Apakah Employee Generated Content Senjata Branding yang Bisa Jadi Backfire?

Aldridge Christian Seubelan, yang biasa dikenal dengan panggilan AL adalah seorang brand dan digital marketers. Yang gemar menulis artikel dengan tema leadership, worklife, branding dan digital marketing. Saya menempuh pendidikan di BINUS University
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aldridge Christian Seubelan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital yang semakin jenuh dengan iklan dan kampanye branding yang terkesan tidak otentik, kepercayaan audiens terhadap pesan brand mengalami pergeseran besar. Kini, pelanggan lebih percaya pada orang-orang di dalam brand itu sendiri: karyawan. Employee-Generated Content (EGC) bukan hanya sekadar tren, tetapi telah menjadi strategi esensial dalam membangun kredibilitas dan keterlibatan yang autentik.
Pada dasarnya, audiens memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap apa yang terjadi di balik layar sebuah perusahaan. Mereka ingin melihat bagaimana lingkungan kerja di dalamnya, budaya perusahaan, hingga pengalaman langsung dari karyawan. Dulu, EGC sering kali menampilkan hal-hal menarik seperti suasana kantor startup yang dinamis, berbagai fasilitas, hingga makanan dan minuman gratis. Namun, dengan adanya fenomena layoff belakangan ini, audiens kini lebih kritis dan ingin mengetahui apakah semua yang ditampilkan benar-benar mencerminkan kondisi perusahaan sesungguhnya.
Mengapa Employee-Generated Content Penting?
Dahulu, storytelling sebuah brand hampir sepenuhnya dikendalikan oleh tim komunikasi merek. Namun, era keterbukaan digital telah mengubah dinamika ini. Karyawan kini memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan iklan berbayar karena publik melihat mereka sebagai sumber informasi yang lebih transparan dan otentik.
Menurut Edelman Trust Barometer, 53% pelanggan lebih percaya pada informasi yang berasal dari karyawan dibandingkan CEO atau juru bicara resmi perusahaan. Artinya, perusahaan yang tidak memanfaatkan EGC berpotensi kehilangan peluang besar dalam membangun hubungan emosional dengan pelanggan dan calon talenta terbaik.
Sebagai contoh, dalam kasus Paragon, peran C-Level atau pemimpin perusahaan menjadi faktor penting dalam membangun citra positif. Jika karyawan merasa bangga terhadap tempat mereka bekerja, maka besar kemungkinan hal itu terjadi karena adanya kepemimpinan yang kuat dan lingkungan kerja yang baik.
Employee Advocacy vs. Employee-Generated Content
Ada perbedaan mendasar antara Employee Advocacy dan Employee-Generated Content. Employee Advocacy adalah ketika karyawan membagikan konten atas nama perusahaan, sering kali melalui arahan atau inisiatif dari perusahaan itu sendiri. Sementara itu, Employee-Generated Content adalah ketika karyawan secara organik menciptakan konten yang menceritakan pengalaman mereka sendiri dalam bekerja di suatu perusahaan. EGC lebih bersifat alami dan menunjukkan rasa bangga yang lebih tulus jika isi kontennya bersifat positif.
Dampak EGC: Positif atau Backfire?
Apakah EGC yang bersifat negatif bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan? Kasus PT Sritex menjadi contoh menarik. Ketika menghadapi tantangan besar, pemilik perusahaan turun langsung, duduk bersama belasan ribu karyawannya, meminta maaf, dan mengapresiasi kesetiaan mereka. Hal ini justru mengubah persepsi publik dari yang awalnya negatif menjadi apresiatif terhadap tindakan perusahaan.
Strategi Membangun EGC yang Organik dan Berkelanjutan
Tentukan EVP dan Brand Persona
EVP (Employee Value Proposition) dan brand persona sering kali dikelola oleh departemen yang berbeda, misalnya EVP oleh tim HR dan brand persona oleh tim komunikasi merek. Sebaiknya, kedua tim ini berkolaborasi agar pesan yang disampaikan kepada publik selaras dengan visi, misi, serta produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.
Bangun Personal Branding Karyawan yang Berpengaruh
Identifikasi karyawan atau pemimpin perusahaan yang memiliki pengaruh besar dan citra positif di mata publik. Kolaborasi dengan mereka untuk menciptakan konten organik yang sesuai dengan karakter masing-masing. EGC harus terasa natural dan tidak terkesan seperti skrip pemasaran yang dipaksakan. Namun, perusahaan tetap dapat memberikan panduan minimal seperti jenis konten yang relevan, penggunaan hashtag tertentu, serta nilai-nilai perusahaan yang bisa diangkat tanpa membatasi kreativitas karyawan.
Studi Kasus: Brand yang Sukses Menggunakan EGC
Starbucks – #ToBeAPartner
Starbucks membangun komunitas karyawannya melalui hashtag #ToBeAPartner di media sosial. Alih-alih hanya membicarakan produk, para barista berbagi pengalaman bekerja di Starbucks, yang memperkuat employer branding perusahaan.
Adobe – #AdobeLife
Adobe menggunakan hashtag #AdobeLife untuk menampilkan kehidupan sehari-hari karyawan mereka. Strategi ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan di media sosial, tetapi juga membantu Adobe menarik talenta digital terbaik yang ingin menjadi bagian dari perusahaan.
Publik semakin peka terhadap konten yang terasa terlalu ‘diatur’ atau berlebihan. Di masa depan, EGC yang paling sukses akan datang dari perusahaan yang benar-benar memiliki budaya transparan dan karyawan yang merasa diberdayakan, bukan dari kampanye yang sekadar bertujuan untuk kepentingan pemasaran semata.
Jadi, apakah brand Anda sudah siap memanfaatkan Employee-Generated Content? Atau justru EGC ini malah dapat meningkatkan sentimen negatif terhadap brand Anda?
Jawabannya kembali pada seberapa kuat keterlibatan antara pemilik bisnis dan karyawannya, serta seberapa baik perusahaan menciptakan produk atau layanan yang dapat dibanggakan oleh para karyawannya.
