Konten dari Pengguna

Psychological Crisis yang Terjadi Saat ini

suasana masyarakat di kota jakarta , sumber : foto aldridge christian seubelan
zoom-in-whitePerbesar
suasana masyarakat di kota jakarta , sumber : foto aldridge christian seubelan

Dulu pekerjaan mungkin hanya salah satu bagian dari kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan, membangun keluarga, dan mungkin mendapatkan rasa bangga dari apa yang kita kerjakan. Tetapi sekarang, pekerjaan terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menentukan bagaimana kita memperkenalkan diri, bagaimana orang melihat kita, bagaimana kita menilai diri sendiri, bahkan kadang bagaimana kita memahami siapa diri kita. Ketika bertemu seseorang untuk pertama kali, salah satu pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah, "Kamu kerja di mana?" Seolah-olah pekerjaan adalah shortcut untuk menjelaskan siapa seseorang. Dan tanpa sadar, kita mulai melakukan hal yang sama kepada diri sendiri: I work, therefore I am.

Mungkin itu sebabnya kehilangan pekerjaan terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan sumber penghasilan. Yang hilang bukan hanya salary. Ada identity yang ikut terguncang. Ada status yang berubah. Ada rutinitas yang hilang. Ada rasa bahwa kita masih dibutuhkan. Ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul tentang masa depan. Dan ketika pekerjaan sudah terlalu melekat dengan identitas, tekanan di tempat kerja juga tidak lagi terasa seperti tekanan terhadap pekerjaan. Kita bisa merasakannya sebagai tekanan terhadap diri kita sendiri.

Di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar burnout. Kita sering membicarakan burnout sebagai masalah terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak meeting, deadline, atau jam kerja yang panjang. Semua itu nyata. Tetapi ada persoalan yang lebih dalam: apa yang terjadi ketika pekerjaan tidak lagi memberikan hubungan psikologis yang sehat dengan orang yang mengerjakannya?

Gallup dalam laporan State of the Global Workplace 2026 mencatat bahwa employee engagement global hanya berada di sekitar 20% pada 2025, turun untuk tahun kedua berturut-turut. Mayoritas pekerja berada dalam kategori not engaged, sementara sebagian lainnya secara aktif disengaged. Angka tersebut tidak berarti 80% orang membenci pekerjaan mereka. Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang penting: banyak orang hadir di tempat kerja tanpa benar-benar terhubung secara psikologis dengan pekerjaan tersebut.

Dan menurut saya, di situlah kata psychological menjadi penting.

Seseorang bisa datang ke kantor tepat waktu, menyelesaikan pekerjaannya, menghadiri meeting, membalas email, memenuhi target, bahkan terlihat sangat profesional - tetapi secara internal sudah mulai detached. Tidak ada konflik besar. Tidak ada drama. Tidak ada resignation letter. Hanya ada bagian dari dirinya yang perlahan berhenti peduli.

Ini berbeda dengan mengatakan bahwa seseorang malas.

Bahkan orang yang paling rajin pun bisa mengalami kondisi seperti ini. Mereka tetap menyelesaikan pekerjaan karena punya tanggung jawab. Mereka tetap memenuhi target karena profesional. Mereka tetap membantu tim karena tidak ingin mengecewakan orang lain. Tetapi hubungan emosional dengan pekerjaan itu sendiri sudah berubah.

Dulu mereka mungkin bertanya, "Bagaimana saya bisa melakukan ini dengan lebih baik?"

Sekarang mungkin pertanyaannya berubah menjadi, "Apa lagi yang harus saya lakukan supaya hari ini selesai?"

Perubahannya kecil, tetapi sangat besar.

Saya rasa banyak orang dewasa pernah mengalami fase seperti itu. Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi tidak punya ambition. Mereka hanya mulai kehilangan hubungan antara effort dan meaning. Mereka bekerja keras, tetapi tidak lagi tahu untuk apa. Mereka menyelesaikan banyak hal, tetapi tidak merasa bergerak ke mana-mana. Kalender penuh, inbox penuh, meeting penuh, tetapi ketika akhir bulan datang, ada perasaan bahwa satu bulan lagi sudah berlalu tanpa sesuatu yang benar-benar berarti.

Dan semakin lama, pekerjaan mulai terasa seperti treadmill.

Kita terus berlari, tetapi tidak benar-benar berpindah tempat.

Yang membuat kondisi ini semakin kompleks adalah kenyataan bahwa pekerjaan modern tidak lagi benar-benar berhenti ketika kita meninggalkan kantor. Smartphone membuat pekerjaan selalu bisa mengikuti kita. Email masuk malam hari. WhatsApp kantor muncul saat weekend. Notifikasi Teams atau Slack masuk ketika kita sedang makan. Bahkan ketika secara fisik sudah pulang, secara psikologis kita masih berada di kantor.

Dulu batasnya sederhana: keluar dari kantor berarti pulang.

Sekarang kita bisa berada di ruang keluarga tetapi secara mental masih berada di ruang meeting.

Dan mungkin salah satu konsekuensi terbesar dari dunia kerja modern adalah the disappearance of psychological off-switch.

