Konten dari Pengguna

Iman Dan Rukun Iman Dalam Kajian Surat Al-Baqarah Ayat 284-286

Ahsan Hadi

Ahsan Hadi

Mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Manajemen Dakwah

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsan Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Pribadi

Pengertian Iman dan Kandungannya dalam Al-Qur'an Surat Al-baqarah Ayat 284-286

Pengertian Iman adalah kepercayaan (yang berkenan dengan agama), keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, Nabi, Kitab, dan sebagainya. Iman diyakini dalam hati, yaitu dengan mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati adanya alam semesta dan segala isinya. Secara etimologi, pengertian iman diambil dari kata kerja اٰمَنَ - يُؤْمِنُ- اِيْمَانً yang artinya ialah 'percaya' atau 'membenarkan'. dalam hadis disebutkan bahwa pengertian iman ialah "Ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota (tubuh)."

Dan Menurut Imam Al-Bukhari dalam Kitab Shahih nya Menjelaskan bahwa pengertian Iman itu mencakup ucapan dan perbuatan yang bertambah dengan ketaatan, serta berkurang dengan kemaksiatan. Artinya, Iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dibnamis sesuai dengan amal seorang muslim. Dalam agama Islam terdapat pilar-pilar keimanan yang dikenal dengan rukun Iman, terdiri dari enam pilar.

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Malaikat-Malaikat

3. Iman kepada Kitab-Kitab

4. Iman kepada Rasul-Rasul

5. Iman kepada Hari Akhir

6. Iman kepada Qada dan Qadar

Dan Menurut Imam Al-Bukhari dalam Kitab Shahih nya Menjelaskan bahwa pengertian Iman itu mencakup ucapan dan perbuatan yang bertambah dengan ketaatan, serta berkurang dengan kemaksiatan. Artinya, Iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dibnamis sesuai dengan amal seorang muslim.

Penjelasan diatas berkaitan dengan Surah al-Baqarah ayat 284-286

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝٢٨٤

Artinya:

"Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Q.S Al-Baqarah: 284)

Pada Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 284 dijelaskan bahwa Allah merupakan pemilik seluruh alam semesta serta Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam hati manusia. Seluruh perbuatan manusia, termasuk lintasan hati, akan diperhitungkan oleh Allah Swt. Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa lintasan hati yang belum diwujudkan dalam bentuk niat dan tindakan tidak serta-merta dianggap sebagai dosa, melainkan baru akan dinilai apabila telah direalisasikan dalam perbuatan. Ayat ini juga menegaskan kekuasaan Allah Swt. dalam memberikan ampunan maupun azab sesuai dengan kehendak-Nya.

Menurut Imam al-Qurthubi, kandungan QS Al-Baqarah ayat 284 yang menyatakan bahwa segala isi hati manusia akan dimintai pertanggungjawaban, dan pandangan beliau ayat ini telah dinasakh oleh QS Al-Baqarah ayat 286 yang menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya; pandangan ini juga didukung oleh sejumlah sahabat, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim, yang menjelaskan bahwa para sahabat sempat merasa keberatan karena lintasan hati pun akan diperhitungkan, hingga kemudian Allah memberikan keringanan. Sementara itu, Buya Hamka menafsirkan bahwa ayat tersebut merupakan peringatan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, namun lintasan perasaan yang belum menjadi niat dan tindakan tidak tergolong dosa, melainkan menjadi tanggung jawab apabila telah berkembang menjadi kehendak dan direalisasikan. Sejalan dengan itu, Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan ilmu dan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya, sehingga segala perbuatan manusia, baik yang lahir maupun batin, akan dimintai pertanggungjawaban, meskipun sebagian ulama memahami adanya keringanan melalui ayat berikutnya.

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ۝٢٨٥

Artinya:

"Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (Q.S Al-Baqarah/2: 285)

Pada Surah Al-Baqarah ayat 285 ini, Allah SWT menjelaskan tentang keimanan Rasulullah saw dan kaum Mukminin kepada dasar-dasar keyakinan. Allah SWT menjelaskan bahwa Rasulullah saw. Dan kaum Mukminin membenarkan dan mengimani apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Dari Tuhannya berupa akidah dan hukumhukum agama dengan pembenaran yang kuat dan tidak goyah sedikit pun. AlHakim meriwayatkan di dalam al-ilIustadrak bahwa ketika ayat ini diturunkan kepada Rasulullah saw. Maka beliau berkata, “Sudah menjadi haknya beriman.”Di dalam ayat ini, melakukan amal kejelekan diungkapkan dengan menggunakan kata al-Iktisaab, hal ini menjelaskan bahwa sebenarnya melakukan perbuatan jelek membutuhkan banyak tenaga, pengorbanan, kesulitan, perencanaan, benturan-benturan dengan alam dan adat kebiasaan yang berlaku, Sedangkan melakukan amal kebaikan, pada dasarnya tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga, karena kebaikan memang merupakan salah satu hal yang diletakkan di dalam tabiat alami manusia, jiwa merasa tenang dan senang mengerjakannya serta tidak membutuhkan kehati-hatian, kekhawatiran dan perencanaan terlebih dahulu.

