Mengenal Ketan Bintul: Makanan Zaman Kesultanan Banten yang Bersejarah

Mahasiswa S-1 Ilmu Sejarah UNNES. Kader Pekanan Rakjat.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari AKBAR AHMAD SISWANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Selasa, 22 April 2025, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah rombongan belajar 2D Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan kunjungan ke Museum Surosowan di Banten Lama. Didampingi oleh Dr. Carolina Santi Muji Utami, M.Hum. dan Bambang Rakhmanto, M.Hum., kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Kajian Peninggalan Sejarah (KPS). Di antara situs-situs bersejarah, kami menemukan satu cerita menarik yang hidup di balik olahan rasa: Ketan Bintul, makanan khas Kesultanan Banten yang masih lestari hingga kini.
Makanan kesukaan Sultan hingga kini
Ketan Bintul adalah kuliner yang terbuat dari ketan, disajikan dengan campuran serundeng kelapa dan daging berbumbu yang unik. Dulu, hidangan ini hanya tersedia di kalangan Kesultanan Banten, terutama selama bulan Ramadhan dan perayaan keagamaan penting. Sekarang, hidangan ini menjadi favorit di masyarakat saat berbuka puasa.
Menurut Ibu Eni Mulyani selaku Guru TK Terpadu Edelweiss Cilegon Banten, "Dahulu ketan bintul merupakan hidangan istana, namun kini telah menjadi santapan rakyat. Tapi kami tetap menjaga resep aslinya. Kami memakai rempah alami agar rasanya tetap kaya seperti di masa lalu." Ketan Bintul tidak hanya memiliki cita rasa, tetapi juga menyimpan nilai-nilai tradisional. HIdangan khas ini juga banyak dicari di kala datangnya bulan ramadhan
Tradisi Sultan
Saat ini tradisi pemakaian Ketan Bintul dalam perayaan budaya semakin jarang dilakukan. Pada masa lampau, hidangan ini hanya tersedia pada acara khusus dan secara terbatas oleh Kesultanan. Sekarang, Ketan Bintul dapat dijumpai dan dinikmati oleh masyarakat umum di berbagai lokasi.
Menurut ibu Ade Fitria selaku pengurus Museum Surosowan menambahkan “Ketan Bintul tidak hanya untuk Kesultanan Banten, namun juga disajikan kepada tamu-tamu dari kerajaan atau Kesultanan lain sebagai bentuk penghormatan dan untuk memperkenalkan makanan khas Kesultanan Banten. Makanan Kesultanan Banten selalu disajikan oleh tamu, karena selain rasa, juga mengandung berbagai rempah yang menjadi ciri khas kuliner Banten”
Ketan Bintul lebih dari sekadar makanan, memiliki arti simbolik, Istilah "bintul diyakini berasal dari bahasa Sunda yang berarti "memotong" atau "membagi," yang mencerminkan cara ketan dipotong sebelum disajikan. Makna yang kuat juga terletak pada sifat ketannya yang lengket dan padat, menandakan persatuan dan kebersamaan, Ketika berbuka puasa dengan keluarga, Ketan bintul ada dalam sajian menu berbuka, Ketan Bintul ada dalam setiap Bulan Suci Ramadhan
Ibu Dwi Pratiwi menambahkan "Sekarang ketan bintul dikemas dengan cara yang lebih modern menggunakan cup plastik, agar dapat dibawa pulang atau dijual secara online. Namun rasanya tetap autentik, masih dan dapur khas orang Banten."
Dari Dapur ke Halaman Sejarah
Tidak hanya di Banten, Ketan Bintul juga dikenal di berbagai daerah dan bahkan dengan nama yang berbeda. Di Cirebon, hidangan yang mirip dengan empal ini disebut "Empal Gentong." Walaupun istilah dan sebutannya berbeda, metode memasaknya cukup mirip dengan yang ada di Banten.
Saat ini, Ketan Bintul dijual dengan harga yang cukup bersahabat: Rp5.000 untuk saat ukuran kecil dan Rp10.000-Rp12.000 untuk ukuran besar. Selain di pasar takjil, makanan ini juga bisa ditemukan di pusat oleh-oleh serta kios UMKM
Namun yang menjadikannya spesial bukan hanya rasa yang ditawarkan, tetapi bagaimana masyarakat Banten terus melestarikan serta mewariskan teknik pembuatan dan penyajiannya.
"Ini bukan sekadar makanan, ini warisan budaya," tegas Ibu Eni di akhir wawancara.
Peninggalan Kesultanan di Kawasan Surosowan
Pengalaman menikmati Ketan Bintul akan terasa lebih berarti jika mengunjungi tempat asalnya yaitu Kawasan Banten Lama. Museum Surosowan, yang terletak di lokasi bekas Keraton Surosowan, menyimpan banyak artefak dari Kesultanan Banten.
Beberapa tempat juga dapat dieksplorasi di sekitar area museum ini, seperti diantaranya Masjid Agung banten yang merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia.
Masjid Agung Banten ini dibangun dengan memadukan gaya arsitektur Jawa, Belanda, dan juga Tiongkok. Menaranya yang berbentuk seperti mercusuar menjadi ikon tersendiri masjid ini.
Selain Masjid Agung Banten, terdapat pula Benteng Speelwijk yang terletak tepat di depan museum ini. Warisan VOC ini dulunya juga berfungsi untuk menghalau serangan Portugis di tepi Selat Sunda. Sekarang, kondisi Benteng Speelwijk tinggal reruntuhan.
Tidak sampai disitu, terdapat juga peninggalan kemewahan istana perempuan dari kesultanan banten yakni Kolam Pemandian dan Gerbang Kaibon. Ibu Heni menjelaskan bawah kolam kolam pemandian ini digunakan oleh keluarga kesultanan.
Dengan sejarah yang begitu luas, Ketan Bintul lebih dari sekadar hidangan, Ia merupakan simbol hidup Kesultanan dari peradaban yang pernah berkuasa di ujung barat Pulau Jawa.
Menjaga Tradisi Lewat Ketan Bintul
Sebagai mahasiswa sejarah, kami menyadari bahwa warisan dari masa lalu tidak selalu hadir berupa prasasti atau bangunan besar. Kadang-kadang, warisan itu terwujud dalam bentuk sederhana seperti Ketan Bintul yang tetap bertahan di tengah berbagai perubahan, dijaga oleh tangan-tangan ibu yang setia melestarikan resep leluhur. Melalui hidangan ini, masyarakat Banten tidak hanya melestarikan citarasa, tetapi juga menjaga makna kebersamaan, penghormatan, dan tradisi yang telah ada selama ratusan tahun.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pembimbing kami yaitu Dr. Carolina. Santi Muji Utami, M.Hum. dan Bambang Rakhmanto, M.Hum., yang telah senantiasa membimbing kami dalam Kajian Peninggalan Sejarah ini dengan penuh semangat dan dedikasi,
Dalam merumuskan naskah laporan citizen journalism ini, saya tidak bekerja sendiri. Proses penulisan ini merupakan hasil kolaborasi bersama rekan saya: Arifah Nisa Amira.
