Konten dari Pengguna
Sampah Mengancam, Rocket Stove KKN Universitas Boyolali Nyalakan Harapan Warga
20 Agustus 2025 13:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sampah Mengancam, Rocket Stove KKN Universitas Boyolali Nyalakan Harapan Warga
Sampah mengancam, Mahasiswa KKN Universitas Boyolali menghadirkan rocket stove ramah lingkungan di Desa Ketoyan sebagai solusi sederhana mengurangi sampah sungai dan menjaga kelestarian lingkungan.Ahmad Bagus Manihtada
Tulisan dari Ahmad Bagus Manihtada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, sungai adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Airnya mengalir ke sawah, menjadi tempat mencuci pakaian, hingga ruang bermain anak-anak di sore hari. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah sungai berubah.
ADVERTISEMENT
Alirannya sering tersumbat oleh sampah rumah tangga. Plastik, sisa makanan, dan limbah lain menumpuk, menebarkan bau menyengat, serta mengundang serangga. Saat hujan deras, sampah yang menutup aliran bahkan menimbulkan banjir kecil di beberapa titik.
Akar masalahnya sederhana: Desa Ketoyan tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tanpa fasilitas itu, warga tidak punya banyak pilihan. Mengubur sampah butuh lahan luas, membakar di udara terbuka menghasilkan asap pekat, dan akhirnya sungai dijadikan jalan pintas yang mudah meski merusak lingkungan.
Inovasi Ramah Lingkungan dari Mahasiswa KKN Universitas Boyolali
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Boyolali menghadirkan terobosan ramah lingkungan yaitu rocket stove sampah. Inovasi ini berupa tungku pembakaran berteknologi tepat guna yang dirancang untuk mengolah sampah kering dengan panas tinggi dan asap minimal.
ADVERTISEMENT
Prinsip kerjanya sederhana. Udara dialirkan secara terkontrol ke ruang bakar yang terisolasi, membuat panas terkonsentrasi sehingga pembakaran berlangsung lebih sempurna. Alat ini berupa tungku pembakaran berteknologi tepat guna yang dirancang untuk mengolah sampah kering rumah tangga seperti plastik, kertas, dan kardus dengan panas tinggi dan asap minimal.dan sisa makanan bisa diurai menjadi abu tanpa menimbulkan polusi udara yang berbahaya.
Dibangun dengan Material Lokal
Rocket stove di Desa Ketoyan dibangun menggunakan bahan yang mudah didapat seperti batu bata, semen, besi, dan pasir. Material tersebut membuat tungku lebih kokoh dan tahan lama. Pengerjaannya melibatkan warga, sehingga mereka tidak hanya menerima “alat jadi”, tetapi juga memahami cara merakit, menggunakan, dan merawatnya. Selain itu, penggunaan material lokal juga memperkuat nilai keberlanjutan dan kemandirian desa.
ADVERTISEMENT
Lebih dari Sekadar Alat
Rocket stove bukan solusi tunggal. Sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam tetap membutuhkan penanganan berbeda. Karena itu, mahasiswa KKN juga mendorong edukasi lingkungan seperti memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memanfaatkan kembali material yang bernilai. Edukasi ini dilakukan melalui forum warga dan kegiatan rutin desa, agar perilaku ramah lingkungan benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Harapan yang Mulai Tumbuh
Perubahan memang belum besar, tetapi tanda-tandanya mulai terlihat. Warga perlahan terbiasa mengumpulkan sampah organik untuk diolah melalui rocket stove. Anak-anak ikut membantu mengumpulkan daun kering, sementara kesadaran bahwa sungai bukanlah tempat sampah semakin menguat. Sedikit demi sedikit, aliran sungai mulai terbebas dari tumpukan sampah.
ADVERTISEMENT
Kisah di Desa Ketoyan membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Solusi sederhana yang disertai semangat gotong royong justru dapat menjadi pemantik perubahan. Rocket stove hanyalah alat, tetapi kesadaran dan kebersamaan warga merupakan energi sejati untuk menjaga kelestarian sungai.
Jika api kecil dari tungku ini mampu menghabiskan sampah,
maka semangat yang sama dapat membakar kebiasaan lama yang merusak lingkungan. Dari Desa Ketoyan, kita belajar bahwa perubahan besar dapat lahir dari langkah-langkah kecil, selama ada kemauan untuk bergerak bersama

