Konten dari Pengguna

Rahasia Umur Panjang Buah Klimaterik

Ajeng Retno Kustianingrum

Ajeng Retno Kustianingrum

S.Pd. Biologi UMSurabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajeng Retno Kustianingrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pisang adalah salah satu buah tropis yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di Indonesia. Dari pedesaan hingga kota besar, pisang menjadi bagian penting dari pangan masyarakat. Namun di balik melimpahnya produksi, ada satu tantangan besar yang kerap dihadapi oleh petani, pedagang, hingga konsumen: pisang mudah sekali rusak setelah dipanen. Sebagai buah klimakterik, pisang terus mengalami proses pematangan meskipun telah dipetik dari pohon. Dalam hitungan hari, buah ini bisa berubah warna, tekstur, dan rasa, hingga akhirnya membusuk dan tak layak konsumsi.

Ilustrasi toko buah pisang sumber shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toko buah pisang sumber shutterstock

Melihat persoalan ini, tim peneliti kami berupaya mencari solusi berbasis bahan alami dan lokal. Hasilnya adalah sebuah inovasi ramah lingkungan: edible coating yang terbuat dari pati beras dan kitosan udang. Inovasi ini bukan hanya aman untuk dikonsumsi, tapi juga efektif dalam memperpanjang umur simpan pisang secara alami tanpa bahan kimia sintetis.

Mengapa Edible Coating?

Edible coating merupakan lapisan tipis yang dapat dimakan dan diaplikasikan pada permukaan buah. Teknologi ini bekerja dengan cara menghambat pertukaran gas dan uap air dari dan ke dalam buah, sehingga mengurangi laju respirasi dan menekan produksi gas etilen—gas alami yang mempercepat pematangan. Dengan menghambat etilen, proses pembusukan bisa ditunda secara signifikan.

Pemilihan bahan dalam edible coating ini bukan tanpa alasan. Pati beras dipilih karena memiliki kemampuan membentuk film pelindung yang kuat namun tetap aman dikonsumsi. Selain itu, pati beras sangat melimpah di Indonesia, menjadikannya bahan yang mudah diakses dan berkelanjutan. Sementara itu, kitosan berasal dari limbah kulit udang yang diolah menjadi senyawa aktif antibakteri. Kitosan mampu menghambat aktivitas mikroorganisme dan memperlambat respirasi buah. Menariknya, penggunaan kitosan juga menjadi solusi untuk pengelolaan limbah hasil laut, menjadikannya sebagai bahan yang bernilai tambah tinggi.

Ilustrasi kulit udang sumber shutterstock

Bagaimana Hasilnya?

Hasil uji coba menunjukkan bahwa pisang yang telah dilapisi dengan edible coating ini mampu bertahan lebih lama dibandingkan pisang tanpa perlakuan. Warna kulitnya lebih stabil, teksturnya tetap padat, dan aromanya lebih segar. Hal ini membuka peluang besar bagi para petani, distributor, dan pelaku usaha untuk memperpanjang masa simpan pisang, mengurangi kerugian akibat pembusukan, serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.

Lebih dari itu, inovasi ini tengah disiapkan untuk didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah nasional. Harapannya, inovasi ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bisa diterapkan langsung di lapangan—memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat luas.

Dengan pendekatan berbasis bahan lokal dan prinsip berkelanjutan, edible coating dari beras dan udang ini menjadi bukti bahwa sains dapat berjalan berdampingan dengan alam. Jika dikembangkan secara masif, inovasi ini berpotensi menyelamatkan jutaan buah pisang Nusantara dari pembusukan dini, sekaligus memberdayakan potensi laut dan pertanian Indonesia.

Melalui teknologi sederhana namun berdampak besar ini, kita bisa mewujudkan ketahanan pangan, mengurangi limbah, dan mendukung pertanian yang berkelanjutan. Karena menyelamatkan pisang Nusantara bukan hanya soal buah, tetapi juga soal menjaga keberlanjutan hidup di bumi pertiwi.