Perubahan Iklim dan Ancaman Diam-Diam bagi Produksi Pangan

S.Pd. Biologi UMSurabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ajeng Retno Kustianingrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perubahan iklim sering terasa seperti isu besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya sudah masuk ke dapur kita melalui harga beras yang naik, sayuran yang cepat busuk, atau panen yang gagal. Ancaman ini tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar, tetapi perlahan dan diam-diam menggerus produksi pangan nasional.
Iklim yang Tak Lagi Stabil
Pola musim semakin sulit diprediksi di berbagai wilayah Indonesia. Hujan datang terlambat atau justru turun ekstrem dalam waktu singkat. Kemarau terasa lebih panjang dan panas lebih menyengat. Hal tersebut mengakibatkan tanaman mengalami stres kekeringan, banjir merusak sawah dan ladang, produktivitas menurun karena suhu terlalu tinggi dan diperparah dengan serangan hama dan penyakit meningkat.
Tanaman seperti padi sangat sensitif terhadap perubahan suhu pada fase pembungaan. Kenaikan suhu beberapa derajat saja bisa menurunkan hasil secara signifikan. Inilah yang membuat perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan.
Ancaman Tambahan: Ekspansi Industri
Masalahnya tidak berhenti pada iklim, lahan pertanian juga terdesak oleh pertumbuhan kawasan industri dan permasalahan tersebut terjadi di berbagai daerah. Pembangunan pabrik memang penting untuk ekonomi, tetapi seringkali berdampak pada ekosistem lingkungan dan mengancam ketahanan pangan seperti alih fungsi lahan sawah menjadi kawasan industri, berkurangnya daerah resapan air, pencemaran air dan tanah akibat limbah dan penurunan kualitas udara.
Ketika lahan menyempit dan kualitas lingkungan menurun, petani menghadapi tekanan ganda yaitu perubahan iklim dari atas dan tekanan industrialisasi dari lingkungan sekitar. Air sungai yang dulu menjadi sumber irigasi bisa tercemar. Debit air berkurang karena daerah tangkapan air berubah menjadi kawasan beton. Tanah yang terpapar limbah dalam jangka panjang juga mengalami degradasi kesuburan.
Ancaman ini sering tidak langsung terlihat dalam satu musim tanam. Namun dalam jangka panjang, dampaknya nyata dan berpengaruh terhadap produksi pangan yang tidak stabil, biaya produksi meningkat (pupuk, pestisida, pompa air) dan pendapatan petani menurun.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia bukan hanya menghadapi krisis produksi, tetapi juga krisis regenerasi petani.
Mengapa Ini Disebut “Ancaman Diam-Diam”?
Karena perubahan ini terjadi perlahan. Tidak selalu ada headline besar. Tidak selalu ada bencana spektakuler. Tetapi sedikit demi sedikit suhu udara naik, lahan berkurang, air tercemar dan produktivitas menurun baik secara kualitas maupun kuantitas. Tanpa disadari, ketahanan pangan menjadi rapuh.
Solusinya bukan menolak industrialisasi, tetapi memastikan keseimbangan. Pembangunan industri harus sejalan dengan perlindungan lahan pertanian produktif serta pengelolaan limbah yang ketat. Pelaku industri juga harus melakukan konservasi sumber air bersih.
Inovasi pertanian adaptif terhadap iklim
Di sisi lain, pertanian juga perlu bertransformasi dan lebih efisien air, lebih berbasis teknologi, dan lebih tahan terhadap stres lingkungan.
Perubahan iklim mungkin tidak bisa dihentikan sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Namun jika tekanan iklim dan ekspansi industri dibiarkan tanpa pengelolaan yang bijak, ancaman terhadap produksi pangan akan semakin nyata.
Karena pada akhirnya, stabilitas pangan bukan hanya soal cuaca. tetapi juga soal bagaimana kita menata pembangunan.
