Inovasi Asuransi: Harapan Baru atau Gimik Belaka?

Mahasiswa Manajemen Universitas Tazkia - Belajar dan meneliti tentang ekonomi mikro & investasi syariah - Berbagi edukasi finansial secara sederhana - Mendukung literasi untuk syariah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ahsan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yuk jujur aja. Di zaman yang penuh krisis, konflik, perubahan iklim, dan mata uang yang makin nggak stabil, asuransi yang katanya jadi alat pengaman solusi kita perlu banyak perubahan. Sistem mereka yang lama itu mahal, ribet, dan nggak peduli sama yang nggak masuk hitungan statistik mereka.
Tapi sebelum semuanya jatuh bebas, insurtech datang kayak parasut harapan.
Dia bilang: "Tenang, kami siap bantu."
Tapi jangan salah, parasut itu bukan pesawat.
Dunia Penuh Risiko, Tapi Nggak Ada Jaring Pengaman
Sekarang hidup rasanya kayak main judi. Banjir bisa nyapu rumah. Masuk rumah sakit bisa bikin keluarga bangkrut. Banyak orang apalagi di negara berkembang kayak Indonesia nggak punya asuransi kesehatan, bantuan bencana, atau dana darurat.
Contohnya di Indonesia, tingkat penetrasi asuransi masih di bawah 4%.Orang lebih banyak ngandelin bantuan keluarga atau tetangga, padahal risiko iklim dan biaya kesehatan makin gila-gilaan.
Di Malaysia, sistem Takaful (asuransi syariah) udah berkembang cukup jauh, nggabungin prinsip Islam dan teknologi modern. Tapi kelompok B40 (40% pendapatan terbawah) masih banyak yang belum terlindungi.
Singapura punya tingkat kepemilikan asuransi tertinggi di Asia. Tapi adopsi digital di sektor ini masih kalah dari fintech lain. Masalah di sana bukan akses, tapi inovasi, inklusi, dan keterjangkauan terutama buat pekerja migran dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Nggak Semua yang Digital Itu Oke
Iya sih, asuransi digital kedengarannya praktis. Tapi di balik layar, masih aja banyak masalah syarat-syarat kecil yang ribet, pengecualian yang nggak jelas, dan tiba-tiba ngilang pas orang lagi butuh-butuhnya.
Di Indonesia dan Malaysia, platform insurtech berkembang cepat nyatu sama aplikasi ojek online, e-commerce, atau dompet digital. Tapi banyak produknya cuma dangkal, sistem klaimnya ngambang, dan bahasanya bikin bingung. Digital, tapi isinya tetap kayak zaman dulu. Sementara di Singapura, meski ada ruang buat eksperimen lewat regulatory sandbox, beberapa startup insurtech justru kena sorotan karena masalah data pribadi dan syarat yang nggak transparan.
Kalau asuransi lama terasa dingin, asuransi yang dijalankan algoritma mungkin malah lebih dingin lagi. Jadi bagaimana seharusnya: Ini perlindungan beneran, atau penolakan yang dibungkus lebih rapi?
Perspektif Islam: Risiko, Keadilan, dan Tanggung Jawab
Dalam Islam, konsep takaful (tanggung jawab bersama) punya visi beda soal asuransi. Bukan soal untung, tapi saling bantu. Risiko nggak boleh ditumpahin ke yang lemah, tapi harus dibagi adil.
Malaysia udah punya sistem Takaful yang paling maju di dunia dengan regulasi yang kuat, kepercayaan publik, dan digitalisasi yang jalan. Indonesia masih tertinggal, sektornya masih pecah-pecah. Tapi minatnya naik, apalagi di kalangan anak muda Muslim yang nyari produk keuangan halal.
Singapura yang sekuler juga mulai tertarik keuangan etis dan berdampak sosial. Jadi sebenarnya ada peluang buat model fintech syariah berkembang, apalagi buat komunitas Muslim ASEAN lintas negara.
