Konten dari Pengguna

Sekolah Digital Bukan Sekadar Google Classroom

Alamsyah Riky Wardana

Alamsyah Riky Wardana

Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan UNPAM

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alamsyah Riky Wardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sekolah Digital Bukan Sekadar Google Classroom (https://pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sekolah Digital Bukan Sekadar Google Classroom (https://pixabay.com)

Dalam beberapa tahun terakhir, kata “digitalisasi pendidikan” menjadi kalimat populer dalam dunia sekolah. Sejak pandemi COVID-19, banyak instansi pendidikan berlomba-lomba dalam menggunakan aplikasi digital seperti Google Classroom, Zoom, atau WhatsApp Group dan lain sebagainya, untuk memastikan dalam proses belajar mengajar tetap berjalan efektif dan optimal. Namun, muncul satu pertanyaan penting yang sering terlupakah bahwa “apakah penggunaan teknologi ini, benar-benar menunjukkan bahwa sekolah kita sudah “digital” ?”

Sayangnya, banyak sekolah berhenti pada level “menggunakan aplikasi” tanpa benar-benar memahami esensi digitalisasi pendidikan. Digitalisasi bukan sekadar beralih dari papan tulis ke layar proyektor atau dari buku cetak ke file PDF. Lebih dari itu, digitalisasi adalah transformasi budaya sekolah, cara berpikir, hingga model kepemimpinan dalam menyelenggarakan layanan pendidikan berbasis digital.

Sekolah Digital Butuh Visi, Bukan Sekadar Aplikasi

Sebagai tenaga pendidik dan mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan, saya menyaksikan secara langsung masih terdapat sekolah yang merasa sudah melaksanakan sistem digital hanya karena punya akun Google Classroom atau aktif mengunggah kegiatan sekolah di Instagram atau media sosial sejenisnya. Padahal, ketika ditanya apakah guru sudah terbiasa menggunakan perangkat digital untuk merancang pembelajaran yang kreatif, jawabannya seringkali tidak.

Digitalisasi harus dimulai dari visi kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah yang visioner akan memimpin transformasi digital secara menyeluruh dimulai dari pelatihan guru, perubahan kurikulum, penggunaan data untuk pengambilan keputusan, hingga membangun budaya organisasi yang terbuka terhadap inovasi baru.

Sekolah digital juga perlu mendesain ulang cara memberikan layanan pendidikan mereka dengan mempertimbangkan : apakah siswa mendapatkan akses belajar yang fleksibel? Apakah orang tua bisa berkomunikasi dengan mudah melalui sistem informasi? Apakah ada platform yang transparan untuk menilai dan melaporkan perkembangan siswa? Apakah orang tua dan siswa memiliki fasilitas penunjang? Dan lain sebagainya.

Teknologi Tanpa Strategi = Gadget Mahal Tanpa Fungsi

Saya sering mendapati sekolah yang mengadakan pelatihan terkait digitalisasi guru atau sekolah, dengan membeli laptop untuk guru, atau menyediakan fasilitas penunjang untuk guru, tapi tidak pernah mengevaluasi apakah semua itu berdampak pada kualitas pembelajaran. Guru tetap mengajar dengan slide monoton, siswa tetap pasif, dan interaksi digital hanya sebatas formalitas.

Kita butuh strategi digital pendidikan, bukan sekadar alat. Tanpa strategi, teknologi hanya akan jadi proyek sesaat yang akhirnya mangkrak. Sebaliknya, jika dirancang dengan benar, teknologi bisa membantu guru menjadi lebih kreatif, siswa lebih aktif, dan sekolah lebih transparan dalam menyampaikan informasi ke publik.

Budaya Digital Dimulai dari Kepala Sekolah

Salah satu kunci utama keberhasilan sekolah digital adalah kepemimpinan digital. Kepala sekolah tidak harus ahli IT atau lulusan IT, tapi pemimpin sekolah harus punya pemahaman dan semangat untuk mendorong perubahan. Kepemimpinan ini juga harus menular ke guru dan tenaga kependidikan. Artinya, semua pihak dalam sekolah perlu diajak untuk mengubah cara kerja mereka agar lebih adaptif dan inovatif.

Pelatihan guru harus diarahkan bukan hanya pada “cara pakai aplikasi”, tapi “bagaimana mendesain pengalaman belajar digital yang bermakna”. Sementara itu, evaluasi sekolah juga harus memperhitungkan sejauh mana transformasi digital menyentuh siswa dan orang tua, bukan hanya menghitung jumlah akun email guru.

Menutup Kesenjangan Digital

Transformasi digital juga tidak boleh menambah kesenjangan. Masih banyak siswa di daerah yang belum punya akses internet stabil atau perangkat digital yang memadai. Karena itu, digitalisasi pendidikan harus berjalan seiring dengan upaya pemerataan infrastruktur dan literasi digital dilingkungan sekolah.

Sekolah perlu peka terhadap hal ini. Bukan dengan menyerah pa

da keadaan, tapi dengan mencari solusi adaptif misalnya menggunakan teknologi yang ringan, membuat konten belajar yang bisa diakses offline, menyediakan laptop atau komputer yang dapat diakses siswa, atau bekerja sama dengan komunitas lokal.

Penutup: Digitalisasi Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan Akhir

Digitalisasi pendidikan bukan proyek instan yang selesai dalam satu tahun anggaran. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen semua pihak, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, hingga pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah.

Google Classroom hanyalah alat. Tapi yang membuat pendidikan menjadi benar-benar digital adalah visi, strategi, budaya kerja, dan keberanian untuk berubah.

Jika kita ingin menghasilkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan, maka sekolah kita harus lebih dari sekadar “online”—sekolah kita harus bertransformasi.