Membangun Mimpi Kampus Kelas Dunia Berbiaya Rendah

Dosen Tata Kelola Sumber Daya Alam, IPB University
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Alfian Helmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia perguruan tinggi kita sudah sejak lama menggaungkan “world-class university”, terutama sejak gencarnya pemeringkatan perguruan tinggi dunia oleh beberapa lembaga global, seperti Quacquarelli Symonds (QS) dan Times Higher Education (THE). Namun, untuk menuju world-class university tentu saja tidak murah. Membangun laboratorium berteknologi tinggi, fasilitas riset mutakhir, jejaring riset internasional, merekrut dosen bergelar doktor dari luar negeri, dan membangun kampus dengan infrastruktur canggih tentu saja harus didukung oleh sumber dana yang sangat besar.
Belum lagi, reputasi global dibangun lewat publikasi ilmiah bereputasi tinggi, kolaborasi riset lintas negara, pertukaran akademik, dan partisipasi aktif dalam forum-forum keilmuan internasional—semua ini hampir pasti membutuhkan biaya yang sangat besar.
Pertanyaannya adalah bisakah perguruan tinggi di negara berkembang seperti Indonesia menjadi perguruan tinggi kelas dunia dengan biaya rendah, low cost with high reputation? Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks negara-negara berkembang, khususnya di negara-negara Selatan (Global South), pendanaan menjadi tantangan paling nyata.
Pimpinan perguruan tinggi dituntut menjaga akses pendidikan tinggi tetap terbuka, sementara di sisi lain, standar mutu internasional terus bergerak naik. Lantas, mungkinkah merancang jalan lain: universitas yang efisien, strategis, dan berdampak global—tanpa terperangkap dalam logika biaya besar? Tentu saja jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Semuanya tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan “kelas dunia”, dan strategi apa yang dipilih untuk mencapainya.
Menafsirkan ulang “Kampus Kelas Dunia”
Pertanyaan tersebut membawa kita pada satu refleksi sendiri, bagaimana kita memahami dan mendefinisikan kembali makna ‘kelas dunia’ dalam konteks kita sendiri. Jika yang dimaksud sebagai world-class university adalah meniru struktur dan standar universitas di negara-negara maju—lengkap dengan kampus luas, laboratorium canggih, profesor asing bergaji tinggi, dan peringkat internasional yang diraih lewat belanja riset besar—maka jawabannya mungkin “tidak”.
Sebab model tersebut dibangun di atas pondasi ekonomi dan sejarah yang berbeda jauh dari konteks negara berkembang. Namun, jika kita mendefinisikan universitas kelas dunia sebagai institusi yang berdampak secara global melalui kontribusi akademik berbasis kekuatan lokal, maka jawabannya bisa menjadi “ya”. Bahkan sangat mungkin!
Artinya, jalan menuju kampus kelas dunia tidak harus identik dengan biaya mahal, melainkan harus dibangun di atas strategi yang tepat, fokus keunggulan, efisiensi tata kelola, dan kolaborasi cerdas. Universitas di negara berkembang harus berani menempuh jalan berbeda—tidak hanya mengejar peringkat, tetapi menegaskan peran sebagai pusat produksi pengetahuan yang relevan, kontekstual, dan mampu memengaruhi diskursus global dari perspektif Selatan.
Dalam kerangka ini, perguruan tinggi Indonesia seperti IPB, sudah mulai mengambil strategi yang tepat melalui inisiatif Global South Leadership in Innopreneurship. Strategi ini telah membawa IPB menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di dunia dalam bidang pertanian dan biosains tropika.
Ini adalah pendekatan yang berbeda dari sekadar mengejar label world-class university dalam pengertian konvensional. Alih-alih meniru jejak universitas-universitas dari negara maju, IPB memilih untuk membangun kekuatannya dari konteks lokal, dengan visi menjadi pemimpin akademik dari belahan dunia Selatan.
Dengan kerangka definisi seperti ini, perguruan tinggi kita dapat bermimpi lebih jauh, bukan dengan meniru, tetapi dengan menciptakan model yang tidak sekadar bergantung pada besarnya anggaran, tetapi pada kekuatan gagasan, integritas ilmiah, dan keberpihakan pada transformasi sosial.
Langkah ke Depan
Kita sejatinya tidak sedang ingin meniru kampus kelas dunia, tapi sedang membangun kampus kelas dunia dengan versi terbaik dari kita sendiri. Perguruan tinggi di Indonesia bisa menempuh jalan lain, yakni dengan membangun keunggulan berbasis efisiensi, inovasi, dan kontekstualisasi.
Setidaknya, kedepan, diperlukan strategi diferensiasi dan strategi kolaborasi-ekspansi yang matang. Pertama, strategi diferensiasi, menekankan pentingnya universitas untuk membangun identitas keilmuan yang unik dan bermakna. Perguruan tinggi tidak harus menjadi “serba bisa”, tetapi cukup menjadi “sangat unggul” di bidang-bidang tertentu yang memiliki relevansi tinggi dengan tantangan lokal dan global. Dalam strategi ini, penguatan tata kelola internal, efisiensi anggaran, integrasi tridarma, dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat menjadi kunci. Reputasi dibangun bukan dari seberapa mahal kampus itu, tetapi dari seberapa besar kontribusinya terhadap perubahan nyata.
Sementara itu, strategi kedua, yakni strategi kolaborasi-ekspansi, bertumpu pada kemampuan universitas untuk memperluas jejaring, menjalin kemitraan strategis, dan mengakses sumber daya eksternal. Di era keterbukaan dan konektivitas global, kampus tidak bisa berjalan sendiri. Melalui kolaborasi riset internasional, konsorsium global, pertukaran akademik, hingga program pendanaan kompetitif. Universitas dapat memperkuat posisi globalnya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dana internal. Bahkan dengan keterbatasan anggaran, kampus tetap bisa tampil di panggung dunia jika mampu membangun posisi tawar berbasis keunikan dan nilai tambah.
Kedua strategi ini—diferensiasi & ekspansi—membuka jalan bagi perguruan tinggi di negara berkembang untuk tumbuh menjadi universitas kelas dunia (world class university) dengan cara yang lebih kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam dunia yang semakin saling terhubung namun juga sarat ketimpangan, universitas tidak cukup hanya mengejar prestise, ia harus menjadi agen perubahan (change maker). Maka, menjadi world-class bukan berarti meniru dunia, tetapi menawarkan sesuatu yang dibutuhkan dunia. Dan itu, bisa dimulai dari sini, dari Indonesia, dari apa yang kita miliki hari ini.
