Konten dari Pengguna

Sebulan Belajar, Seumur Hidup Berkesan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsanal Qoshosh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jalan sore di pare (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Jalan sore di pare (dokumen pribadi)

Tahun bukan akhir dari perjalanan. Justru itu awal dari kebingungan yang sebenarnya. Aku sempat bingung mau lanjut ke mana: ikut pengabdian, kerja, atau kuliah.Waktu itu rasanya dunia seperti membuka banyak pintu, tapi aku belum tahu mana yang harus aku masuki.

Sampai akhirnya orang tuaku bilang, "Coba aja dulu daftar kuliah, siapa tahu jodoh."

Dan ya, akhirnya aku ikut tes. Hari-hari setelah itu dipenuhi doa dan deg-degan nunggu hasil. Alhamdulillah… aku dinyatakan lolos. Rasanya seperti dikasih cahaya setelah bingung di persimpangan.

Tapi karena waktu masuk kuliah masih lumayan lama, aku nggak mau diam aja di rumah. Aku mulai kepikiran buat ke Pare kampung Inggris yang udah lama banget pengen aku datangi. Belajar bahasa Inggris sambil dapat pengalaman baru? Why not?

Awalnya rencana ini sempat tertunda karena aku harus pergi ke Semarang. Tapi pas libur semester tiba, aku sampaikan lagi niatku ke orang tua. Dua hari kemudian, aku resmi berangkat.

Itu jadi pertama kalinya aku naik bus antarkota sendirian. Awalnya deg-degan, tapi juga excited. Rasanya seperti anak rumahan yang akhirnya mencicipi dunia luar—dan aku suka.

Sampai di Pare, aku gabung dengan salah satu lembaga yang dikenal ramah dan punya metode belajar asik. Dan benar saja, dari hari pertama aku langsung ngerasa nyaman.

Teman-teman satu asramaku di SNA tuh… baik-baik banget. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia. Kita ngobrol, belajar, dan bercanda seperti udah kenal lama. Yang lebih bikin betah, para tutor dan guru-gurunya humble abis. Nggak ada jarak, nggak ada tekanan. Semua serba ringan, tapi tetap dapet ilmunya.

Materi yang aku pelajari juga seru. Karena disampaikan dengan cara yang menyenangkan, aku jadi cepat paham. Mulai dari grammar, speaking, sampai pronunciation semuanya bikin aku makin semangat.

Tapi seperti semua hal baik di dunia ini, Pare pun harus diakhiri.

Sebulan terasa cepat. Hari perpisahan datang juga. Kita saling tukar kontak, saling mendoakan, dan pastinya… saling menahan air mata. Berpisah memang menyakitkan, tapi pengalaman di Pare terlalu berharga buat disesali.

Aku pulang dengan kepala penuh kosakata baru, dan hati yang hangat karena kenangan bersama teman-teman.

Kini, aku sudah kembali ke kampus dan menjalani kuliah. Tapi satu bulan di Pare akan selalu aku kenang sebagai salah satu momen paling menyenangkan dalam hidupku. Bukan cuma karena belajarnya, tapi karena di sanalah aku belajar lebih banyak tentang hidup tentang mandiri, tentang berteman, dan tentang mencoba hal baru.

Kadang, jalan hidup memang nggak langsung jelas. Tapi satu langkah kecil bisa membawa kita ke pengalaman yang besar. Seperti satu tiket bus ke Pare, yang ternyata mengubah banyak hal dalam diriku.

Kalau dipikir-pikir, keputusan ke Pare waktu itu adalah salah satu langkah spontan yang paling bermakna dalam hidupku. Awalnya cuma iseng pengen ngisi waktu sebelum kuliah, tapi ternyata jadi pengalaman yang ninggalin banyak pelajaran dan kesan.

Satu hal yang aku sadari di sana: belajar itu bukan cuma soal isi buku. Tapi soal keberanian mencoba hal baru, beradaptasi, dan membuka diri terhadap lingkungan baru. Di Pare, aku belajar pakai metode yang beda. Setiap hari rasanya seperti main, tapi ternyata pelajaran masuk terus ke kepala.

Bangun pagi untuk kelas pagi, ikut diskusi bareng teman-teman di taman, sampai malam hari latihan speaking bareng. Semua berjalan cepat, tapi menyenangkan. Kadang kami bercanda sampai ketawa keras-keras, kadang saling menyemangati saat ada yang mulai homesick.

Yang bikin tambah nyaman, lingkungan di Pare tuh suportif banget. Semua orang seperti sama-sama punya niat yang tulus: belajar dan tumbuh. Bahkan, banyak yang kayak aku datang sendiri, nggak kenal siapa-siapa, tapi pulang bawa sahabat.

Ada satu momen yang paling membekas: malam terakhir sebelum pulang. Kita bikin acara kecil-kecilan bareng satu kelas. Ada yang nyanyi, ada yang cerita, ada yang nangis diam-diam. Saat itulah aku sadar, perpisahan itu bukan akhir dari segalanya. Justru itu bukti bahwa kebersamaan kita berharga.

Pulang dari Pare, aku jadi punya kepercayaan diri lebih besar. Bukan cuma karena bisa ngomong Inggris sedikit lebih lancar, tapi juga karena aku sudah berani menantang zona nyaman.

Kini, saat kuliah sudah berjalan, aku melihat pengalaman di Pare seperti bekal tersembunyi. Ketika harus presentasi depan kelas, ketika harus diskusi dengan mahasiswa dari luar kota, atau sekadar ngobrol dengan orang baru semua terasa lebih mudah karena aku pernah melewati itu dulu.

Dan mungkin, di sinilah makna dari setiap perjalanan singkat. Ia nggak harus lama, nggak harus mewah, tapi bisa meninggalkan jejak dalam diri.

“Kadang kita nggak tahu arah, tapi langkah kecil yang kita ambil bisa jadi jalan besar menuju versi terbaik diri kita.”