Konten dari Pengguna

Beban Kurikulum Membuat Siswa Indonesia Stres dan Sulit Berprestasi

Ahmad Syafii

Ahmad Syafii

Kuliah: uin syarif hidayatullah jakarta Jurusan: Manajemen Pendidikan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syafii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kurikulum pendidikan di Indonesia sering kali dianggap terlalu berat, mengakibatkan stres di kalangan siswa. Dengan penekanan pada ujian nasional dan kompetisi akademis, banyak siswa merasa tertekan untuk mencapai standar yang tinggi. Artikel ini akan membahas penyebab stres di kalangan siswa, dampak terhadap prestasi, serta solusi yang dapat diterapkan. Berikut beberapa poin penyebab Stres pada siswa :

Foto Siswa Mi Alhidayah Cipayung Depok. Sedang Belajar matematika yang sudah menerapkan kurikulum merdeka. Sudah selayaknya untuk menuju Indonesia emas kurikulum merdeka menjadi hal yang efektif untuk para siswa. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Siswa Mi Alhidayah Cipayung Depok. Sedang Belajar matematika yang sudah menerapkan kurikulum merdeka. Sudah selayaknya untuk menuju Indonesia emas kurikulum merdeka menjadi hal yang efektif untuk para siswa. Foto: Dok. Pribadi
  1. Kurikulum yang Padat

    Kurikulum pendidikan yang dirancang untuk mencakup semua mata pelajaran dan topik dalam pelaksanaanya sering kali membuat siswa merasa kewalahan khususnya kurikulum k13. Beban tugas yang menumpuk dan waktu belajar yang terbatas mengurangi waktu untuk istirahat dan aktivitas lain, sehingga membuat produktivitas siswa menurun serta fleksibilitas yang kurang merupakan dampak kurikulum yang padat.

    Nadiem makarim selaku mentri pendidikan, kebudayaan, Riset, dan teknlogi (Mendikbud istek) mengatakan bahwa materi pembelajaran kurikulum saat ini terlalu padat yang membuat kurangnya waktu untuk memperdalam pelajaran.

“Kita sudah mendengar komplain dari anak-anak kita, di masa pandemi khususnya, materi ini terlalu padat, tidak cukup waktu untuk melakukan pembelajaran yang mendalam,” (11/2/2022) ujarnya.

  1. Tekanan pada Ujian

    Fokus yang besar pada ujian dan penilaian menyebabkan siswa merasa tertekan untuk mendapatkan nilai tinggi khususnya ujian nasional. Ujian nasional sering kali menjadi indikator utama keberhasilan akademis, menciptakan budaya kompetisi yang tidak sehat dikalangan para pelajar.

    Meskipun Ujian Nasioanal (Un) telah ditiadakan sesuai Surat Edaran (SE) Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peniadaan Ujian Nasional dan Ujian Kesetaraan serta Pelaksanaan Ujian Sekolah dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).(Se Mendikbud No 1 Tahun 2021). Para siswa tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi karena menjadikan indikator nilai bagus sebagai suatu keberhasilan, akibatnya persaingan tidak sehat terus berlanjut dikalangan pelajar

  2. .Tuntutan Orang Tua dan ekpetasi masyarakat

    Banyak orang tua dan masyarakat yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap prestasi akademis anak, yang justru dapat membuat mereka drop karena Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya (Slameto, 2010: 60-61). serta kurangnya support dari orang tua membuat motivasi anak menurun dalam belajar.

    Tekanan ini bisa menjadi beban emosional yang berat bagi siswa, yang mempengaruhi kesehatan mental mereka sehingga membuat pembelajaran yang dilakukan cenderung tidak efektif dan terpaksa "Mendidik anak dengan cara memperlakukannya terlalu keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar adalah cara mendidik yang juga salah". Dengan demikian anak tersebut diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap belajarnya (Slameto, 2010: 61).

Dampak Terhadap Prestasi dan Solusi

Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi motivasi, dan menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Akibatnya, meskipun siswa belajar dengan keras, mereka mungkin tidak akan mencapai prestasi yang diharapkan. Hasil survei Indonesia-national Adolecents Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja di Indonesia (34,8%) mengalami kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan di kalangan siswa Indonesia meningkat, sejalan dengan penurunan minat belajar. oleh karena itu perlu solusi yang dapat menyelesaikan masalah stres yang terjadi di kalangan siswa. berikut beberapa poin penting:

Foto Siswa Smp Arrahmahmaniyah yang sedang mengikuti Pelajaran Pada sore hari. ini sudah pas mengingat untuk mendapatkan prestasi yang mengesankan perlu adanya pembelajaran ekstra. Foto: Dok. Pribadi
  1. Reformasi Kurikulum

