Kumparan Logo

Sambut Indonesia Women’s League, Pesepak Bola Wanita: Udah Kangen Banget!

kumparanBOLANITA

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Indonesia Women's League Hanipa Halimatusyadiah, Risa Afriyani, Baiq Amiatun, dan Zahra Naqiyah bersama Ketum PSSI Erick Thohir, CEO IWL Teddy Tjahjono, dan Exco PSSI Vivin Cahyani dalam konpers Indonesia Women's League 2026, Selasa (11/8). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Indonesia Women's League Hanipa Halimatusyadiah, Risa Afriyani, Baiq Amiatun, dan Zahra Naqiyah bersama Ketum PSSI Erick Thohir, CEO IWL Teddy Tjahjono, dan Exco PSSI Vivin Cahyani dalam konpers Indonesia Women's League 2026, Selasa (11/8). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Kepastian hadirnya Indonesia Women’s League (IWL) disambut baik oleh para pesepak bola wanita Indonesia. Mereka yang tak punya liga selama tujuh tahun itu merasa bersyukur dan tak sabar bisa kembali berkompetisi di level tertinggi.

Terakhir kali Indonesia memiliki liga sepak bola wanita untuk kelompok umur senior adalah pada 2019. Saat itu, Liga 1 Putri diikuti oleh 10 tim dari seluruh Indonesia. Di final, Persib Putri mengalahkan TIRA Persikabo Kartini dengan agregat 6-1 dan keluar menjadi juara.

Excited, nggak sabar, itu pasti. Nggak sabar pengin main bola lagi. 2021 aku main di PON, 2022 join Persis Solo sebelum bubar karena liganya tidak bergulir. Habis itu ke Jawa Barat untuk PON lagi, alhamdulillah kita emas. Tapi 2024 sampai sekarang latihan mandiri, karena enggak ada wadah yang benar-benar rutin untuk seusia aku,” kata Hanipa Halimatusyadiah, pesepak bola wanita yang kini bergabung dengan Bekasi City.

Hanipa mengakui, pengembangan grassroots terutama untuk usia dini sudah cukup berkembang. Masalahnya, buat pemain sepertinya yang sudah menginjak usia matang yakni 23 tahun, kompetisi ataupun liga yang konsisten dan jangka panjang malah tak ada sama sekali.

“Dan liga ini penting banget ya, karena sekarang talent scouting buat timnas juga kalau nggak ada liga, lihatnya mau dari mana? Nggak mungkin juga dari event setahun sekali kayak Pertiwi Cup atau yang empat tahun sekali seperti PON,” ujar Hanipa.

instagram embed

Berlanjutnya Jenjang Karier

Seperti Hanipa, IWL akan menjadi liga sepak bola wanita kedua yang akan diikuti Zahra Naqiyyah, pesepak bola wanita asal Bandung yang tergabung dalam tim Garudayaksa. Pada 2019 lalu, usia Zahra masih 15 tahun.

“Sekarang bisa main lagi setelah berusia 22 tahun, jadi penantian yang sangat lama. Saya sendiri merasa sangat senang dan excited akhirnya untuk perempuan usia senior bisa memiliki kompetisi yang berjalan lagi,” kata Zahra kepada kumparanBOLANITA, Selasa (11/8).

Zahra mengatakan, ia melihat sendiri bagaimana kehadiran kompetisi di usia 15 dan 18 tahun lewat HYDROPLUS Soccer League yang dijalankan rutin oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation punya dampak besar buat ekosistem sepak bola wanita Indonesia. Ia ingin anak-anak yang bermain di kelompok umur junior itu melihat IWL sebagai jalur selanjutnya buat karier mereka.

“Dengan keberlangsungan dan kehadiran liga wanita ini, terutama untuk jenjang profesional, menurut saya akan sangat bagus terutama untuk menarik bibit-bibit dari grassroots agar mereka punya masa depan yang lebih menjanjikan, bahwa mereka berlatih dari kecil itu akan bisa mengikuti liga,” tambah Zahra.

Risa Afriyani, pemain Persija Women di Indonesia Women's League 2026. Foto: Antika Fahira/kumparan

Sementara itu, salah satu pesepak bola wanita senior Indonesia, Risa Afriyani, mengusung misi lain saat comeback ke IWL Oktober nanti. Setelah bermain untuk Persija Jakarta di 2019, Risa memutuskan untuk membela tim yang sama.

“Kenapa gabung lagi ke Persija? Karena mungkin cintanya, nih, hatinya, masih ada di Persija. Kebetulan juga banyak hal yang emang dipertimbangkan dan itu cocok untuk aku ada di tim Persija gitu. Jadi berdasarkan diskusi ke manajemen dan juga ke pelatih itu untuk konsepnya masuk ke dalam konsep latihan yang aku suka gitu jadi kayak langsung, ‘Oh, iya oke’," ujar Risa.

Misi lain yang dia maksud adalah membawa Persija meraih prestasi di liga kali ini. Pada 2019, mereka yang tergabung di Grup A hanya finis di posisi tiga, di bawah Persib Putri dan TIRA Persikabo Kartini dan tak lolos ke fase selanjutnya.

“Pastinya targetnya bisa membawa Persija untuk menjadi tim yang lebih baik lagi dari 2019 lalu. Karena kan 2019 aku juga ada di Persija bareng teman-teman hasilnya untuk kami dan juga untuk tim itu kurang maksimal,” tambahnya.

Ketum PSSI Erick Thohir bersama CEO IWL Teddy Tjahjono, Sekjen PSSI Yunus Nusi, Dirut I.League Ferry Paulus, dan Exco PSSI Vivin Cahyani Sungkono menyampaikan paparan saat konferensi pers Indonesia Women's League 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Tak Mau Mandek di Tengah Jalan

Kepastian kembalinya liga sepak bola wanita Indonesia disampaikan jajaran pengurus PSSI dan I.League dalam konferensi pers Indonesia Women’s League 2026 di Kantor I.League di Menara Mandiri II, Jakarta, Selasa (11/8).

Erick Thohir selaku ketua umum PSSI mengatakan bahwa kembalinya liga ini menjadi bukti komitmen mereka pada sepak bola wanita sama kuatnya dengan sepak bola pria.

“Tidak mungkin liga ini bisa berjalan, kalau tidak ada pembangunan talent-pool sehingga jumlah pemainnya cukup untuk dilakukan secara profesional untuk klub yang akan melakukan kompetisi tersebut,” ujar Erick.

“Kami di PSSI dengan pemikiran yang sangat dalam, jangan sampai liga ini hanya dilahirkan untuk pencitraan yang akhirnya berhenti di kemudian hari,” tambah Erick.

instagram embed