Tubuh kita mungkin berhenti bekerja, tetapi pikiran kita belum tentu.

Kita membawa meeting ke meja makan. Membawa deadline ke tempat tidur. Membawa konflik dengan atasan ke akhir pekan. Membawa kecemasan tentang pekerjaan ke liburan. Bahkan ketika tidak sedang bekerja, kita masih memikirkan pekerjaan.

Yang menarik, teknologi seharusnya membuat pekerjaan lebih mudah. Tetapi kemudahan untuk selalu terhubung juga menciptakan ekspektasi baru: kalau kita bisa dihubungi, mengapa kita tidak merespons?

Pelan-pelan, availability berubah menjadi expectation.

Dan expectation berubah menjadi pressure.

Seseorang tidak perlu secara eksplisit diperintahkan untuk bekerja sampai malam. Cukup dengan melihat bahwa orang lain masih online, ia mulai merasa harus online juga. Tidak ada yang mengatakan bahwa email harus dibalas pukul 10 malam, tetapi ketika atasan mengirim pesan pukul 10 malam, kita merasa perlu menjawab. Tidak ada aturan tertulis bahwa weekend harus digunakan untuk pekerjaan, tetapi kita takut tertinggal jika tidak membuka laptop.

Akhirnya tekanan terbesar tidak selalu datang dari instruksi.

Kadang tekanan datang dari what we think is expected of us.

Dan ini membawa kita kepada masalah yang lebih dalam: work tidak lagi hanya menjadi tempat kita melakukan tugas. Work menjadi tempat kita mencari validation.

Kita ingin dianggap capable.

Kita ingin dianggap reliable.

Kita ingin menjadi orang yang bisa diandalkan.

Kita ingin menjadi orang pertama yang dipanggil ketika ada masalah.

Kita ingin mendapatkan recognition.

Kita ingin atasan percaya kepada kita.

Semua itu sebenarnya manusiawi. Kita memang ingin kontribusi kita dihargai. Masalahnya muncul ketika penghargaan dari pekerjaan menjadi sumber utama harga diri.

Kalau kita mendapatkan pujian, kita merasa valuable.

Kalau pekerjaan kita dikritik, kita merasa gagal sebagai manusia.

Kalau mendapatkan promotion, kita merasa cukup.

Kalau tidak dipromosikan, kita merasa tertinggal.

Kalau project kita berhasil, kita merasa kompeten.

Kalau project gagal, kita mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Di titik itu, pekerjaan berhenti menjadi sesuatu yang kita lakukan.

Ia menjadi sesuatu yang menentukan siapa kita.

Dan itu sangat melelahkan.

Karena tidak ada pekerjaan yang bisa memberikan validation tanpa batas. Selalu ada target baru. Selalu ada orang yang lebih hebat. Selalu ada review berikutnya. Selalu ada quarter berikutnya. Selalu ada promotion cycle berikutnya. Bahkan ketika kita berhasil, keberhasilan itu hanya memberikan kepuasan sementara sebelum standar baru muncul.

Itulah mengapa seseorang bisa mendapatkan promotion lalu beberapa bulan kemudian kembali merasa tidak cukup.

Bukan karena promotion-nya tidak berarti.

Tetapi karena kita meminta pekerjaan untuk menyelesaikan kebutuhan psikologis yang sebenarnya jauh lebih besar daripada pekerjaan itu sendiri.

Kita meminta pekerjaan memberi kita identity.

Meaning.

Belonging.

Recognition.

Security.

Purpose.

Dan ketika pekerjaan gagal memberikan semuanya, kita merasa ada yang salah dengan hidup kita.

Padahal mungkin masalahnya adalah kita menaruh terlalu banyak beban di satu tempat.

Tidak mungkin satu pekerjaan memenuhi seluruh kebutuhan manusia.

Pekerjaan bisa memberikan income. Bisa memberikan purpose. Bisa memberikan kesempatan berkembang. Bisa memberikan community. Tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber semuanya.

Keluarga punya perannya.

Persahabatan punya perannya.

Komunitas punya perannya.

Iman punya perannya.

Hobi punya perannya.

Dan ada bagian dari diri kita yang harus tetap hidup bahkan ketika jabatan kita berubah.

Mungkin karena itu ada satu prinsip sederhana dari ajaran Tuhan Yesus yang menurut saya relevan dengan cara kita melihat work: manusia lebih berharga daripada apa yang ia hasilkan.

Dalam Markus 2:27, Yesus berkata bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat. Konteksnya memang bukan tentang corporate culture, tetapi prinsipnya menarik: aturan dan aktivitas seharusnya melayani manusia, bukan manusia kehilangan dirinya demi memenuhi sistem.

Ketika dibawa ke dunia kerja, kita bisa bertanya: apakah pekerjaan sedang menjadi bagian dari kehidupan yang sehat, atau kehidupan kita sudah sepenuhnya diorganisir untuk melayani pekerjaan?

Karena ada titik ketika productivity berhenti menjadi alat dan mulai menjadi identitas.

Kita tidak lagi beristirahat karena tubuh membutuhkan istirahat.

Kita merasa harus "earn" our rest.

Kita merasa bersalah ketika tidak produktif.