Ironisnya, justru teknologi bisa jadi alat buat ngehidupin nilai-nilai Islam lagi asal niat dan arahnya bener. Platform yang utamakan kebersamaan, transparansi, dan keadilan bisa lebih sesuai sama etika takaful dibanding sistem lama. Tapi, ya, mayoritas insurtech sekarang belum ke situ.
Bukan Disrupsi yang Kita Butuh, Tapi Keandalan
Gelombang insurtech sekarang masih kebanyakan ikut aturan main Silicon Valley: tumbuh cepet, janji-janji manis, kelihatan pro-user padahal ujung-ujungnya investor yang diutamakan. Disrupsi tanpa mikir panjang. Inovasi tanpa etika. Buat miliaran orang yang hidupnya penuh risiko setiap hari kayak ojol di Jakarta, pedagang kaki lima di KL, atau asisten rumah tangga di Singapura asuransi itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan hidup. Mereka nggak butuh jargon. Mereka butuh jaminan.
Dan dalam Islam, perlindungan itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Masyarakat harus saling jaga dari hal-hal yang nggak pasti. Itulah jiwa dari takaful, dan itu tamparan keras buat sistem jaring pengaman sekarang yang makin komersil dan terpecah.
Tapi Masih Ada Harapan
Walau banyak kekurangan, tetap ada gerakan positif. Di Indonesia, startup kayak PasarPolis dan Qoala lagi coba sistem mikroasuransi murah yang bisa diakses lewat platform sehari-hari. Malaysia dorong inovasi Takaful lewat kerja sama digital dan standarisasi syariah lintas negara.
Singapura mulai dukung model keuangan etis berbasis AI dan regulasi yang berpihak ke konsumen. Langkah-langkah ini mungkin kecil, tapi penting. Di ketiga negara ini, mulai keliatan bibit model regional insurtech yang nggak cuma digital, tapi juga punya nilai moral.
Yang Kita Butuh Sekarang
Kita harus berhenti nyembah teknologi, dan mulai ngarahin teknologi. Insurtech harus diatur sama hukum, komunitas, dan etika. Apalagi di negara Muslim kayak Indonesia dan Malaysia, teknologi keuangan harus berpihak pada keadilan, bukan cuma pertumbuhan.
Kita harus tuntut:
Kontrak yang jelas
Premi yang adil
Akses buat semua kalangan
Akuntabilitas dari penyedia
Dan yang paling penting: balikin niat (niyyah) ke keuangan. Kalau niatnya cuma cari cuan, ya hasilnya sistem predator yang lebih cakep tampilannya. Tapi kalau niatnya peduli, adil, dan lindungi, insurtech bisa lebih dari sekadar tambalan. Dia bisa jadi infrastruktur kasih sayang di zaman yang serba ambyar.
Harapan Itu Ada
Dalam Islam, tawakkul (percaya dan pasrah sama Allah) bukan berarti pasif. Kita tetap harus ikhtiar ikat tali unta, lalu percaya. Di dunia yang makin nggak pasti, insurtech kalau dijalankan dengan benar bisa jadi bagian dari ikhtiar itu. Tali pengaman yang dianyam bukan cuma pakai teknologi, tapi juga nilai-nilai. Perjalanannya masih panjang. Gagalnya pasti ada.
Tapi visinya jelas:
Asuransi jadi hak, bukan barang mewah.
Teknologi bukan buat ngehisap, tapi buat melindungi.
Risiko nggak dibebankan ke yang miskin, tapi dibagi dengan bermartabat.
Etika Islam nggak ketinggalan fintech, tapi justru jadi pemimpinnya.
Masa depan itu belum pasti. Tapi bukan nggak mungkin.
Dan mungkin… bakal dimulai dari Asia Tenggara.
Pertanyaannya sekarang,
mau jadi pemakai doang, atau pengubah arah insurtech jadi sesuatu yang lebih baik?
