Konten dari Pengguna

Pendidikan Tidak Pernah Gagal, yang Gagal adalah Pengelolanya

Alamsyah Riky Wardana

Alamsyah Riky Wardana

Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan UNPAM

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alamsyah Riky Wardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Tidak Pernah Gagal, yang Gagal adalah Pengelolanya
zoom-in-whitePerbesar

Pendidikan sering kali dituding sebagai pihak yang gagal ketika sekolah tidak mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Kurikulum dianggap bermasalah, guru dipersalahkan, bahkan siswa dicap tidak mampu. Namun, jarang sekali kita bertanya lebih jujur: benarkah pendidikan yang gagal, atau justru pengelolaannya yang keliru?

Pada hakikatnya, pendidikan adalah sistem yang dirancang untuk tumbuh, beradaptasi, dan berkembang. Nilai-nilai pendidikan, pembelajaran, pembentukan karakter, dan pengembangan potensi manusia tidak pernah gagal dengan sendirinya. Yang sering gagal adalah cara pendidikan itu dikelola. Ketika pengelolaan sekolah dijalankan tanpa visi, tanpa profesionalisme, dan tanpa akuntabilitas, pendidikan dipaksa berjalan dalam sistem yang rapuh.

Banyak persoalan pendidikan berakar pada tata kelola sekolah yang buruk. Kepemimpinan yang lemah, kebijakan yang tidak konsisten, serta pengambilan keputusan yang tidak berbasis kebutuhan pembelajaran menjadi masalah klasik. Sekolah sering dikelola dengan pendekatan kekuasaan, bukan pendekatan edukatif. Akibatnya, arah pendidikan menjadi kabur dan jauh dari tujuan idealnya.

Guru kerap menjadi korban pertama dari salah kelola pendidikan. Mereka dituntut bekerja profesional, kreatif, dan penuh dedikasi, tetapi tidak didukung oleh sistem yang adil. Ruang dialog sempit, kritik dianggap ancaman, dan prestasi tidak selalu dihargai. Dalam kondisi seperti ini, guru bukan gagal mendidik, melainkan gagal dilindungi oleh manajemen yang seharusnya menopang kerja profesional mereka.

Siswa pun menanggung dampak yang tidak kalah serius. Sekolah yang salah kelola sering kali hanya menjalankan rutinitas administratif: masuk kelas, menyelesaikan materi, dan mengejar kelulusan. Proses belajar kehilangan makna. Siswa tidak dibekali keterampilan berpikir kritis, kepekaan sosial, atau kesiapan menghadapi dunia nyata. Ketika lulusan dinilai tidak kompeten, yang disalahkan kembali adalah pendidikan, bukan sistem yang membentuknya.

Ironisnya, kegagalan pengelolaan ini kerap dinormalisasi. Sekolah yang stagnan dianggap biasa, kepemimpinan yang otoriter diterima sebagai kewajaran, dan praktik tidak profesional dibiarkan berjalan lama. Dalam banyak kasus, sekolah bahkan dikelola seperti organisasi tertutup yang kebal terhadap kritik dan evaluasi. Pendidikan akhirnya berjalan bukan untuk berkembang, tetapi sekadar bertahan.

Kesalahan terbesar adalah ketika kegagalan sistemik ini dibebankan sepenuhnya kepada guru dan siswa. Pendidikan diperlakukan seolah-olah proses teknis semata, padahal ia sangat bergantung pada kualitas tata kelola. Tanpa manajemen yang sehat, sebaik apa pun kurikulum dan kompetensi guru, hasilnya akan tetap jauh dari harapan. Pendidikan tidak pernah diberi kesempatan untuk bekerja secara utuh.

Pernyataan bahwa “pendidikan gagal” sering kali menjadi jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab pengelolaan. Dengan menyalahkan sistem secara abstrak, para pengambil kebijakan dan pengelola sekolah luput dari evaluasi kritis. Padahal, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana manusia di dalamnya diperlakukan.

Sudah saatnya kegagalan pendidikan dibaca secara lebih jujur. Pendidikan tidak pernah gagal sebagai nilai dan cita-cita. Yang gagal adalah ketika pendidikan dikelola tanpa etika, tanpa kompetensi, dan tanpa keberpihakan pada proses belajar yang bermakna. Selama pengelolaan pendidikan masih diwarnai kepentingan pribadi, kekuasaan, dan pendekatan yang tidak profesional, kegagalan akan terus berulang.

Menyelamatkan pendidikan bukan semata soal mengganti kurikulum atau menambah beban guru. Yang lebih mendesak adalah keberanian untuk mengakui bahwa persoalan utama terletak pada pengelolaannya. Pendidikan hanya akan berfungsi sebagaimana mestinya jika dikelola oleh mereka yang memahami, menghargai, dan bertanggung jawab atas amanah besar bernama masa depan manusia.