Konten dari Pengguna

Mungkin Masalah Terbesar Kita Bukan Loneliness

foto suasana perkotaan - aldridge christian seubelan
zoom-in-whitePerbesar
foto suasana perkotaan - aldridge christian seubelan

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian. Kita punya keluarga, teman kantor, group chat yang tidak pernah benar-benar sepi, followers di media sosial, bahkan mungkin seseorang yang bisa kita hubungi kapan saja. Kita bisa pergi ke restoran yang ramai, menghadiri pesta, berada di tengah meeting, duduk bersama teman-teman, atau menghabiskan waktu di sebuah tempat yang penuh manusia. Tetapi ketika semua itu selesai dan kita kembali sendirian, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seperti ada sesuatu yang kurang. Bukan karena tidak ada orang. Justru mungkin karena ada begitu banyak orang, tetapi tidak banyak yang benar-benar kita rasakan dekat.

Kita kemudian menyebutnya loneliness.

Dan mungkin memang itu loneliness. Tetapi belakangan saya mulai berpikir bahwa mungkin masalah terbesar kita bukan selalu karena kita kekurangan orang. Mungkin kita kekurangan connection. Ada perbedaan yang sangat besar antara being surrounded dan being connected. Kita bisa dikelilingi banyak orang tanpa merasa memiliki tempat untuk pulang secara emosional. Kita bisa memiliki banyak teman tanpa merasa benar-benar bisa menjadi diri sendiri di depan mereka. Kita bisa berbicara dengan banyak orang setiap hari tanpa pernah benar-benar mengatakan apa yang sedang terjadi di dalam hati kita.

Mungkin yang kita cari sebenarnya bukan seseorang untuk diajak bicara. Kita mencari seseorang yang membuat kita tidak perlu terlalu banyak menjelaskan.

Karena ada jenis kesepian yang muncul bukan ketika tidak ada siapa-siapa, tetapi ketika kita merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal kita. Orang tahu pekerjaan kita, tetapi tidak tahu apa yang membuat kita takut. Orang tahu pencapaian kita, tetapi tidak tahu insecurity kita. Orang tahu apa yang kita posting, tetapi tidak tahu apa yang kita pikirkan ketika layar smartphone sudah dimatikan. Orang tahu versi diri kita yang kita tampilkan, tetapi tidak tahu versi diri kita yang muncul ketika hidup sedang berantakan.

Dan mungkin ini menjadi semakin relevan di zaman sekarang. Kita hidup di era ketika manusia jauh lebih mudah terhubung daripada sebelumnya. Kita bisa mengirim pesan kepada seseorang yang berada di belahan dunia lain hanya dalam beberapa detik. Kita bisa mengetahui apa yang dilakukan teman lama tanpa pernah benar-benar berbicara dengannya. Kita bisa mengikuti kehidupan orang yang bahkan belum pernah kita temui. Kita bisa mendapatkan respons dari orang lain kapan saja. Secara teknologi, kita mungkin tidak pernah benar-benar sendirian.

Tetapi koneksi digital tidak selalu menghasilkan connection emosional.

Kita bisa mendapatkan seratus likes dan tetap merasa tidak ada yang benar-benar memahami kita. Kita bisa memiliki ribuan followers dan tetap tidak tahu siapa yang bisa kita telepon ketika hidup sedang runtuh. Kita bisa memiliki puluhan group chat tetapi tidak punya satu percakapan yang benar-benar jujur. Kita bisa melihat ratusan wajah setiap hari melalui layar, tetapi tetap merasa tidak benar-benar "dilihat".

Ini yang menurut saya menarik. Visibility is not the same as being known.

Kita bisa sangat terlihat, tetapi tidak benar-benar dikenal.

Dan mungkin ini juga berkaitan dengan bagaimana kita menjalani kehidupan modern. Kita semakin pandai mengelola image, tetapi semakin sulit menunjukkan vulnerability. Kita belajar bagaimana terlihat confident, positive, successful, independent, productive, dan happy. Kita membangun personal branding. Kita memilih apa yang ingin orang lihat. Kita mengatur cerita tentang diri kita. Kita menunjukkan bagian yang menurut kita layak diketahui orang lain dan menyimpan bagian yang terasa terlalu rapuh untuk dibagikan.

Masalahnya, connection membutuhkan sesuatu yang berbeda.

