Konten dari Pengguna

Membaca Sejarah Ghana Lewat Sastra: Di Balik Keruntuhan Kwame Nkrumah

Albertha Cahyaning Setyandini

Albertha Cahyaning Setyandini

Mahasiswa S-1 Ilmu Hubungan Internasional UGM

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Albertha Cahyaning Setyandini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dokumen pribadi

“I am not African because I was born in Africa, but because Africa was born in me.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Kwame Nkrumah, pemimpin nasionalis yang lahir di Ghana, sebuah negara di Afrika Barat. Pada masa kolonial, negara ini dikenal sebagai Gold Coast karena kekayaan tambang emasnya yang dieksploitasi secara intensif oleh Inggris sejak abad ke-19. Pada tahun 1957, Ghana mencatat sejarah sebagai negara pertama di sub-Sahara Afrika yang meraih kemerdekaan. Kemerdekaan tersebut diperjuangkan melalui mobilisasi rakyat dan dicapai lewat negosiasi yang relatif damai dengan pemerintah kolonial Inggris (Birmingham, 1998).

Di bawah Nkrumah, kemerdekaan Ghana diproyeksikan sebagai simbol harapan dan kebangkitan bagi seluruh benua Afrika. Sebagai arsitek utama Pan-Afrikanisme, Nkrumah membayangkan Ghana sebagai mercusuar persatuan Afrika dan penolak neokolonialisme. Visi ini diwujudkan dengan membangun narasi sejarah otonom dan mengundang diaspora Afrika kembali, termasuk W.E.B. Du Bois (Mazrui, 1966; Adi & Sherwood, 2018).

Namun, di balik idealisme tersebut, ironi pascakolonial segera muncul. Konsentrasi kekuasaan politik perlahan membuka ruang bagi penyalahgunaan wewenang. Pemerintahan Nkrumah yang awalnya demokratis berangsur bergerak menuju otoritarianisme melalui sistem satu partai (Mazrui, 1966; Birmingham, 1998). Seiring itu, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tumbuh di lingkaran elite politik. Kondisi ini menciptakan jarak tajam antara cita-cita Pan-Afrikanisme dan realitas moral yang membusuk. Kekecewaan kolektif inilah yang kemudian membayangi pengalaman kemerdekaan Ghana dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Membaca Ghana dari Novel "The Beautyful Ones Are Not Yet Born"

Buku fisik yang dipinjamkan oleh dosen pengampu mata kuliah State Formation di Afrika kepada saya selama kelas tersebut berjalan

Kekecewaan ini tidak banyak muncul dalam pidato politik, tetapi lebih jujur hadir dalam karya sastra. Ayi Kwei Armah, penulis asal Ghana, menangkap kelelahan moral masyarakat pascakemerdekaan melalui novel The Beautyful Ones Are Not Yet Born. Novel ini tidak memuji kepahlawanan, melainkan menggambarkan korupsi kecil yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Armah mempertanyakan arti kemerdekaan ketika kejujuran justru menjadi beban, dan integritas tidak lagi dihargai.

Dalam novel ini, korupsi digambarkan secara fisik melalui metafora kotoran (filth), bau (smell), dan kebusukan (rot) yang menggerogoti lanskap perkotaan Ghana (Staehr, 2001). Sejak halaman pembuka, pembaca diserang oleh kotoran. Bau tidak sedap yang kuat dari jamban umum, tumpukan sampah yang membusuk, dan lumpur abadi yang dipenuhi sayuran dan tomat hancur, menjadi simbol kompromi moral dan ideal masyarakat. Lingkungan ini menciptakan kontras yang tajam dengan tokoh utama tanpa nama, "The Man", seorang pegawai kereta api yang mencoba mempertahankan integritasnya.

"The Man" terjebak di antara tekanan sosial dan keluarga untuk melakukan ataupun terlibat suap demi mencapai kekayaan materi (gleam), dan keengganannya untuk korupsi. Integritasnya ini teruji dalam situasi sehari-hari, seperti ketika ia menjaga di pos kereta dan seseorang bernama Amankwa datang ingin menyuap agar kayu-kayunya bisa diangkut, “The Man” bersikeras menolak tawaran tersebut. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu politikus terkenal Koomson. Tokoh Koomson ini adalah perwujudan sempurna dari Bureaucratic Bourgeoisie, kelas elit baru yang menggunakan jabatan negara untuk memperkaya diri setelah penjajah pergi. Koomson dan istrinya, Estella, merepresentasikan ambisi materialistis yang didorong oleh korupsi. 'Kilauan' ini, yang diwakili oleh mobil Mercedes mewah dan perumahan elit, mendorong populasi ke dalam aktivitas yang korup, sebuah "lompatan yang berani dan korup" yang memungkinkan pelakunya menertawakan mereka yang jujur, bodoh, dan miskin. Dalam logika sosial ini, kejujuran "The Man" justru memposisikannya sebagai sosok yang terisolasi, sebuah "lapangan tengah" (middle ground) yang menyeimbangkan antara korupsi yang aktif dilakukan para pejabat dan penarikan diri yang pasif oleh orang-orang yang memegang teguh integritasnya. Korupsi tidak lagi bersifat spektakuler, melainkan banal: ia disajikan sebagai realitas yang diterima dan dinormalisasi, sehingga orang yang menolaknya seperti "The Man" justru dianggap aneh.

