Konten dari Pengguna

Magang di KPS2K, Mahasiswa Untag Rasakan Perjuangan Gender

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ahmad syuhadi gunawan sya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Saya berada di tengah aksi damai International Women’s Day 2025. Meski hujan mengguyur Surabaya, kami tetap berjalan dan menyuarakan hak-hak perempuan yang selama ini terabaikan.” Sumber: IWD Surabaya 2025 #sudah dapat izin
zoom-in-whitePerbesar
“Saya berada di tengah aksi damai International Women’s Day 2025. Meski hujan mengguyur Surabaya, kami tetap berjalan dan menyuarakan hak-hak perempuan yang selama ini terabaikan.” Sumber: IWD Surabaya 2025 #sudah dapat izin

“Perjuangan perempuan bukan cuma teori. Ia nyata—dan saya menyaksikannya langsung di lapangan.”

Bagi banyak mahasiswa, magang seringkali dianggap sekadar kewajiban akademik. Namun bagi saya, magang di Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) Jawa Timur justru menjadi pengalaman hidup yang mengubah cara pandang saya terhadap keadilan sosial, khususnya bagi perempuan.

Dari 1 Maret hingga 20 Juni 2025, saya menjalani program magang yang lebih dari sekadar mengisi logbook dan menyusun laporan. Di KPS2K, saya belajar untuk hadir dan terlibat langsung dalam perjuangan: mendengar cerita korban kekerasan, mendampingi aksi, dan menyuarakan hak-hak yang selama ini kerap diabaikan.

Salah satu pengalaman yang paling menantang sekaligus membanggakan bagi saya adalah ketika dipercaya menjadi MC di acara Kartini Youth Fest 2025. Acara ini rutin digelar untuk memperingati semangat Kartini—dan tahun ini mengangkat tema “Perempuan Muda Berdaya, Dunia Maya Tanpa Bahaya.”

Isunya sangat relevan: kekerasan berbasis gender online (KBGO), yang kini semakin sering terjadi di media sosial.

Awalnya saya grogi luar biasa—ini pertama kalinya saya bicara di depan puluhan orang. Tapi begitu melihat semangat dari para peserta dan solidaritas tim KPS2K, rasa gugup itu berubah menjadi energi. Saya sadar, saya tidak hanya memandu acara. Saya sedang menyampaikan pesan penting bahwa perempuan berhak atas ruang aman, bahkan di dunia digital.

“Awalnya saya grogi. Tapi begitu melihat semangat para peserta, semua berubah jadi energi positif.”

Yang paling membekas? Tentu saja saat ikut aksi damai memperingati International Women’s Day 2025, pada 19 Maret. Hujan mengguyur deras Surabaya, tapi tak menyurutkan langkah ratusan orang yang bergerak dari titik kumpul menuju Balai Kota.

Saya ada di barisan itu. Membawa spanduk, menyanyikan yel-yel perjuangan. Kami menyuarakan keadilan bagi pekerja rumah tangga, buruh perempuan, dan korban kekerasan berbasis gender.

Di depan Hotel Tunjungan Surabaya, beberapa buruh perempuan menyampaikan orasi. Suara mereka lirih tapi tegas: tentang pemecatan saat hamil, kurangnya fasilitas penitipan anak, dan lemahnya perlindungan hukum. Saya mendengar dengan hati bergetar—karena ini bukan cerita dari buku, ini nyata dan terjadi di depan mata.

“Diam bukan pilihan ketika ketidakadilan terus terjadi.”

Di KPS2K, saya tidak pernah merasa hanya sebagai “anak magang”. Saya merasa menjadi bagian dari gerakan. Dari pertemuan komunitas, diskusi internal, hingga menyusun strategi advokasi, semuanya membuat saya makin peka terhadap realitas yang kerap tak terlihat di balik layar media.

Saya belajar dari para aktivis perempuan yang bekerja dengan penuh semangat, meskipun sistem seringkali tidak berpihak. Mereka tidak lelah mengedukasi masyarakat, mendampingi korban, dan menciptakan ruang aman—baik fisik maupun digital.

KPS2K bukan sekadar tempat magang. Ia adalah ruang belajar sekaligus ruang bertumbuh. Organisasi ini telah berdiri sejak 2004 dan terus berkomitmen memperjuangkan keadilan gender dan hak-hak sipil masyarakat, khususnya perempuan.

“Magang ini bikin saya sadar: keberpihakan itu soal pilihan. Dan saya memilih untuk tidak diam.”

Saya berharap, ini bukan akhir dari keterlibatan saya. Saya ingin terus menyuarakan yang selama ini dibungkam, memperjuangkan yang selama ini diabaikan. Karena saya percaya: dunia yang adil hanya bisa lahir jika kita semua mau berjalan bersama—tanpa takut, tanpa diam.