Connection membutuhkan kejujuran.

Kita tidak bisa benar-benar dekat dengan seseorang kalau sepanjang waktu kita hanya memberikan versi diri yang sudah dikurasi. Orang mungkin menyukai kita karena apa yang kita tunjukkan, tetapi mereka belum tentu mengenal kita karena apa yang kita sembunyikan.

Dan mungkin itu sebabnya semakin dewasa kita justru merasa circle semakin kecil.

Ketika masih muda, berteman terasa sangat mudah. Kita bisa bertemu seseorang di kelas, duduk bersama beberapa kali, lalu tiba-tiba menjadi teman. Kita tidak terlalu banyak berpikir tentang status, karier, background, interest, atau apakah hubungan itu akan memberikan sesuatu kepada kita. Kita berteman karena sering bertemu dan merasa cocok.

Tetapi semakin dewasa, hidup berubah. Kita pindah pekerjaan. Teman menikah. Ada yang pindah kota. Ada yang punya anak. Ada yang sibuk membangun karier. Ada yang mulai memiliki prioritas berbeda. Frekuensi bertemu semakin jarang. Group chat masih ada, tetapi percakapan semakin pendek. Ulang tahun masih saling mengucapkan, tetapi tidak lagi benar-benar tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupan masing-masing.

Dan tiba-tiba kita sadar bahwa memiliki banyak teman tidak sama dengan memiliki deep friendships.

Mungkin kita tidak membutuhkan circle yang lebih besar.

Mungkin kita membutuhkan circle yang lebih dalam.

Ada sebuah kalimat yang sering kita dengar: "Quality over quantity." Tetapi dalam hubungan manusia, kualitas itu bukan sekadar seberapa sering kita bertemu atau seberapa lama kita sudah berteman. Kualitas muncul ketika kita bisa hadir secara jujur. Ketika kita bisa mengatakan, "Saya sedang tidak baik-baik saja," tanpa takut dianggap lemah. Ketika kita bisa membicarakan sesuatu yang membuat kita malu tanpa takut cerita itu digunakan untuk melawan kita. Ketika kita bisa berbeda pendapat tanpa takut hubungan langsung berakhir. Ketika kita bisa diam bersama seseorang tanpa merasa harus terus mengisi keheningan.

Mungkin itulah salah satu bentuk connection yang paling langka: the freedom to be unperformed.

Tidak perlu terlihat pintar.

Tidak perlu terlihat sukses.

Tidak perlu terlihat bahagia.

Tidak perlu selalu punya jawaban.

Tidak perlu menjadi versi terbaik dari diri kita setiap saat.

Cukup menjadi manusia.

Dan saya rasa, semakin dewasa, kita semakin membutuhkan ruang seperti itu.

Menariknya, kebutuhan untuk terhubung sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Manusia memang diciptakan untuk hidup dalam relasi. Bahkan sejak awal kisah penciptaan, ada pengakuan yang sangat sederhana tetapi mendalam: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri." Kalimat itu bukan berarti manusia tidak boleh sendirian atau membutuhkan orang lain setiap detik. Ada perbedaan antara solitude dan loneliness. Sendirian bisa menjadi pilihan yang sehat. Kesepian adalah ketika hati merindukan connection tetapi tidak menemukannya.

Tuhan Yesus sendiri menunjukkan bahwa kehidupan yang bermakna tidak dijalani sendirian. Ia memiliki murid-murid. Ia makan bersama orang lain. Ia menghadiri perjamuan. Ia menangis bersama mereka yang berduka. Ia hadir di tengah orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Bahkan ketika Ia mengetahui bahwa salah satu orang terdekat-Nya akan mengkhianati-Nya, Ia tetap menjalani relasi dan kebersamaan dengan mereka.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Yesus hadir bersama manusia: Ia tidak hanya memberikan jawaban. Ia juga hadir.

Mungkin kita sering berpikir bahwa ketika seseorang sedang mengalami masalah, kita harus memberikan solusi. Kita harus mengatakan sesuatu yang bijaksana. Kita harus membuat mereka merasa lebih baik. Padahal terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di samping mereka dan mengatakan, "Saya ada di sini."

Mungkin itu juga yang sering hilang dalam kehidupan kita.

Kita punya banyak orang yang bisa memberikan advice.

Tetapi sedikit orang yang mau stay.