    Memperbaiki struktur kurikulum untuk memberikan keseimbangan antara mata pelajaran akademis dan pengembangan keterampilan non-akademis, seperti kreativitas dan keterampilan sosial. Hal ini dapat mengurangi tekanan yang dirasakan siswa sehingga aktivitas pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

  2. Pendekatan Pembelajaran yang beragam

    Guru perlu mengadopsi metode pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif dapat membuat siswa lebih terlibat. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa serta dapat memberikan banyak manfaat.

    jika digunakan dengan benar, teknologi akan membantu mempersiapkan siswa untuk karir masa depan mereka, yang pasti akan mencakup penggunaan teknologi karena seperti yang kita alami saat ini, para peserta didik tidak bisa lepas dari gawai mereka. dengan adanya pembelajaran berbasis gawai tentu ada kesan yang menyenangkan bagi para siswa sehingga stres dapat berkurang.

  3. Dukungan psikologis

    Sekolah perlu menyediakan layanan konseling yang memadai untuk membantu siswa mengatasi stres dan kecemasan. Program pelatihan keterampilan hidup dan manajemen stres juga dapat membantu siswa dalam menghadapi masalah.

    Selain itu Dukungan psikologis dalam pembelajaran dapat membantu peserta didik mengatasi tantangan dan permasalahan mereka, sehingga dapat belajar dengan lebih baik.

  4. Edukasi untuk Orang Tua

    Mengedukasi orang tua tentang pentingnya kesejahteraan emosional anak dan menekankan bahwa nilai bukanlah segalanya karena nilai bagus bukan merupakan indikator kesuksesan dalam hidup. Orang yang mendapat nilai bagus di sekolah belum tentu akan sukses di kemudian hari karena banyak faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan seseorang, melainkan ilmu yang dapat membantu menuntunnya menuju kesuksesan. Ini dapat membantu mengurangi tekanan eksternal yang dirasakan siswa.

  5. Fokus pada Kesehatan Mental

    Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan siswa, guru, dan orang tua. Program-program yang mempromosikan keseimbangan hidup dan teknik relaksasi dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan sekolah.

    Fokus pada kesehatan mental bagi siswa yang sedang stres sangat penting untuk mendukung kesejahteraan mereka. Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:

  • Layanan Konseling : Sekolah harus menyediakan layanan konseling yang mudah diakses. Konselor dapat membantu siswa mengatasi stres, mengidentifikasi sumber masalah, dan memberikan strategi coping yang efektif.

  • Edukasi tentang Kesehatan Mental : Mengedukasi siswa tentang pentingnya kesehatan mental dan cara mengelola stres. Ini bisa dilakukan melalui seminar, lokalkarya, atau program kelas yang membahas teknik relaksasi, mindfulness, dan pengelolaan emosi.

  • Membangun Lingkungan yang Mendukung: Menciptakan budaya sekolah yang mendukung di mana siswa merasa aman untuk berbicara tentang perasaan mereka. Ini termasuk dukungan dari guru dan teman sebaya.

  • Komunikasi dengan Orang Tua: Melibatkan orang tua dalam proses ini dengan memberikan informasi tentang tanda-tanda stres pada anak dan cara mendukung mereka di rumah.

  • Pengaturan Waktu dan Tugas: Mengajarkan siswa cara mengatur waktu dan beban tugas mereka dengan baik. Ini bisa termasuk teknik manajemen waktu dan pembuatan jadwal belajar yang realistis.

    Dengan fokus yang tepat pada kesehatan mental, siswa dapat belajar mengelola stres dengan lebih baik, yang pada waktunya dapat meningkatkan kesejahteraan dan prestasi akademis mereka.

Kesimpulan

Stres yang dialami siswa di Indonesia merupakan akibat dari beban kurikulum yang berat merupakan isu yang perlu ditangani secara serius. Dengan reformasi kurikulum, pendekatan pembelajaran yang lebih beragam, dukungan psikologis, pendidikan untuk orang tua, dan fokus pada kesehatan mental, diharapkan siswa dapat belajar dalam lingkungan yang lebih sehat dan mendukung. Hanya dengan cara ini kita bisa meningkatkan prestasi akademis siswa tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.

Refrensi

Suharti, E. (2021). Kesehatan Mental dan Pendidikan: Tinjauan terhadap Siswa di Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kesehatan

Dewi, N. (2022). Beban Kurikulum dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Laporan Tahunan tentang Pendidikan di Indonesia

https://lmsspada.kemdikbud.go.id/mod/page/view.php?id=82878

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/02/kemendikbud-tiadakan-ujian-nasional-2021

Syahrani, K., Bahari, Y., & Rustiyarso. (2015). Analisis faktor orang tua penyebab rendahnya motivasi belajar pada mata pelajaran sosiologi di sma. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran.