Konten dari Pengguna

Kenapa Brand Toys Bisa Viral, Padahal Yang Dibeli Tidak Keliatan?

Aldridge Christian Seubelan

Aldridge Christian Seubelan

Aldridge Christian Seubelan, yang biasa dikenal dengan panggilan AL adalah seorang brand dan digital marketers. Yang gemar menulis artikel dengan tema leadership, worklife, branding dan digital marketing. Saya menempuh pendidikan di BINUS University

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aldridge Christian Seubelan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

blindbox toys, sumber : aldridge christian seubelan Photo
zoom-in-whitePerbesar
blindbox toys, sumber : aldridge christian seubelan Photo

Kamu lagi jalan di mal, dan melihat etalase kecil penuh kotak berwarna pastel.Di setiap kotaknya, ada tulisan kecil yang menggoda:

“Collect them all — but you’ll never know what’s inside.”

Kamu tahu kemungkinan besar kamu tidak akan dapat yang kamu inginkan. Tapi tanganmu tetap mengambil satu box, membayar, dan membukanya dengan degup kecil di dada. Satu detik kemudian, kamu tersenyum kecewa tapi puas.

Kenapa kita menikmati kejutan yang tidak pasti ini? Jawabannya bukan sekadar karena produk di dalamnya tapi karena emosi yang dikandungnya.Inilah esensi dari The Blind Box Economy: dunia di mana rasa penasaran, ekspektasi, dan ketidakpastian menjadi mata uang baru dalam perilaku konsumen modern.

Konsep blind box bukan hal baru.Akar ide ini bisa ditelusuri hingga akhir abad ke-19, ketika perusahaan permen Amerika Cracker Jack (1896) mempopulerkan slogan: “A prize in every box.”

Setiap bungkus permen berisi mainan kecil yang tidak diketahui pembeli sebelumnya.Kejutan sederhana itu menciptakan efek psikologis baru: pembelian tidak hanya tentang rasa permen, tapi tentang harapan terhadap hadiah yang tak terduga.

Itulah cikal bakal ekonomi berbasis rasa penasaran the curiosity-driven purchase.ahun 1970-an, Jepang memperkenalkan mesin Gachapon (atau Gachagacha), vending machine kecil berisi kapsul mainan acak.

Dengan memasukkan 100 yen, konsumen akan memutar tuas dan menerima satu kapsul berisi mainan tanpa tahu karakter apa yang keluar.

Fenomena ini langsung meledak. Gachapon bukan cuma hiburan anak-anak, tapi juga memuaskan “collecting instinct” orang dewasa — rasa ingin melengkapi seri lengkap dan mencari item langka (rare edition).

Dari sinilah lahir pola konsumsi baru:

🧩 repeat purchase behavior (karena ingin melengkapi koleksi)

💭 anticipation dopamine (karena ingin tahu hasilnya)

💸 community culture (karena item bisa ditukar antar kolektor)

Jepang menjadikan konsep “misteri dalam produk” sebagai bagian dari budaya pop fondasi kuat bagi apa yang kemudian disebut Blind Box Economy.

Mainan Koleksi ke Strategi Ekonomi

Tren ini melonjak terutama di Asia, dimulai dari Jepang dan Tiongkok.

Brand seperti Sonny Angel, Re-Ment, hingga Pop Mart mengubah figur kecil menjadi cultural phenomenon. Konsumen tidak hanya membeli produk, tapi pengalaman emosional menunggu, menebak, lalu membuka.

Menurut laporan China Daily (2023), industri blind box Tiongkok kini bernilai lebih dari USD 10 miliar, dan diprediksi tumbuh 25% per tahun.

Bahkan, Pop Mart kini menjadi ikon gaya hidup Gen Z, dengan fanbase yang menganggap “berburu karakter rare” sebagai bagian dari identitas mereka.Fenomena ini bukan sekadar tren belanja, tapi cermin dari perubahan cara manusia menikmati konsumsi: dari kepastian menuju pengalaman.

