Menikmati Pesona Alam, Merawat Ingatan Gempa di Potrobayan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alfina Nuramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dua puluh tahun berlalu sejak gempa besar mengguncang Bantul. Potrobayan, Srihardono, Kecamatan Pundong, masih menyimpan jejak yang tidak lekang oleh waktu. Wilayah yang dahulu porak poranda itu kini menjelma menjadi ruang yang tenang dan indah, menghadirkan perpaduan antara pesona alam dan ingatan sejarah yang terus dirawat warganya.

Bagi sebagian pengunjung, Potrobayan mungkin terlihat seperti desa agraris yang damai. Namun bagi warga setempat, setiap jengkal tanah mengingatkan mereka pada pagi kelam 27 Mei 2006.
“Di sini dulu reruntuhan semua,” Mas Bagos kenang seorang warga yang sedang memancing di tepian Sungai Opak. “Tapi kami sepakat untuk bangkit, dan alam membantu kami pulih.”
Kesadaran bahwa kampung mereka pernah berada dekat dengan titik pusat gempa membuat warga berupaya menata ulang lingkungan dengan lebih baik. Pemukiman dibangun kembali secara bertahap, sementara jalur menuju sungai dan area terbuka dirawat agar bisa menjadi ruang publik alami bagi siapa pun yang datang. Potensi wisata mulai dikembangkan, menghadirkan pengalaman menikmati alam sekaligus belajar tentang pentingnya mitigasi bencana.
Sejumlah sudut desa kini menjadi ruang perenungan. Bangku-bangku kayu menghadap area terbuka di tepi sungai, sementara sebuah batu monumen peringatan didirikan sebagai penghormatan bagi para korban gempa. Ruang-ruang ini tidak hanya menawarkan ketenangan bagi pengunjung, tetapi juga mengingatkan bahwa alam dapat memberi kehidupan sekaligus ujian.
“Potrobayan itu indah, tapi kami juga ingin orang tahu bahwa kecantikan ini dibangun dari luka yang tidak mudah,” ujar Pak Sutris warga setempat.
Saat senja tiba, cahaya keemasan matahari menyelimuti rerumputan dan aliran Sungai Opak, membuat Potrobayan tampak seperti lukisan hidup. Di sinilah kekuatan sejati desa ini terasa, keindahan yang tumbuh dari keberanian mengingat, bukan melupakan. Sebuah desa yang menjadikan masa lalunya sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan.
Alfina Nuramadhani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
