Konten dari Pengguna

Hubungan Terbalik: Emas dan Dolar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bernaldo Nurhadi Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar di ambil berdasarkan editan penulis secara langsung
zoom-in-whitePerbesar
Gambar di ambil berdasarkan editan penulis secara langsung

Dolar AS adalah mata uang cadangan utama dunia, artinya dolar AS digunakan secara luas dalam perdagangan global dan sebagai standar cadangan mata uang yang disimpan oleh bank sentral. Sebagai mata uang dominan di dunia, mata uang ini memainkan peran penting dalam menentukan nilai banyak aset keuangan, termasuk komoditas seperti emas.

Emas telah lama dianggap sebagai aset safe-haven—aset keuangan yang cenderung berkinerja baik selama periode ketidakstabilan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, atau inflasi tinggi. Investor berbondong-bondong memilih emas ketika mereka takut nilai mata uang fiat seperti dolar AS akan menurun karena inflasi atau tantangan ekonomi lainnya. Secara historis, emas telah digunakan sebagai penyimpan nilai, terutama pada saat kepercayaan terhadap mata uang kertas berkurang.

Biasanya, ada hubungan terbalik antara emas dan dolar AS. Ketika nilai dolar naik, emas cenderung turun, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena beberapa alasan utama:

  1. Harga Emas dalam Dolar: Emas dihargai dalam dolar AS, jadi ketika nilai dolar meningkat relatif terhadap mata uang lain, emas menjadi lebih mahal dalam mata uang asing. Hal ini menyebabkan penurunan permintaan emas dari pembeli internasional, sehingga memberikan tekanan pada harga emas.

  2. Suku Bunga dan Ekspektasi Inflasi: Ketika dolar menguat, sering kali ini merupakan tanda bahwa Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Kenaikan suku bunga membuat kepemilikan emas (yang tidak memberikan bunga) kurang menarik dibandingkan investasi lain, seperti obligasi atau rekening tabungan. Sebaliknya, ketika dolar melemah, ekspektasi inflasi mungkin meningkat, dan investor sering kali beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap erosi daya beli.

  3. Ketidakpastian Global: Ketika terjadi ketidakstabilan keuangan atau ketegangan geopolitik, dolar AS mungkin melemah karena investor berupaya melakukan diversifikasi ke mata uang atau aset lain. Dalam kondisi ini, emas sering kali bertindak sebagai penyimpan nilai dan harganya bisa naik seiring penurunan dolar.