena jeda antara jebolnya bendungan alami dan tibanya gelombang banjir di wilayah hilir sangat singkat. Hal itu membuat masyarakat memiliki sedikit waktu untuk melakukan evakuasi.

"Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan," jelas Daryono.