Hari Minggu terasa tidak nyaman karena tidak melakukan apa-apa.

Liburan pun harus diisi itinerary.

Weekend harus terasa meaningful.

Bahkan waktu kosong harus menghasilkan sesuatu.

Dan akhirnya kita hidup dalam kondisi yang aneh: kita beristirahat hanya supaya bisa kembali produktif.

Padahal manusia bukan mesin.

Kita bukan hanya valuable ketika sedang menghasilkan sesuatu.

Ada nilai dalam tidur.

Ada nilai dalam bermain.

Ada nilai dalam berbicara dengan keluarga.

Ada nilai dalam berjalan tanpa tujuan.

Ada nilai dalam duduk diam.

Ada nilai dalam melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan uang.

Mungkin salah satu krisis psikologis dalam dunia kerja modern adalah kita semakin sulit menerima bahwa being is also valuable, not only doing.

Dan ini bukan berarti kita harus menurunkan standar kerja. Justru orang yang sehat secara psikologis mungkin bisa bekerja dengan lebih baik karena ia tidak harus membuktikan nilai dirinya melalui setiap pekerjaan yang dilakukan.

Ia bisa menerima feedback tanpa merasa identitasnya dihancurkan.

Ia bisa gagal tanpa merasa dirinya adalah sebuah kegagalan.

Ia bisa mendapatkan promotion tanpa menjadikan jabatan itu sebagai seluruh identitasnya.

Ia bisa kehilangan pekerjaan tanpa merasa seluruh hidupnya kehilangan makna.

Ada jarak yang sehat antara who I am dan what I do.

Dan mungkin jarak itu semakin penting di dunia kerja hari ini.

Sebab pekerjaan berubah sangat cepat. Industri berubah. Teknologi berubah. AI mengubah cara kita bekerja. Skill yang relevan hari ini bisa menjadi biasa saja beberapa tahun lagi. Struktur organisasi berubah. Jabatan berubah. Bahkan perusahaan yang kita pikir akan menjadi rumah selama 20 tahun bisa melakukan restructuring dalam satu malam.

Kalau seluruh identitas kita dibangun di atas sesuatu yang bisa berubah secepat itu, kita akan hidup dalam kondisi psikologis yang sangat rapuh.

Mungkin karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada job title.

Something that remains when the title disappears.

Nilai.

Karakter.

Relasi.

Iman.

Purpose.

Hal-hal yang tidak otomatis hilang ketika kartu nama kita berubah.

Dan mungkin inilah alasan mengapa banyak orang sekarang mulai memikirkan ulang hubungan mereka dengan work. Bukan karena mereka ingin berhenti bekerja. Tetapi karena mereka ingin kembali memiliki pekerjaan, bukan dimiliki oleh pekerjaan.

Ada perbedaan besar.

Ketika kita memiliki pekerjaan, kita bisa mengatakan, "Ini bagian dari hidup saya."

Ketika pekerjaan memiliki kita, kita mulai mengatakan, "Ini hidup saya."

Dan mungkin psychological crisis itu dimulai ketika kalimat kedua menjadi kenyataan.

Kita mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan antara deadline dan emergency. Antara responsibility dan guilt. Antara ambition dan obsession. Antara commitment dan inability to let go. Antara bekerja keras karena purpose dan bekerja keras karena takut dianggap tidak cukup.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan tentang work bukan lagi sekadar, "Apakah saya suka pekerjaan saya?"

Pertanyaannya bisa jauh lebih dalam:

"Apa yang pekerjaan ini lakukan terhadap saya?"

Apakah saya menjadi lebih matang?

Lebih kompeten?

Lebih berani?

Lebih berguna?

Lebih dekat dengan purpose saya?

Atau saya menjadi lebih sinis, lebih cemas, lebih kosong, dan semakin tidak mengenali diri sendiri?

Tidak semua pekerjaan akan selalu menyenangkan. Bahkan pekerjaan yang kita cintai pun akan memiliki hari-hari buruk. Akan ada deadline, konflik, pressure, dan periode ketika kita lelah. Jadi jawabannya tentu bukan mencari pekerjaan yang selalu membuat kita bahagia.

Mungkin yang lebih penting adalah apakah pekerjaan tersebut, secara keseluruhan, masih membuat kita merasa bahwa tenaga, waktu, dan hidup yang kita berikan memiliki arti.

Karena kita memang bekerja untuk hidup.

Tetapi kita juga harus berhati-hati agar tidak sampai hidup hanya untuk bekerja.

Mungkin work sedang mengalami psychological crisis bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan work ethic.

Mungkin karena manusia mulai menyadari bahwa pekerjaan tidak bisa lagi menjadi jawaban untuk semua kebutuhan psikologis mereka.

Dan ketika seseorang mulai menyadari hal itu, sesuatu yang menarik biasanya terjadi.

Ia tidak selalu resign.

Tidak selalu melawan.

Tidak selalu membuat drama.

Kadang ia hanya mulai berkata:

"I will still do my job. But my job will no longer define my entire life."

Dan mungkin dari sinilah sebuah bentuk perubahan yang jauh lebih sunyi mulai muncul.