Dari Konsumsi ke Ketagihan: Psikologi di Baliknya

Menurut behavioral economics, fenomena ini berakar dari Variable Reward System sistem penghargaan acak yang ditemukan juga dalam mekanisme slot machine atau loot box di video game. Riset dari Harvard Business Review (2023) menemukan bahwa uncertainty-driven reward memicu level dopamin 40% lebih tinggi dibanding reward yang pasti.

Artinya, bukan hadiah atau isi box yang paling membuat bahagia,

tapi ekspektasi terhadap kejutan itu. Psikologi ini bekerja melalui tiga mekanisme utama:

  • Anticipation Dopamine — Ekspektasi sebelum membuka box memberi sensasi “harapan” yang lebih nikmat daripada hasilnya.

  • Collection Drive — Naluri untuk melengkapi seri atau mengejar item “rare” menimbulkan perilaku berulang (repetitive purchase).

  • Social Visibility — Fenomena unboxing di media sosial menciptakan efek domino, karena rasa penasaran manusia bersifat sosial.

Dalam riset McKinsey 2024, 64% Gen Z mengatakan bahwa mereka menikmati “unsur kejutan” dalam pengalaman berbelanja — bahkan jika nilai barangnya tidak besar.

Figur ke Fashion, Beauty, dan Digital

Konsep blind box kemudian menular ke berbagai industri.

Fashion & Beauty:

Brand seperti Nike, Adidas, dan Glossier meluncurkan edisi misterius, di mana konsumen tidak tahu warna, varian, atau desain hingga produk diterima.Ini menciptakan efek anticipation marketing — strategi yang memperpanjang atensi pelanggan.

Digital & Gaming:

Dunia game mengadopsi ide ini lewat loot boxes — hadiah digital acak berisi item langka.

Dalam game seperti Overwatch atau FIFA Ultimate Team, sistem ini memicu perilaku serupa seperti blind box fisik — rasa penasaran yang mendorong pembelian berulang.

F&B (Food & Beverage):

Di Tiongkok dan Korea, restoran cepat saji meluncurkan mystery meal box, di mana isi minuman atau menu dikombinasikan acak untuk memberi sensasi “fun and surprise.”

Namun tidak semua bentuk blind box bersifat eksploitatif. Beberapa brand mulai menggeser fokus dari random reward ke meaningful discovery.

Contohnya:

  • Glossier — meluncurkan Mystery Skincare Pack berdasarkan jenis kulit pembeli tetap misterius, tapi relevan.

  • LEGO — membuat kampanye “Build the Unknown” , pelanggan menerima potongan acak untuk menciptakan bentuk sendiri.

  • Spotify Wrapped — bentuk blind box digital yang memanfaatkan rasa penasaran kita tentang “siapa kita dalam data.”

Ini bukan lagi tentang randomness, tapi personal revelation. Kejutan digunakan bukan untuk mengontrol, tapi untuk connect.

Insight untuk Marketer dan Brand Strategist

Bagi para pemasar modern, blind box bukan sekadar mekanisme — tapi pelajaran.

1️⃣ Design curiosity, not chaos.

Bangun misteri yang menggugah, bukan manipulasi. Konsumen suka penasaran, tapi benci dibohongi.

2️⃣ Create anticipation loops.

Seperti Apple, ciptakan perjalanan emosi dari ekspektasi hingga kepuasan.

3️⃣ Make the surprise meaningful.

Gunakan elemen kejutan untuk memperkuat nilai, bukan menutupinya. Kejutan yang berakar pada purpose menciptakan koneksi emosional yang bertahan lama.

4️⃣ Be transparent behind the magic.

Rasa misterius boleh ada, tapi integritas harus tetap terlihat. Konsumen modern menghargai kejujuran bahkan dalam kejutan.