Sedikit orang yang mau mendengarkan cerita yang sama untuk ketiga kalinya. Sedikit orang yang mau hadir ketika kita sedang tidak menyenangkan untuk diajak bicara. Sedikit orang yang tetap menghubungi kita bukan karena ada kebutuhan, tetapi karena mereka memang peduli. Sedikit orang yang tidak hanya hadir ketika hidup kita sedang bagus, tetapi juga ketika kita sedang berantakan.

Dan di sinilah saya mulai berpikir bahwa loneliness mungkin bukan sekadar masalah jumlah hubungan. Bisa jadi masalahnya adalah kedalaman hubungan.

Kita sering mengobati loneliness dengan menambah aktivitas sosial. Lebih banyak nongkrong. Lebih banyak event. Lebih banyak komunitas. Lebih banyak dating apps. Lebih banyak followers. Lebih banyak chat. Semuanya mungkin membantu untuk sementara. Tetapi kalau masalah dasarnya adalah kita tidak memiliki hubungan yang meaningful, menambah jumlah interaksi belum tentu menyelesaikan masalah.

Kita bisa semakin sibuk secara sosial tetapi tetap merasa kosong secara emosional.

Seperti orang yang haus tetapi terus minum air laut.

Ada sesuatu yang perlu diperhatikan juga: kadang-kadang kita sendiri ikut menciptakan jarak yang kemudian kita keluhkan. Kita ingin dikenal, tetapi takut membuka diri. Kita ingin memiliki hubungan yang dalam, tetapi tidak mau menunjukkan kelemahan. Kita ingin seseorang mengerti kita, tetapi kita sendiri tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita ingin orang hadir untuk kita, tetapi kita juga terlalu sibuk untuk hadir bagi orang lain.

Connection membutuhkan reciprocity.

Kita tidak bisa hanya menunggu ditemukan. Kadang kita juga harus berani mencari. Menghubungi teman lama. Bertanya lebih dalam daripada sekadar "Apa kabar?" Menyimpan smartphone ketika seseorang sedang berbicara. Mengingat hal kecil yang pernah diceritakan seseorang. Menawarkan bantuan tanpa menunggu diminta. Mengakui ketika kita salah. Meminta maaf. Mengatakan "saya kangen." Mengatakan "saya sedang butuh teman."

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu terdengar mudah, tetapi bagi banyak orang dewasa justru terasa sangat sulit.

Karena semakin dewasa, kita semakin takut terlihat membutuhkan orang lain.

Kita ingin terlihat independent. Bisa mengurus semuanya sendiri. Tidak merepotkan siapa pun. Tidak menunjukkan kelemahan. Kita bangga mengatakan, "Saya bisa sendiri."

Padahal mungkin salah satu bentuk kedewasaan bukan kemampuan untuk tidak membutuhkan siapa-siapa, tetapi kemampuan untuk mengetahui siapa yang bisa kita percaya ketika kita membutuhkan seseorang.

Ada sesuatu yang juga perlu kita terima: tidak semua hubungan akan bertahan selamanya. Sama seperti topik sebelumnya tentang kapan harus bertahan dan kapan harus pergi, ada hubungan yang memang memiliki musimnya sendiri. Ada teman yang hadir untuk satu fase hidup kita lalu perlahan menjauh. Ada orang yang pernah sangat dekat tetapi kemudian memiliki jalan yang berbeda. Tidak semuanya harus dipaksakan kembali seperti dulu.

Tetapi kehilangan satu hubungan tidak berarti kita harus berhenti membuka diri kepada hubungan yang baru.

Mungkin salah satu kesalahan terbesar ketika kita dewasa adalah menganggap circle yang mengecil sebagai bukti bahwa hidup kita semakin buruk. Padahal bisa jadi itu bagian natural dari kehidupan. Kita mungkin kehilangan kuantitas, tetapi mendapatkan kualitas. Kita mungkin tidak lagi memiliki 20 orang untuk diajak pergi setiap weekend, tetapi memiliki dua atau tiga orang yang bisa kita telepon ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Karena pada akhirnya, kita tidak membutuhkan banyak orang untuk merasa dicintai.

Kita membutuhkan beberapa orang yang membuat kita merasa safe to be ourselves.

