FYP Galau dan Lagu Slowed: Ketika Sedih Jadi Estetika Anak Muda

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN "VETERAN" Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Simforianus Narendra Raditya Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
FYP Galau dan Romantisasi Kesedihan Lewat “Depresi Visual
Oleh: Simforianus Narendra Raditya Nugraha

Coba perhatikan konten apa saja yang melintas di layar ponsel Anda. Di antara konten komedi atau tutorial, selalu ada video dengan nuansa temaram, musik slowed dan reverb, serta narasi singkat tentang patah hati atau putus asa. Konten seperti inilah yang kemudian dapat memenuhi FYP galau seseorang ketika algoritma terus merekomendasikan video dengan tema serupa.
Awalnya mungkin kita hanya menonton satu atau dua video. Namun, setelah beberapa kali berhenti pada konten serupa, tiba-tiba FYP dipenuhi video bernuansa galau. Lagu yang sebenarnya sudah sering didengar terdengar lebih sendu setelah diperlambat. Foto langit sore, jalanan sepi, lampu kota pada malam hari, atau seseorang yang duduk sendirian seolah memiliki cerita yang dalam.
Paparan berulang terhadap konten seperti ini, lambat laun membentuk realitas semu. Konten yang muncul meyakinkan kita bahwa dunia memang seseram dan sepi, padahal yang kita saksikan hanyalah potongan emosi yang disusun sistematis oleh algoritma.
Romantisasi Kesedihan Lewat “Depresi Visual”
Ada pergeseran menarik dalam cara anak muda berinteraksi di ruang digital. Kesepian dan perasaan yang dulunya disimpan rapi dalam buku harian, kini bertransformasi menjadi bahasa gaul dan identitas sosial baru. Ada dorongan implisit bahwa mengekspresikan rasa galau di media sosial dapat membuat seseorang terlihat lebih peka, mendalam, dan relevan.
Fenomena ini bekerja lewat apa yang bisa disebut sebagai "depresi visual". Perasaan sedih atau cemas yang nyata disederhanakan menjadi simbol-simbol keren: sudut kamar yang remang, rekaman hujan dibalik jendela, kutipan puitis bernada putus asa, dan lagu yang sudah di manipulasi.
Ketika unggahan semacam itu panen likes dan dibanjiri komentar, timbul rasa validasi emosional secara kolektif. Sayangnya, batas antara mencari empati dan meromantisasi kesedihan menjadi sangat tipis. Rasa galau tak lagi diposisikan sebagai emosi yang butuh pemulihan, melainkan sebagai aset estetika yang dirayakan bersama di kolom komentar.
Ketika Sedih Menjadi Konten
Kesedihan sebenarnya adalah bagian wajar dari kehidupan. Setiap orang pernah kecewa, kehilangan, merasa gagal, atau mengalami hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan. Namun, media sosial membuat kesedihan memiliki bentuk baru. Kesedihan dapat dikemas menjadi video beberapa detik, sebuah kalimat tentang kehilangan ditempelkan pada gambar hujan atau jalanan malam, lagu diperlambat, warna video dibuat gelap, lalu semuanya diunggah dan dibagikan.
Kita mungkin pernah menemukan video dengan kalimat yang terasa sangat dekat dengan pengalaman pribadi, lalu menekan tombol like. Bukan karena sedang mengalami hal yang sama, tetapi karena kita merasa “pernah berada di posisi itu”. Di satu sisi, hal ini tidak selalu buruk. Konten seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Melalui komentar dan pengalaman orang lain, kita menemukan bahwa perasaan kecewa atau kesepian ternyata juga dialami banyak orang. Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu nyaman berada dalam kesedihan yang terus diproduksi dan dikonsumsi.
Jangan Biarkan FYP Menjadi Cermin Kehidupan
Menikmati lagu sedih atau menonton video galau bukan berarti seseorang sedang mengalami masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita terus-menerus mengonsumsi konten yang sama hingga merasa bahwa itulah gambaran kehidupan yang sebenarnya.
Pernahkah kita membuka media sosial dalam keadaan baik-baik saja, lalu beberapa menit kemudian merasa hidup kita membosankan? Atau melihat kisah patah hati seseorang dan tiba-tiba ikut merasa bahwa hidup kita juga sedang tidak baik? Mungkin bukan kehidupan kita yang tiba-tiba berubah. Bisa jadi, perhatian kita yang sedang diarahkan ke hal-hal tertentu.
Karena itu, sesekali kita perlu keluar dari layar dan melihat kehidupan secara langsung. Kesedihan boleh menjadi bagian dari hidup. Lagu slowed boleh menemani malam. Video galau boleh menjadi hiburan. Tetapi jangan sampai semuanya menjadi satu-satunya cara kita melihat dunia. Sebab hidup tidak hanya terdiri dari video beberapa detik dengan musik sedih di latar belakang. Ada tawa yang tidak direkam, percakapan yang tidak diunggah, pertemuan kecil, dan hari-hari biasa yang sebenarnya juga layak dinikmati.
