Memahami Perbedaan Biaya Hidup atau Gaya hidup

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aisya Nur Fathona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, media sosial ramai membahas banner Greenpeace yang dibentangkan di Patung Bundaran HI dengan tulisan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”. Namun, di antara banyaknya netizen yang membahas isu tersebut, beberapa justru hanya menyoroti kalimat “Turunkan Biaya Hidup” dan membuat video yang mengaitkannya dengan pernyataan bahwa yang seharusnya diturunkan adalah gaya hidup, bukan biaya hidup. Menurut saya, kedua hal tersebut tidak seharusnya disamakan karena memiliki makna yang berbeda.
Gaya hidup dan Biaya Hidup
Gaya hidup berkaitan dengan cara seseorang menjalani kehidupan, termasuk kebiasaan berbelanja dan menggunakan uang untuk memenuhi keinginan. Sementara itu, biaya hidup berkaitan dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan transportasi. Oleh karena itu, anggapan bahwa kesulitan ekonomi hanya disebabkan oleh gaya hidup perlu dipertimbangkan kembali.
Di tengah perdebatan tersebut, masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagian orang harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang cukup, tetapi penghasilan tersebut belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, dan kebutuhan lainnya dapat semakin membebani masyarakat, terutama mereka yang memiliki penghasilan rendah. Dalam kondisi seperti ini, persoalan yang dihadapi bukan sekadar gaya hidup yang perlu diubah, melainkan juga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Memang, mengatur gaya hidup sesuai kemampuan ekonomi merupakan hal yang penting. Namun, tidak adil jika setiap kesulitan ekonomi langsung dianggap sebagai akibat dari gaya hidup yang berlebihan. Masyarakat yang sudah hidup hemat pun dapat mengalami kesulitan ketika biaya kebutuhan sehari-hari terus meningkat.
Menurut saya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara gaya hidup dan biaya hidup sebelum memberikan penilaian terhadap isu ini. Menghemat pengeluaran memang dapat membantu, tetapi persoalan biaya hidup juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Pada akhirnya, kebutuhan dasar yang layak seharusnya dapat dijangkau oleh semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki penghasilan tinggi. Oleh karena itu, aksi yang dilakukan Greenpeace sebaiknya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