Shadow State dalam Praktik Sehari-Hari

Upaya Amankwa untuk menyuap The Man agar kayu-kayunya bisa diangkut mungkin terlihat sebagai peristiwa kecil. Namun justru di situlah kekuatan novel ini. Armah memperlihatkan bagaimana negara bekerja bukan melalui aturan resmi, melainkan melalui jalur tidak resmi yang dianggap lebih efektif. Tokoh Amankwa tidak percaya pada prosedur birokrasi. Ia percaya pada uang. Inilah gambaran awal dari apa yang William Reno (1995) sebut sebagai shadow state, sebuah kondisi ketika kekuasaan negara berjalan lewat jaringan pribadi, suap, dan relasi informal, bukan melalui institusi formal.

Dalam shadow state, institusi negara tidak runtuh, tetapi kehilangan daya kerjanya karena kekuasaan dijalankan di luar praktik birokrasi formal, melalui negosiasi informal dan relasi personal (Reno, 1995; Smith, 1997). Praktik ini sangat terasa dalam dunia The Beautyful Ones Are Not Yet Born. Penolakan The Man terhadap suap bukan hanya tindakan moral, tetapi juga tindakan yang “tidak rasional” dalam sistem sosial semacam ini. Karena itu, tokoh Amankwa terus memaksa. Dalam logika negara bayangan, kegigihan menyuap adalah hal wajar.

Tokoh Koomson memperkuat gambaran ini. Ia bukan sekadar politisi korup, melainkan representasi dari apa yang dalam kajian Afrika disebut bureaucratic bourgeoisie, elit baru pascakolonial yang mewarisi struktur kolonial, lalu menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Negara memang sudah merdeka secara politik, tetapi secara moral dan ekonomi masih terjebak dalam warisan kolonial. Inilah yang sering disebut sebagai economic inheritance: struktur ekonomi ekstraktif, birokrasi rapuh, dan budaya rente (mencari keuntungan) yang terus berlanjut setelah penjajah pergi.

Dalam tipologi kenegaraan Robert Rotberg, kondisi Ghana dalam novel ini paling dekat dengan kategori weak state, bukan failed atau collapsed state. Menurut Rotberg (2003), weak state ditandai oleh keberlangsungan institusi negara, tetapi kegagalan dalam menyediakan political goods secara adil dan efektif. Yang menarik, Armah tidak menggambarkan Ghana sebagai negara gagal. Ia menggambarkannya sebagai negara yang letih secara moral. Inilah kekuatan novel tersebut. Ia menunjukkan bahwa negara bisa stabil secara politik, tetapi rapuh secara etis. Dalam bahasa sederhana: negara berdiri, tetapi nilai-nilainya rusak. Armah berhasil menunjukkan bahwa kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan moral hanya akan melahirkan kebusukan yang merangkul setiap aspek kehidupan, dari politik hingga toilet umum.

Kesimpulan

Negara Ghana yang kacau digambarkan Armah dalam novel ini akhirnya bertemu dengan kenyataan sejarah. Pada tahun 1966, Kwame Nkrumah digulingkan melalui kudeta militer saat berada di luar negeri. Kejatuhan ini bukan sebuah kejutan, melainkan klimaks dari kekecewaan yang telah lama mengendap. Dalam novel, suasana runtuhnya rezim tercermin ketika figur-figur seperti Koomson panik dan bersembunyi, meninggalkan simbol kemewahan yang sebelumnya mereka banggakan. Negara yang selama ini berjalan lewat jaringan bayangan tiba-tiba kehilangan pelindungnya. Armah menunjukkan bahwa ketika legitimasi moral runtuh, kekuasaan formal pun menjadi rapuh. Negara tidak jatuh karena serangan luar, melainkan karena kepercayaan dari dalam telah lama hilang.