Konten dari Pengguna

Lebih dari Hiburan: Mengupas Dampak Film pada Karakter dan Kepekaan Sosial

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akmal Azaky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi dampak film terhadap maasyarakat. sumber: Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi dampak film terhadap maasyarakat. sumber: Gemini AI.

Di era digital, menonton film tanpa henti (binge-watching) telah menjadi gaya hidup pelarian dari rutinitas. Namun, film sesungguhnya beroperasi menyerupai ruang kelas raksasa yang merasuk ke alam bawah sadar kita. Kini, kita menghadapi tiga masalah sosial serius terkait konsumsi media. Pertama, "desensitisasi" atau menumpulnya empati. Paparan tontonan ekstrem secara terus-menerus membuat masyarakat makin abai terhadap ketidakadilan nyata. Kedua, mengaburnya batas antara keadilan dan balas dendam. Tindakan main hakim sendiri sering dijustifikasi dengan dalih "memberi pelajaran", sebuah pola pikir yang diadopsi dari narasi film. Ketiga, krisis literasi media membuat penonton menelan mentah-mentah nilai amoral tanpa daya kritis. Mari membedah dampak ini melalui esensi film kontroversial seperti Pesta Babi dan Teach You a Lesson.

Satire yang Menampar Kesadaran (Kajian "Pesta Babi")

Dalam keseharian, ketimpangan sosial dan kerakusan kaum elitis sering dianggap lumrah. Kita terbiasa hingga mati rasa, sampai realitas itu dikemas dalam bentuk satire yang mengganggu kenyamanan visual kita. Terkait daya dobrak seni ini, dramawan legendaris Bertolt Brecht menegaskan: "Seni bukanlah cermin yang dihadapkan pada realitas, melainkan palu yang digunakan untuk membentuknya." (Bertolt Brecht). Kutipan ini merangkum esensi karya alegoris seperti Pesta Babi. Metafora brutal dan absurd di dalamnya bukan sekadar pantulan dunia (cermin), melainkan "palu" penghancur apati penonton. Akibatnya, penonton dipaksa keluar dari zona nyaman. Rasa jijik yang muncul justru memantik diskusi kritis mengenai keserakahan. Alih-alih merusak moral, gaya film ini menajamkan kembali kepekaan sosial terhadap ketidakadilan di sekitar.

Bahaya Moralitas yang Terdistorsi (Kajian "Teach You a Lesson")

Sebaliknya, marak individu merasa berhak menyakiti orang lain atas nama "moral". Main hakim sendiri sering diromantisasi dalam thriller psikologis, menganggap menyiksa pelaku kesalahan sebagai tindakan heroik. Mengenai bahaya ini, psikolog Albert Bandura dalam penemuannya menyatakan: "Sebagian besar perilaku manusia dipelajari secara observasional melalui pemodelan... informasi ini berfungsi sebagai panduan untuk bertindak." (Albert Bandura). Hal ini menggarisbawahi risiko efek peniruan (copycat) dari narasi Teach You a Lesson. Saat kekerasan dikemas rapi seolah "kebenaran edukatif", alam bawah sadar penonton akan memodelkannya. Bila dicerna mentah, karakter penonton terdegradasi menjadi agresif. Namun dengan daya kritis, film ini seharusnya menjadi cermin peringatan tentang betapa tipisnya batas antara penegak keadilan dan penjahat.

Literasi Sinema Sebagai Benteng Karakter

Melihat dua kutub tersebut, tantangannya adalah kemudahan akses digital di mana informasi visual mengalir tanpa filter. Siapa sebenarnya yang mengontrol nilai tersebut? Profesor dan penggagas Teori Kultivasi, George Gerbner memperingatkan: "Siapa pun yang menceritakan kisah-kisah sebuah budaya, dialah yang sesungguhnya mendikte perilaku manusia." (George Gerbner). Pernyataan ini menegaskan urgensi literasi media. Mengingat sineas bertindak sebagai "pendikte perilaku", tameng audiens hanyalah literasi. Kita dituntut menjadi pengamat aktif yang sadar penuh bahwa kita sedang mengonsumsi konstruksi fiksi, bukan panduan hidup nyata. Melalui literasi, masyarakat mengambil alih kendali. Tontonan berat difungsikan sebagai medium refleksi, melahirkan generasi berempati tinggi yang tidak membiarkan layar mendikte kompas moralnya.

Sinema sejatinya adalah pedang bermata dua. Film memiliki kekuatan masif untuk menumpulkan kompas moral bagi penonton pasif, sekaligus menajamkan kepekaan sosial bagi mereka yang berpikir kritis. Pada akhirnya, pembentukan karakter berpulang pada diri kita. Akankah kita membiarkan layar kaca mendikte perilaku (seperti peringatan Gerbner), atau justru menggunakan sinema sebagai palu Brechtian untuk memperbaiki realitas? Mari menjadi audiens cerdas yang tak sekadar mencari hiburan, namun juga memetik kebijaksanaan.