Konten dari Pengguna

Kampung Batik Laweyan: Sentra Batik Legendaris Yang Terus Bertransformasi

alexa amanda

alexa amanda

Mahasiswa menempuh S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alexa amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pintu Masuk Kampoeng Batik Laweyan (Alexa Amanda)
zoom-in-whitePerbesar
Pintu Masuk Kampoeng Batik Laweyan (Alexa Amanda)
Peta Wisata Kampung Batik Laweyan (Alexa Amanda)
zoom-in-whitePerbesar
Peta Wisata Kampung Batik Laweyan (Alexa Amanda)

Kampung Batik Laweyan tercatat sebagai pelopor industri batik modern, sekaligus sebagai cagar budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang. Sebagai pusat industri batik rumahan di Solo, daerah ini dipenuhi oleh berbagai toko batik yang berjajar di sepanjang gang. Tetapi Kampung Batik Laweyan sekarang mulai bertransformasi menjadi destinasi wisata yang berpadu antara gaya tradisional dengan gaya kekinian.

Setiap sudut Laweyan memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Di balik gang-gangnya yang sempit, wisatawan bisa merasakan warisan sejarah batik yang masih ada sampai sekarang. Rumah-rumah yang menjulang dengan dinding bata yang tebal dan pintu kayu besar menciptakan nuansa eksklusif, menambah keindahan suasana bersejarah yang menjadi ciri khas Kampung Batik Laweyan.

Menyusuri Kampung Batik Laweyan

Kafe Nextdoor Soc (Alexa Amanda)

Saat memasuki kawasan ini, pengunjung akan langsung disambut dengan sebuah kafe bernama Nextdoor Soc. Bangunan yang bernuansa klasik berpadu dengan tradisional, dan interiornya yang didominasi material kayu ini membuat suasananya terasa sangat homie, sangat cocok untuk sekadar singgah dan ngopi sambil menikmati suasana.

Begitu tiba di depan pintu Nextdoor Soc, wisatawan disuguhkan dengan rangkaian bunga cantik yang bisa jadi spot foto. Sambil menikmati secangkir kopi di kafe ini, wisatawan bisa sambil berburu foto. Tapi, jika ingin foto di spot pintu ikonik Nextdoor Soc, pengunjung memang perlu sedikit bersabar. Karena lokasinya yang berada tepat di pinggir jalan membuat area ini kerap dilalui kendaraan, sehingga pengunnjung harus menunggu momen yang aman dan sepi sebelum menggambil gambar.

Belajar Membatik

Suasana Membatik di Batik Putra Laweyan (Alexa Amanda)

Menariknya, di Nextdoor Soc ini tidak hanya menyuguhkan secangkir kopi, tetapi juga kesan vintage yang dibangun di setiap sudutnya. Kafe ini juga menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda. Saat berkunjung kesini, pengunjung bisa sekaligus belajar membatik, karena Nextdoor Soc bekerja sama dengan Batik Putra Laweyan. Pengunjung bisa mencoba workshop membatik langsung yang dikemas dalam paket bundling dengan kopi sehingga harganya menjadi lebih terjangkau.

Salah satu barista kafe Nextdoor Soc menceritakan pengalamannya bekerja di kafe ini, “Workshop membatik ini menarik perhatian generasi muda dan wisatawan luar kota hingga manca negara yang datang beramai-ramai untuk mencoba merasakan experience baru membatik dengan cating”.

Kata Orang Mengenai Experience Membatik

Melihat dan Belajar Langsung Proses Membatik (Alexa Amanda)

Di area Putra Batik Laweyan, tampak beberapa pengunjung terlihat sibuk mencating. Salah satunya adalah Amrietha (19), mahasiswi dari Semarang yang datang bersama teman-temannnya. “Aku tahu Nextdoor dari TikTok. Awalnya cuma mau main ke Solo, terus lihat tempat ini dan tertarik, karena estetik kayak vintage tapi modern gitu tempatnya” katanya.

Sembari ia mencanting, ia juga bercerita bahwa belajar mencanting ternyata lebih sulit dari yang dibayangkannya. “Ternyata mencanting susah, tadi aja aku sempat kena cipratan malam yang panas gara-gara salah narik garis. Kaget banget, tapi untungnya pengrajin di sini sabar banget ngajarinnya,” ujarnya. Ia melanjutkan, “Untungnya di sini diajarin langsung sama para pengrajin, dan seru banget karena bisa mencanting sambil ngobrol tentang filosofi batik dan teknik-teknik mencanting ini,”

Sejujurnya mendengarkan ceritanya yang sempat terkena cipratan malam panas, sedikit membuatku tertawa tetapi juga merasa kasian. Namun, hal seperti itu memang wajar terjadi dan justru membuat banyak orang baru sadar bahwa membatik tidak sesederhana seperti tutorial singkat di media sosial. Prosesnya benar-benar membutuhkan waktu, fokus, dan ketenangan.

Batik, Kerajinan, dan Jejak Tradisi Laweyan

Belanja Batik di Batik Putra Laweyan (Alexa Amanda)

Selain Nextdoor Soc, terdapat sederet kedai kopi lain yang menjamur di sepanjang gang Kampung Batik Laweyan. Masih sejalan dengan Nextdoor Soc, terdapat toko-toko yang menjual kain batik khas Solo. Sepertinya Laweyan ini sangat cocok dengan para manusia pecinta batik. Karena di sini para pengunjung akan menemukan kain batik tulis yang berkualitas tinggi, batik cap, hingga batik kombinasi yang dibandrol dengan harga bervariasi mulai Rp60.000 hingga Rp300.000.

Batik yang dijual disini mengikuti zaman karena model dan desainnya modern tetapi tetap tidak meninggalkan unsur tradisional. Selain kain batik, beberapa toko juga menjual produk turunan seperti tas dari rajutan, syal yang lucu.

Wisata Kuliner

Setelah lelah berkeliling, pengunjung bisa beristirahat dan bersantai dengan mencicipi kuliner legendaris yang ada di dalam gang di ujung kampung batik ini. Ledre Ibu Sri adalah makanan tradisional khas Solo yang sudah ada sejak tahun 1984.

Ledre merupakan camilan tradisional khas Solo yang terbuat dari ketan yang dicampur dengan kelapa parut, yang dibanderol dengan harga yang merakyat, hanya Rp3500-4500 per bungkus. Rasanya sederhana, manis dan asin yang familiar, cocok dinikmati setelah berkeliling kampung.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernitas

Salah Satu Gang di Kampung Batik Laweyan (Alexa Amanda)

Di tengah perkembangan Kota Solo yang semakin modern, Laweyan tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat batik tradisional dan kini terus bertransformasi menjadi kawasan yang mulai diisi dengan coffeshop dan restoran.

Laweyan buka hanya tempat belanja batik, kampung ini juga menghadirkan pengalaman budaya, kreativitas, dan keseharian warga yang masih terasa hangat dan harmonis. Tidak ada tiket masuk, tidak ada batasan. Pengunjung hanya perlu datang, berjalan-jalan sambil menyusuri gang-gang sempit.

Disarankan untuk berkeliling di Laweyan ini pada pagi atau sore hari, saat matahari tidak terlalu terik. Momen terbaik untuk menikmati suasana sambil berjalan santai menyusuri gang-gangnya. Selain itu, keamahan penduduk setempat membuat pengalaman menjelajah Laweyan menjadi lebih menyenangkan.