Orang yang tidak hanya mengenal pencapaian kita, tetapi juga pergumulan kita. Orang yang tidak hanya datang ketika kita punya sesuatu untuk dirayakan, tetapi juga ketika kita tidak punya apa-apa untuk diberikan. Orang yang bisa mengatakan kebenaran kepada kita ketika kita salah, bukan hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar. Orang yang bisa tertawa bersama kita, tetapi juga mampu duduk bersama kita dalam keheningan.

Dan mungkin ada satu hubungan yang sering kita lupakan ketika membicarakan loneliness: hubungan kita dengan Tuhan.

Ada jenis kekosongan yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan lebih banyak manusia. Karena manusia, sebaik apa pun, tetap manusia. Mereka bisa mengecewakan. Mereka bisa sibuk. Mereka bisa pergi. Mereka bisa tidak memahami kita sepenuhnya. Kita juga tidak bisa menuntut seseorang menjadi seluruh sumber keamanan, makna, dan identitas kita.

Mungkin karena itu, dalam iman Kristen, hubungan dengan Tuhan bukan pengganti hubungan manusia, tetapi fondasi yang membantu kita menjalani hubungan manusia dengan lebih sehat.

Ketika identitas kita tidak sepenuhnya bergantung pada approval orang lain, kita tidak perlu memaksa semua orang menyukai kita. Ketika kita tahu bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh popularitas, kita bisa lebih bebas mengasihi. Ketika kita tidak terus-menerus mencari validasi, kita bisa mulai hadir bagi orang lain tanpa selalu bertanya apa yang akan kita dapatkan kembali.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk kasih yang paling dewasa: hadir bukan karena seseorang membuat kita merasa penting, tetapi karena kita memilih untuk mengasihi.

Tuhan Yesus berkata agar kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Kedengarannya sederhana, tetapi kalau dipikirkan lebih dalam, perintah itu bukan hanya tentang menjadi orang baik. Ia juga berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan manusia di sekitar kita. Mungkin ada seseorang di sekitar kita yang sebenarnya sedang lonely, tetapi tidak pernah mengatakannya. Teman yang selalu terlihat ceria. Rekan kerja yang selalu membantu orang lain. Seseorang yang selalu aktif di social media. Seseorang yang selalu berkata "I'm fine."

Mungkin mereka hanya sedang menunggu seseorang bertanya sekali lagi, dengan sungguh-sungguh:

"Are you really okay?"

Bukan untuk mengorek masalah mereka. Bukan untuk memberikan solusi. Hanya untuk membuat mereka tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar melihat mereka.

Karena mungkin itulah yang paling kita butuhkan sebagai manusia.

Bukan untuk menjadi terkenal.

Bukan untuk memiliki ribuan koneksi.

Bukan untuk selalu dikelilingi banyak orang.

Tetapi untuk merasa bahwa somewhere in this world, there are people with whom we don't have to perform.

Orang-orang yang mengenal kita ketika kita sedang kuat dan ketika kita sedang lemah. Orang-orang yang tahu cerita di balik senyum kita. Orang-orang yang tidak hanya melihat apa yang kita tampilkan, tetapi bersedia mengenal siapa kita sebenarnya.

Jadi mungkin masalah terbesar kita bukan loneliness.

Mungkin masalah terbesar kita adalah disconnection.

Kita terlalu terhubung dengan banyak hal, tetapi terlalu sedikit benar-benar terhubung dengan manusia. Kita terlalu sering terlihat, tetapi terlalu jarang merasa dikenal. Kita terlalu banyak berbicara, tetapi terlalu sedikit benar-benar didengarkan. Kita memiliki begitu banyak contacts, tetapi terlalu sedikit relationships.

Dan mungkin solusinya bukan selalu mencari lebih banyak orang.

Mungkin kita hanya perlu mulai membangun beberapa hubungan yang lebih jujur.

Mulai dengan satu orang.

Letakkan smartphone.

Dengarkan.

Tanyakan sesuatu yang lebih dalam.

Berani mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan.

Hadir ketika orang lain membutuhkan kita.

Dan mungkin, pelan-pelan, kita akan menemukan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk dijalani sendirian.

Karena pada akhirnya, mungkin yang membuat hidup terasa penuh bukan berapa banyak orang yang mengenal nama kita.

Tetapi berapa banyak orang yang benar-benar mengenal hati kita - dan tetap memilih untuk tinggal.