Menguak Rahasia Tekstur Kenyal Kue Bugis Banten: Peran Penting Gelatinisasi Pati

Mahasiswa Teknologi Pangan Untirta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kue bugis Banten memiliki tekstur kenyal yang begitu khas? Di balik kelezatannya, ternyata terdapat proses ilmiah yang menarik. Kue bugis Banten, dengan teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang pas, selalu berhasil memikat lidah. Teksturnya yang kenyal membuat kue ini begitu unik dan berbeda dari kue lainnya. Tahukah Anda apa yang membuat kue bugis Banten memiliki tekstur kenyal yang unik?
Kue tradisional bugis ini telah lama memikat hati banyak orang dengan cita rasanya yang manis dan teksturnya yang kenyal. Asal-usul kue bugis sebenarnya masih menjadi perdebatan, namun yang pasti, kue ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Nusantara. Tekstur kenyal yang khas pada kue bugis dihasilkan dari proses pengolahan tepung beras ketan yang unik.
Bayangkan Anda menggigit sepotong kue bugis Banten. Teksturnya yang kenyal begitu menggoyang lidah. Tahukah Anda, di balik kenikmatan itu tersimpan sebuah keajaiban ilmiah.
Tepung Beras Ketan
Yaps! kunci kekenyalan kue ini karena terbuat dari bahan tepung beras ketan. Tepung beras ketan adalah tepung yang berasal dari beras ketan hitam atau putih, yang diolah dengan cara digiling, ditumbuk, atau dihaluskan. Tekstur tepung beras ketan terasa lebih lengket dan berat saat disentuh. Larutan tepung beras ketan lebih kental karena kandungan pati yang lebih tinggi dan bersifat perekat. Beras ketan termasuk dalam varietas Oryza sativa L. dari kelompok beras ketan (glutinous rice), yang memiliki kadar pati tinggi dengan kandungan amilosa rendah (1-2%) dan amilopektin sangat tinggi (98-99%). Semakin tinggi kandungan amilopektin, semakin lengket sifat beras tersebut (Dewi dan Auliana, 2019).
Apa itu gelatinisasi pati?
Gelatinisasi memainkan suhu untuk memulai proses pembengkakan granula pati akibat panas, yang menyebabkan putusnya ikatan hidrogen pada ikatan glikosida dalam pati. Suhu ini menandai titik awal peningkatan viskositas pati ketika dipanaskan, atau saat terjadinya gelatinisasi (Ginting dan Sinaga, 2014).
Bagaimana proses ini terjadi pada kue bugis?
Pencampuran: Ketika tepung beras ketan dicampur dengan air panas, granula pati dalam tepung mulai menyerap air.
Pembengkakan: Granula pati yang menyerap air akan membesar dan mulai melunak.
Pecahnya granula: Pada suhu tertentu, granula pati akan pecah dan melepaskan amilosa dan amilopektin, dua komponen utama pati.
Pembentukan gel: Amilopektin yang terlepas akan membentuk jaringan tiga dimensi yang saling terikat, membentuk gel yang kental dan kenyal.
Hubungan Gelatinisasi dengan Tekstur Kenyal Kue Bugis
Gel yang terbentuk dari proses gelatinisasi inilah yang memberikan tekstur kenyal pada kue bugis. Bayangkan saat Anda menggigit kue bugis, Anda akan merasakan tekstur yang lembut namun sedikit kenyal. Hal ini disebabkan oleh:
Jaringan gel yang kuat: Jaringan gel yang terbentuk dari amilopektin memberikan kekuatan dan elastisitas pada adonan kue bugis.
Penjebakan air: Gel yang terbentuk akan menjebak air di dalamnya, sehingga adonan menjadi lebih lembap dan kenyal.
Peningkatan viskositas: Proses gelatinisasi meningkatkan viskositas adonan, membuatnya lebih kental dan sulit mengalir.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gelatinisasi:
Suhu: Suhu yang terlalu rendah akan menghambat proses gelatinisasi, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat merusak pati.
Waktu: Waktu pemanasan yang cukup diperlukan agar proses gelatinisasi berlangsung sempurna.
Jenis tepung: Kandungan amilosa dan amilopektin dalam tepung akan mempengaruhi sifat gel yang terbentuk.
Jumlah air: Perbandingan antara tepung dan air akan menentukan kekentalan adonan.
Proses gelatinisasi pati adalah kunci utama di balik tekstur kenyal kue bugis. Dengan memahami proses ini, kita dapat mengontrol tekstur kue yang dihasilkan. Misalnya, jika kita ingin kue bugis yang lebih kenyal, kita dapat menyesuaikan suhu dan waktu pemanasan, serta perbandingan tepung dan air.
Referensi
Dewi, A. O., dan Auliana, R. (2019). Pemanfaatan Tepung Ketan Hitam Pada Pengembangan Produk Pangan Lokal Klepon Ketan Hitam (Klepketam). Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana. Vol. 14(1).
Ginting, M. H. S., dan Sinaga, R. F. (2014). Pengaruh variasi temperatur gelatinisasi pati terhadap sifat kekuatan tarik dan pemanjangan pada saat putus bioplastik pati umbi talas. Prosiding Semnastek.Vol. 1(1).
