Kenapa Pria Butuh Waktu untuk Dirinya Sendiri
Tulisan dari Aldridge Christian Seubelan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang sering terjadi ketika seorang pria memasuki usia 30-an: hidupnya semakin penuh, tetapi waktunya untuk dirinya sendiri justru semakin sedikit. Pekerjaan semakin besar, tanggung jawab bertambah, keluarga membutuhkan perhatian, financial planning mulai serius, kesehatan mulai harus dijaga, dan semakin banyak orang yang bergantung kepadanya. Hari-hari akhirnya dipenuhi dengan satu tugas ke tugas berikutnya. Sampai suatu hari muncul pertanyaan sederhana: "Kapan terakhir kali saya benar-benar melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri?"
Mungkin jawabannya adalah saat duduk di barbershop. Empat puluh lima menit tanpa laptop, tanpa meeting, tanpa harus mengambil keputusan. Atau ketika melakukan refleksologi setelah minggu yang panjang. Bisa juga saat gym sendirian, menyetir tanpa tujuan tertentu, duduk di coffee shop, membaca buku, atau sekadar berada di kamar tanpa harus menjawab siapa pun. Aktivitasnya sederhana. Tetapi efeknya sering kali lebih besar daripada yang kita sadari.
Kita sering menganggap aktivitas seperti grooming, massage, olahraga, atau me time sebagai kemewahan. Seolah-olah kita melakukannya hanya ketika semua pekerjaan sudah selesai. Masalahnya, dalam kehidupan orang dewasa, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada email berikutnya, meeting berikutnya, deadline berikutnya, dan masalah berikutnya.
Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara melihat self-care. Ia bukan hadiah setelah kita selesai bekerja keras. Ia adalah bagian dari maintenance agar kita tetap mampu menjalani hidup dengan baik.
World Health Organization mendefinisikan burnout sebagai fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, dengan karakteristik seperti kelelahan, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional. Artinya, menunggu sampai benar-benar kehabisan energi bukanlah strategi yang ideal. Kita perlu memiliki ruang untuk melakukan reset sebelum tubuh dan pikiran memaksa kita berhenti.
Di sinilah sebuah ritual menjadi penting.
Ritual berbeda dengan sekadar aktivitas. Ritual adalah sesuatu yang sengaja kita lakukan berulang kali untuk menciptakan jeda. Barbershop setiap beberapa minggu. Gym tiga kali seminggu. Massage sebulan sekali. Ngopi sendirian setiap Minggu pagi. Jalan kaki tanpa membuka ponsel. Membaca beberapa halaman buku sebelum tidur. Bukan karena aktivitas tersebut akan menyelesaikan seluruh persoalan hidup, tetapi karena kita sedang menciptakan sebuah batas: selama beberapa waktu, saya tidak harus menjadi apa-apa untuk siapa pun.
Dan mungkin ini yang semakin dibutuhkan pria ketika bertambah dewasa.
Karena sejak kecil banyak pria secara tidak langsung diajarkan untuk menjadi problem solver. Ketika ada masalah, cari solusi. Ketika ada tekanan, tahan. Ketika pekerjaan berat, selesaikan. Ketika keluarga membutuhkan sesuatu, hadir. Akhirnya kita sangat terlatih untuk menjaga keadaan tetap baik, tetapi kurang terlatih untuk bertanya, "Sebenarnya saya sendiri baik-baik saja atau tidak?"
Ritual reset memberikan kesempatan untuk pertanyaan itu muncul.
Bukan berarti setiap pergi ke barbershop kita harus melakukan refleksi kehidupan. Justru tidak perlu. Kadang kita hanya perlu duduk, mendengar suara clipper, merasakan pijatan kepala, atau menikmati kopi tanpa membuka WhatsApp. Tubuh mendapatkan kesempatan untuk melambat, dan pikiran akhirnya memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalannya.
Namun ada satu hal yang perlu dibedakan: reset bukan escape.
Escape adalah ketika kita menggunakan sesuatu untuk terus melarikan diri dari masalah. Reset adalah ketika kita berhenti sebentar agar memiliki energi dan kejernihan untuk kembali menghadapi masalah tersebut.
Karena itu, me time yang sehat bukan tentang sebanyak apa uang yang kita habiskan untuk diri sendiri. Bukan pula tentang memiliki lifestyle yang terlihat mahal. Kita tidak membutuhkan spa setiap minggu atau liburan setiap bulan untuk merasa baik-baik saja. Kadang ritual reset paling sederhana justru yang paling efektif: berjalan kaki, berolahraga, duduk sendirian, berdoa, membaca, atau menghabiskan satu jam tanpa notifikasi.
Yang penting adalah kesengajaan untuk berhenti.
Deloitte dalam 2025 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa well-being semakin menjadi bagian penting dari bagaimana generasi pekerja melihat kehidupan dan karier. Responden tidak hanya mengejar uang atau kemajuan profesional, tetapi juga mencari keseimbangan, makna, dan kehidupan yang terasa sustainable. Ini menunjukkan perubahan yang lebih besar: semakin dewasa seseorang, semakin sulit memisahkan keberhasilan dari kualitas hidup.
Mungkin karena itu, ritual kecil seperti grooming, olahraga, refleksi, atau solo coffee bukan lagi sekadar soal penampilan atau lifestyle. Ia menjadi cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri: "Saya juga penting."
Dalam kehidupan rohani, prinsip ini sebenarnya sudah lama diajarkan. Ketika murid-murid Yesus begitu sibuk sampai tidak mempunyai waktu untuk makan, Yesus berkata, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Markus 6:31).
Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan, "Selesaikan dulu semuanya, baru beristirahat."
Ia justru mengajak mereka berhenti di tengah kesibukan.
Ada waktunya kita bekerja. Ada waktunya kita melayani. Ada waktunya kita hadir untuk orang lain. Tetapi ada juga waktunya kita diam, memulihkan diri, dan kembali kepada Tuhan.
Mungkin inilah yang sering hilang dari kehidupan modern: kita tahu bagaimana caranya go, tetapi lupa bagaimana caranya pause.
Jadi, mulai minggu ini, coba punya satu ritual reset yang benar-benar kamu lindungi. Tidak harus mahal. Tidak harus Instagrammable. Tidak harus menghasilkan sesuatu. Yang penting, selama ritual itu berlangsung, kamu tidak sedang mengejar pencapaian apa pun.
Karena hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita selesaikan.
Kadang kedewasaan juga berarti mengetahui kapan harus berhenti sejenak agar kita tidak kehilangan diri sendiri di tengah semua hal yang sedang kita perjuangkan.
Barbershop mungkin hanya 45 menit. Refleksologi mungkin hanya satu jam. Gym mungkin hanya 60 menit. Secangkir kopi mungkin hanya 30 menit.
Tetapi jika setelahnya kita kembali menjadi manusia yang lebih tenang, lebih hadir, lebih jernih, dan lebih siap menjalani tanggung jawab, mungkin waktu itu tidak pernah benar-benar terbuang. Itulah The Ritual of Reset. Bukan melarikan diri dari kehidupan, tetapi berhenti sejenak agar kita bisa kembali menjalaninya dengan utuh.