Menurut Imam al-Qurthubi, QS Al-Baqarah ayat 285 berkaitan dengan peristiwa Isra Mi’raj sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan ulama tabi’in, yang menggambarkan dialog spiritual antara Nabi Muhammad dan Allah di Sidratul Muntaha, serta penegasan bahwa Rasul beriman sepenuhnya kepada wahyu yang diterimanya dan mengajak umatnya untuk memiliki keimanan yang sama, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan para rasul tanpa membeda-bedakan di antara mereka, disertai sikap tunduk dengan ungkapan “kami dengar dan kami taat” serta permohonan ampun kepada Allah. Sementara itu, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penutup Surat Al-Baqarah yang menegaskan kesaksian tertinggi atas keimanan Rasulullah yang tidak pernah ragu terhadap kerasulannya dan wahyu yang diterimanya, serta diikuti oleh keimanan para sahabat—baik Muhajirin maupun Anshar—yang meyakini Allah, malaikat, kitab-kitab, dan seluruh rasul, disertai ketaatan penuh terhadap perintah-Nya dan kesadaran akan kelemahan diri sehingga senantiasa memohon ampunan, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula kerendahan hati dan ketergantungannya kepada Allah.

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ۝٢٨٦

Artinya:

"Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (Q.S Al-Baqarah/ 2:286)

Pada ayat 286 ini Allah SWT memberitahukan bahwa dari awal diturunkannya ayat pertama hamba-hamba-Nya tidak pernah dibebani dengan sebuah ibadah, entah itu yang dilakukan dengan anggota badan yang terlihat ataupun yang tidak terlihat, kecuali pembebanan itu masih dapat dilakukan oleh mereka.

Menurut Buya Hamka, QS Al-Baqarah ayat 286 merupakan penegasan lanjutan tentang karakter orang beriman sekaligus jawaban Allah atas permohonan mereka, yang menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, sehingga seluruh perintah agama pada hakikatnya berada dalam batas kemampuan manusia dan bertujuan untuk kemaslahatan, sementara larangan dimaksudkan untuk mencegah mudarat. Ayat ini juga menjelaskan bahwa setiap individu akan memperoleh pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan menerima konsekuensi dari keburukan yang dilakukannya, di mana secara fitrah manusia cenderung kepada kebaikan, sedangkan perbuatan buruk menimbulkan beban batin dan pertentangan dalam diri. Selain itu, ayat ini memuat doa orang-orang beriman yang memohon ampun atas kekhilafan dan kesalahan, perlindungan dari beban berat sebagaimana umat terdahulu, serta permohonan agar tidak dibebani kewajiban di luar kemampuan mereka, disertai pengakuan akan kelemahan diri dan ketergantungan sepenuhnya kepada pertolongan Allah, sehingga penutup surat ini menjadi rangkuman ajaran iman, ketaatan, kerendahan hati, dan harapan akan rahmat serta pertolongan Ilahi.

Kesimpulannya, Iman ialah meyakini di dalam hati dan diucapkan dengan lisan serta diwujudkan dalam bentuk perbuatan maka dari itu pembahasan dalam al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 284–286 menegaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan manusia, baik yang tampak maupun tersembunyi, serta setiap amal akan dipertanggungjawabkan, kecuali lintasan hati yang belum menjadi tindakan. Ayat ini menekankan keimanan yang menyeluruh dan ketaatan penuh, serta menunjukkan kasih sayang dan keadilan Allah yang tidak membebani manusia di luar kemampuannya, sehingga manusia diarahkan untuk bermuhasabah, memohon ampunan, dan menjadikan-Nya sebagai pelindung.

Refleksi

  1. Menyadari bahwa Allah Swt. Maha mengetahui segala sesuatu, termasuk isi hati dan niat manusia.

  2. Menyadari bahwa Iman tidak hanya keyakinan, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan.

  3. Merasakan ketenangan karena Allah tidak membebani manusia diluar kemampuannya.

Aksi

  1. Meningkatkan keimana dengan memperkuat keyakinan kepada Allah dan rukun iman.

  2. Menjaga hati dan niat agar tetap bersih dari hal-hal buruk.

  3. Menghindari perbuatan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Penulis: Ahsan Hadi

Dosen Pengampu: Dr. Hamidullah Mahmud L.c, M.A