Konten dari Pengguna

Plant Memory dan Epigenetik: Apakah Tanaman Bisa “Mengingat” Kekeringan?

Ajeng Retno Kustianingrum

Ajeng Retno Kustianingrum

S.Pd. Biologi UMSurabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajeng Retno Kustianingrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat kita mengalami peristiwa traumatis, tubuh dan pikiran kita bisa “mengingatnya”. Tapi bagaimana dengan tanaman? Mereka tidak memiliki otak, tidak punya sistem saraf, bahkan tidak bisa berpindah tempat. Lalu muncul pertanyaan menarik: apakah tanaman bisa mengingat kekeringan? Ya, dalam cara yang sangat berbeda dari manusia.

Tanaman hidup dalam kondisi lingkungan yang terus berubah seperti panas ekstrem, kekurangan air, banjir, hingga serangan hama. Kekeringan adalah salah satu stres terbesar bagi tanaman karena air berperan penting dalam fotosintesis, transport nutrisi, dan pertumbuhan. Saat kekurangan air, tanaman tidak hanya “layu”. Mereka mengaktifkan serangkaian respons biologis yaitu menutup stomata (pori daun) untuk mengurangi penguapan, memperlambat pertumbuhan dan mengaktifkan gen-gen tertentu yang membantu bertahan.

Ilustrasi jaringan tumbuhan sumber: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jaringan tumbuhan sumber: shutterstock

Yang menarik, jika kekeringan terjadi lagi di masa depan, beberapa tanaman dapat merespons lebih cepat dan lebih efisien. Seolah-olah mereka pernah “mengalami” hal itu sebelumnya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai plant memory atau memori stres pada tanaman.

Apa Itu Plant Memory?

Plant memory bukan berarti tanaman menyimpan ingatan seperti manusia. Tidak ada otak yang menyimpan data. Namun, pada tingkat sel dan molekuler, tanaman bisa mengalami perubahan biologis setelah stres pertama terjadi.

Ketika tanaman pertama kali mengalami kekeringan, beberapa gen pertahanan diaktifkan. Setelah kondisi kembali normal, sebagian perubahan tersebut tidak sepenuhnya hilang. Akibatnya, saat kekeringan datang lagi, tanaman lebih siap. Ini seperti latihan. Stres pertama menjadi “simulasi” bagi stres berikutnya.

Peran Epigenetik: Mengatur Tanpa Mengubah DNA

Di sinilah konsep epigenetik berperan, epigenetik adalah mekanisme yang mengatur bagaimana gen diekspresikan tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri. Ibaratnya, DNA adalah buku resep, sedangkan epigenetik adalah penanda yang menentukan resep mana yang harus dibuka.

Ilustrasi tanaman dalam cuaca ekstrem sumber: shutterstock

Saat tanaman mengalami kekeringan, terjadi perubahan epigenetik seperti metilasi DNA, modifikasi histon dan regulasi RNA kecil. Perubahan tersebut memengaruhi gen-gen respons stres agar lebih mudah diaktifkan di masa depan. Menariknya lagi, dalam beberapa kasus, perubahan epigenetik ini bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, tanaman “anak” bisa lebih siap menghadapi kekeringan meski belum pernah mengalaminya langsung.

Perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin tidak stabil. Kekeringan ekstrem dan pergeseran musim menjadi ancaman nyata bagi produksi pangan. Jika tanaman memiliki kemampuan memori stres, maka kita bisa memilih varietas yang lebih adaptif dan sistem pertanian bisa lebih resilien.

Penelitian tentang memori stres membuka peluang baru dalam pengembangan tanaman tahan kekeringan tanpa harus selalu melakukan modifikasi genetik. Memori pada tanaman bukan tentang kesadaran, melainkan tentang strategi bertahan hidup. Tanaman mungkin tidak bisa berjalan mencari air, tetapi mereka memiliki mekanisme molekuler yang canggih untuk beradaptasi.